Gerimis belum benar-benar selesai ketika aroma kopi tubruk dan aspal basah menguasai beranda. Di sana, di balik meja kayu jati yang mulai dimakan usia, seorang lelaki tua bernama Hanif duduk menatap lurus ke jalan raya yang lengang. Tangannya yang bergetar samar memegang sebuah arloji saku perak. Jarum detiknya sudah mati berbulan-bulan lalu, tepat pada pukul empat lewat sepuluh. Namun, bagi Hanif, waktu di rumah itu tidak pernah benar-benar bergerak maju sejak ia memutuskan untuk berhenti menanti.
Lampu jalan di kejauhan bergoyang pelan ditiup angin malam, memantulkan cahaya kuning pucat pada genangan air yang bergetar setiap kali angin berembus kencang. Hanif tahu, sebentar lagi bus terakhir malam ini akan lewat. Selama sepuluh tahun terakhir, bus pukul sembilan malam adalah satu-satunya ritual yang mengikatnya dengan kenyataan dunia luar. Bukan karena ia ingin pergi meninggalkan rumah tua berkulit kusam ini. Ia hanya menyukai suara mesin tua yang menderu hancur di kejauhan, lalu berhenti sejenak di halte seberang rumah, melepas satu atau dua penumpang kesepian, sebelum kembali melesat menembus kegelapan malam yang pekat.
"Kau masih menunggunya, Hanif?" sebuah suara parau memecah keheningan yang sejak sore tadi membeku.
Itu Ratih. Perempuan paruh baya dari sebelah rumah yang selalu datang membawakan talam berisi pisang goreng hangat dan aroma adonan tepung setiap Jumat malam. Ratih tidak pernah mengetuk pintu; ia tahu betul rumah Hanif selalu terbuka, atau lebih tepatnya, sengaja tak pernah dikunci sejak bertahun-tahun yang lalu. Pintu kayu dengan engsel yang berderit itu adalah satu-satunya jalan masuk bagi sebuah kemungkinan yang barangkali tidak akan pernah mewujud kembali.
Hanif tidak menoleh sedikit pun. Jempolnya yang keriput mengusap permukaan kaca arloji yang retak halus, merasakan tekstur tajam yang hampir melukai kulitnya. "Aku tidak menunggu, Ratih. Aku hanya sedang memastikan bahwa jalan di depan rumah ini masih ada, bahwa aspal ini belum digulung oleh waktu."
Ratih menghela napas, sebuah bunyi yang sarat akan permakluman yang melelahkan namun penuh dengan rasa iba yang dipendam dalam-dalam. Ia meletakkan talam di atas meja kayu yang permukaannya mulai mengelupas, lalu duduk di kursi rotan kosong di sebelah Hanif. Kursi itu selalu bersih, tanpa debu, seolah-olah baru saja dilap semenit yang lalu oleh seseorang yang bersiap menyambut tamu agung.
"Bus malam ini mungkin terlambat karena banjir di hulu," kata Ratih lembut, mencoba mengalihkan arah angin percakapan yang selalu berakhir di sudut gelap yang sama. "Tadi sore tukang sayur bilang air sungai sudah meluap sampai ke jembatan tua."
"Ia tidak akan datang dengan bus," bisik Hanif tiba-tiba. Suaranya terdengar begitu lirih, menyerupai gesekan daun-daun kering yang disapu angin musim kemarau. "Dia membenci bau jok kulit imitasi yang lembap. Dia selalu pusing oleh guncangan jalan berlubang di sepanjang jalur lintas kota. Jika dia kembali, Ratih, dia akan berjalan kaki dari ujung persimpangan sana. Menenteng sepatu hak tingginya yang patah, lalu tertawa karena kakinya yang jenjang kotor oleh lumpur jalanan."
Ratih terdiam, menunduk memandangi ujung sandalnya yang basah oleh sisa hujan. Kalimat itu adalah hantu yang sama yang selalu bangkit dari kubur ingatan setiap kali hujan turun di bulan Mei. Hantu seorang perempuan bernama Elena, yang sepuluh tahun lalu melangkah keluar dari pintu beranda ini dengan gaun kuning kunyit yang berkibar lembut, berjanji akan kembali setelah urusannya di kota selesai. Elena tidak pernah kembali, dan kota yang rakus itu tidak pernah mengembalikannya.
Ingatan Hanif sering kali melompat-lompat seperti katak di atas pematang sawah yang basah. Baginya, masa lalu tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu; ia adalah sesuatu yang cair, yang sewaktu-waktu bisa tumpah dan membanjiri lantai rumahnya.
Ia ingat betul hari ketika Elena pertama kali datang ke rumah ini. Waktu itu, Hanif masih seorang lelaki dengan rambut hitam legam dan impian yang terlalu besar untuk ukuran rumah di tepi kota kecil ini. Elena datang membawa tas kanvas besar berisi kuas, cat minyak, dan kain-kain linen yang beraroma minyak tusam. Perempuan itu adalah badai yang menyenangkan, mengubah rumah Hanif yang tadinya sunyi dan kaku menjadi galeri kecil yang penuh warna-warna berani—merah menyala, biru laut yang dalam, dan kuning kunyit yang kelak menjadi warna terakhir yang melekat di mata Hanif.
"Rumah ini terlalu tenang, Hanif," kata Elena suatu sore, sembari menggoreskan warna jingga pada kanvas yang diletakkan di sudut beranda. "Seolah-olah jika aku berteriak, suaraku akan tersimpan di dalam dinding-dinding kayu ini sampai seratus tahun ke depan."
"Lalu, mengapa kau memilih tinggal di sini?" tanya Hanif waktu itu, sembari menyeduh dua cangkir kopi tubruk yang asapnya membubung tipis.
Elena menoleh, tersenyum dengan mata yang selalu tampak menyimpan rahasia besar tentang masa depan. "Karena di sini, waktu berjalan lambat. Di kota, waktu adalah pisau yang selalu memburu tengkukmu. Di sini, aku bisa melihat bagaimana warna hijau daun berubah menjadi kuning, lalu cokelat, tanpa perlu merasa bersalah karena telah melewatkan sesuatu."
Namun, ironisnya, kota pulalah yang akhirnya memanggil Elena kembali. Sebuah pameran besar, seorang kurator ternama, dan janji-janji tentang panggung yang layak bagi bakatnya yang luar biasa. Hanif tidak pernah melarang. Bagaimana mungkin sebutir sauh bisa menahan kapal yang merindukan samudra luas?
Pada hari keberangkatannya, gerimis juga turun dengan cara yang persis sama seperti malam ini. Elena berdiri di beranda ini, membetulkan selendang tipisnya yang tertiup angin.
"Jangan mengunci pintu," kata Elena sebelum melangkah menuju mobil jemputan yang menunggunya di tepi jalan. "Aku tidak suka membuang waktu mengetuk pintu ketika aku pulang dengan tangan penuh membawa kanvas baru."
Hanif mengangguk. Ia tidak tahu bahwa anggukan itu adalah awal dari sebuah kutukan panjang. Mobil itu melaju, menyisakan asap knalpot yang segera buyar disapu hujan, dan sejak detik itu, pintu rumah Hanif tidak pernah lagi mengenal grendel atau kunci besi.
"Makanlah satu, Hanif. Pisang ini masih hangat," suara Ratih membuyarkan lamunan yang sempat membawa Hanif terbang jauh ke masa sepuluh tahun yang lalu.
Hanif memandang talam di atas meja. Pisang goreng itu mengepulkan uap tipis, namun seleranya telah lama menguap bersama malam-malam sepi yang dilewatinya sendirian. "Kau terlalu baik, Ratih. Mengapa kau terus datang ke sini setiap Jumat? Suamimu pasti mencarimu di rumah."
Ratih tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan kepedihan tersendiri yang jarang ia tunjukkan pada orang lain. "Suamiku sudah lama menemukan kedamaiannya di balik tanah pemakaman, Hanif. Kau tahu itu. Dan di rumahku sendiri, sunyi terasa jauh lebih berisik daripada sunyi di berandamu ini. Setidaknya di sini, aku punya seseorang untuk diajak berbagi dingin."
Hanif mengangguk pelan, memahami duka yang mengikat mereka dalam tali yang sama. Mereka adalah dua orang yang ditinggalkan oleh waktu, berdiri di tepian hidup sembari menyaksikan dunia bergerak maju dengan tergesa-gesa di depan mata mereka. Di jalan raya seberang rumah, mobil-mobil pribadi sesekali melesat dengan kecepatan tinggi, lampu-lampunya membentuk garis cahaya panjang yang segera lenyap dalam kegelapan malam. Orang-orang di dalam mobil itu pasti memiliki tempat untuk dituju, seseorang yang menunggu dengan cemas di balik pintu yang hangat. Sementara di beranda ini, yang ada hanyalah penantian yang telah kehilangan objeknya.
Dari kejauhan, sebuah bunyi yang akrab mulai memecah keheningan malam yang pekat. Suara deru mesin diesel tua yang berat, bergetar, dan membelah sunyi dari arah tikungan bukit. Bus pukul sembilan malam yang dinanti akhirnya datang juga.
Hanif seketika menegakkan punggungnya yang semula membungkuk lesu. Otot-otot lehernya menegang. Matanya yang mulai kabur oleh selaput katarak dipicingkan dengan paksa, mencoba menembus tirai gerimis yang jatuh membentuk garis-garis tipis vertikal di bawah pendar lampu jalan. Bus ekonomi berwarna hijau kusam itu melambat, ban-ban besarnya yang gundul mencipratkan air genangan berumpur ke atas trotoar semen. Dengan desis rem angin yang panjang dan nyaring—*cesss*—kendaraan besi tua itu akhirnya berhenti tepat di bawah lampu jalan yang bergoyang pelan ditiup angin malam.
Pintu hidrolik bagian tengah berdecit, terbuka dengan lambat seolah sengaja mempermainkan detak jantung orang-orang yang melihatnya.
Jantung Hanif berpas-pasan dengan sebuah ritme yang aneh, sebuah sensasi mendebarkan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan. Ada sebuah bayangan yang bergerak turun dari tangga bus. Bayangan itu bertubuh ramping, mengenakan mantel panjang yang menjuntai hingga ke lutut, dan kepalanya ditutupi oleh selembar selendang tipis untuk menghalau rintik gerimis yang kian menderu.
Ratih yang duduk di sebelah Hanif seketika ikut menahan napasnya. Tangannya meremas pinggiran daster batiknya dengan erat. Ia memandang wajah Hanif yang tiba-tiba diterangi oleh secercah harapan yang mengerikan, lalu melemparkan pandangannya kembali ke seberang jalan. Untuk sesaat, seluruh dunia seolah-olah benar-benar berhenti berputar. Angin berhenti berembus, gerimis menggantung di udara, dan seluruh semesta menahan diri demi seorang lelaki tua yang membeku di atas kursi rotan di sebuah beranda sunyi.
Perempuan di seberang jalan itu melangkah turun sepenuhnya ke atas trotoar yang basah. Ia berhenti sejenak, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan ragu, lalu tatapannya tertuju lurus pada satu-satunya rumah yang lampu berandanya menyala temaram di sepanjang blok jalan itu—rumah Hanif. Perempuan itu mulai melangkah menyeberangi jalan aspal yang basah dan berkilat lambat, berjalan lurus menuju ke arah beranda tempat mereka berdua duduk.
Tangan Hanif yang sejak tadi memegang arloji saku perak kini bergetar hebat, bahkan arloji itu hampir saja terlepas dari cengkeramannya yang melemah. Apakah ini akhir dari sepuluh tahun musim dingin yang membekukan jiwanya? Apakah takdir akhirnya merasa bosan bermain petak umpet dengan rasa sakitnya?
Namun, ilusi adalah makhluk yang paling kejam dalam urusan mematahkan hati manusia.
Ketika perempuan itu semakin dekat, melangkah melewati batas trotoar dan masuk ke dalam pendar cahaya lampu beranda yang berwarna kuning hangat, Hanif akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Harapan yang sempat membubung tinggi itu seketika runtuh, pecah berantakan menjadi kepingan tak bersuara di lantai beranda.
Perempuan itu memiliki kulit yang terlalu muda, bebas dari kerutan-kerutan halus yang seharusnya dimiliki Elena sekarang. Matanya yang bulat bersinar asing, dipenuhi oleh rasa bingung dan kelelahan, bukan mata sayu penuh kedalaman milik Elena. Dan yang paling meyakinkan Hanif bahwa perempuan ini bukanlah orang yang ia tunggu: tangan kanannya menggenggam sebuah gawai tiruan berlayar sentuh yang menyala terang, menampilkan sebuah aplikasi peta digital dengan garis navigasi berwarna biru.
Ia bukan Elena. Ia sama sekali bukan Elena. Perempuan muda ini hanyalah seorang pelancong asing, seorang pengembara urban yang tersesat di sudut kota kecil ini saat mencari alamat tempat menginap.
"Permisi," kata perempuan muda itu dengan sangat sopan, menghentikan langkahnya tepat di batas undakan beranda. Suaranya terdengar renyah, segar, dan yang paling menyakitkan bagi Hanif, suara itu sama sekali tidak memiliki gema masa lalu yang familier di telinganya. "Maaf mengganggu malam-malam begini. Apakah benar ini Jalan Teratai Nomor 14?"
Hanif terpaku, mulutnya setengah terbuka namun tidak ada satu pun kata yang berhasil keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Seluruh energi di tubuhnya seolah baru saja diisap habis oleh kenyataan yang dingin.
Ratih segera bangkit dari kursi rotannya, barangkali didorong oleh rasa iba yang teramat mendalam melihat tubuh Hanif yang mendadak lemas, atau mungkin ia hanya ingin segera menyudahi ketegangan psikologis yang mencekik udara di beranda itu sejak beberapa menit lalu.
"Bukan, Nak. Kau salah jalan," kata Ratih dengan nada suara ibu yang mengayomi, mencoba tersenyum ramah meski hatinya sendiri ikut berdenyut nyeri. "Ini Jalan Melati. Jalan Teratai masih berada dua blok lagi di depan sana. Dari sini kau jalan lurus saja, lalu ambil arah belok kiri tepat setelah kau melewati sebuah kedai kopi tua yang papan namanya sudah copot. Penginapan yang kau cari ada di sebelah kanan jalan."
Perempuan muda itu mengembuskan napas lega, senyumnya terkembang lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Ah, syukurlah. Terima kasih banyak, Bu, Pak. Maaf sudah mengganggu waktu santai malamnya."
Ia mengangguk hormat, lalu berbalik arah dengan cepat, kembali menembus sisa-sisa gerimis yang mulai menipis ditiup angin malam yang kian dingin. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu bot karet terdengar berkejaran dengan waktu, menjauh dan perlahan lenyap di balik tikungan jalan yang gelap.
Hanif kembali bersandar pada sandaran kursi rotannya yang melengkung. Bahunya merosot sangat dalam, seolah-olah seluruh beban atmosfer bumi dan beratnya awan mendung di langit baru saja diletakkan secara paksa di atas pundaknya yang ringkih. Rumah tua itu kembali ke setelan awalnya: sebuah kotak kayu yang sunyi, dingin, dan dipenuhi oleh pengapnya memori lama.
Ia mengangkat kembali tangan kanannya yang kurus, menatap permukaan arloji saku perak yang masih setia berada di genggamannya. Jarum jamnya tidak bergeser satu milimeter pun. Masih tetap menunjuk pada pukul empat lewat sepuluh—menandai detik yang persis sama ketika Elena melangkah pergi dari hidupnya sepuluh tahun yang lalu.
"Dia tidak akan pernah kembali, kan, Ratih?" tanya Hanif. Kali ini, tidak ada lagi nada penyangkalan dalam suaranya. Tidak ada lagi kiasan puitis atau metafora tentang angin malam dan bus terakhir. Hanya sebuah pertanyaan yang jujur, polos, dan terdengar sangat melelahkan dari seorang anak manusia yang sadar bahwa dirinya telah kalah bertaruh melawan waktu.
Ratih tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata. Ia tahu, di dunia ini, ada beberapa pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, melainkan hanya membutuhkan kehadiran seseorang untuk menemaninya tetap tidak terjawab. Ratih meraih teko seng di atas meja, lalu menuangkan sisa air kopi tubruk yang mulai mendingin ke dalam cangkir keramik milik Hanif. Ia membiarkan kehangatan cair yang tersisa itu menguap perlahan, naik ke udara, lalu hilang begitu saja ditelan malam yang pekat.
Di seberang jalan sana, bus malam pukul sembilan sudah kembali melaju, mengeluarkan suara deru mesin yang berat sebelum akhirnya hilang di balik kegelapan bukit, meninggalkan kepulan asap knalpot tipis dan keheningan yang terasa jauh lebih padat, jauh lebih pekat dari sebelumnya.
Hanif memejamkan matanya yang lelah, meresapi aroma kopi dan sisa hujan yang menempel pada dinding beranda. Ia tahu pasti, esok malam, dan malam-malam berikutnya setelah ini, ia akan tetap berada di sini, duduk di atas kursi rotan yang sama, menatap jalan raya yang sama. Bukan lagi karena ia memelihara harapan palsu tentang kepulangan Elena, melainkan karena di beranda inilah, di antara arloji yang mati dan bus yang lewat, ia merasa masih memiliki sebuah cara yang tersisa untuk mengingat bagaimana rasanya menjadi manusia yang pernah hidup dan mencintai dengan utuh.
End..
jangan lupa like yaa,
komennya juga