Gerimis tipis membasahi kaca jendela kedai kopi sore itu, membungkus kota dalam nuansa abu-abu yang syahdu. Di sudut ruangan, aroma espresso bercampur dengan aroma kertas dari buku-buku tua.
Seorang pria dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam—panggil saja dia Hank—baru saja menutup laptopnya. Ia menghela napas panjang, menikmati ketenangan sejenak sebelum sebuah suara familier memecah lamunannya.
"Kursi ini kosong?"
Hank mendongak. Di sana berdiri seorang wanita berambut sebahu dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Nana," ujar Hank, langsung menarik kursi di hadapannya. "Tentu saja. Duduklah. Aku baru mau memesan kopi kedua."
Nana duduk, meletakkan tas kainnya di meja, lalu menatap rintik hujan di luar. Ada binar melankolis di matanya yang selalu membuat Hank penasaran.
Percakapan di Balik Jendela
"Kamu menyukai hujan sore ini?" tanya Hank membuka obrolan, matanya tak lepas dari wajah Nana.
"Aku suka aromanya," sahut Nana pelan, menopang dagu dengan satu tangan. "Tapi hujan selalu membawa perasaan... seperti ada sesuatu yang hilang, padahal kita tidak tahu apa itu."
Hank tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Mungkin bukan hilang, Na. Mungkin hanya sedang menunggu untuk ditemukan."
"Filsafat kopi sore hari?" goda Nana, melirik Hank dengan senyum kecil yang mulai merekah.
"Hanya mencoba mengimbangi isi kepalamu yang selalu penuh dengan cerita," balas Hank jenaka. "Bagaimana tulisanmu? Sudah selesai?"
Nana menghela napas panjang, lalu menggeleng. "Stuck. Aku sedang kehilangan kata-kata. Rasanya semua kalimat yang kutulis terasa hambar. Tidak ada jiwanya."
"Mau aku bantu mencari jiwanya?"
"Bagaimana caranya?" Nana menaikkan sebelah alisnya, sangsi.
Hank memajukan tubuhnya, melipat kedua tangan di atas meja, menatap Nana lurus-lurus. Tatapannya begitu intens, penuh kehangatan yang mendadak membuat udara dingin di kedai itu menguap.
"Ceritakan padaku tentang bagian yang paling sulit kamu tulis," bisik Hank.
Nana terdiam sesaat. Tatapan Hank selalu punya cara untuk melucuti dinding pertahanannya. Ia merapikan anak rambutnya yang jatuh ke wajah, mencoba menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.
"Bagian... saat dua orang saling mencintai, tapi mereka terlalu takut untuk mengatakannya," kata Nana lirih, suaranya hampir tenggelam di antara denting sendok dan mesin espresso. "Mereka terus berputar-putar dalam ketidakpastian, takut kalau bersuara, semuanya justru akan hancur."
Hank tertegun. Ia merasakan sindiran halus dari kata-kata itu—atau mungkin, itu adalah cerminan dari apa yang mereka jalani selama ini. Persahabatan erat yang menyimpan letup-letup rasa yang tak pernah berani diberi nama.
"Kenapa mereka harus takut?" tanya Hank, suaranya mendalam, menuntut jawaban yang lebih dari sekadar plot cerita.
"Karena kehilangan seseorang sebagai kekasih itu menyakitkan, Hank," jawab Nana, matanya mulai berkaca-kaca, memandang Hank dengan kejujuran yang telanjang. "Tapi kehilangan mereka sepenuhnya dari hidupmu... itu jauh lebih menakutkan."
Kedai kopi itu mendadak sunyi di antara mereka berdua. Hanya ada deru napas dan detak jantung yang berkejaran.
Hank mengulurkan tangannya di atas meja, bergerak perlahan sampai jemarinya menyentuh punggung tangan Nana, lalu menggenggamnya erat. Hangat dan kokoh.
"Bagaimana kalau tokoh prianya memutuskan untuk mengambil risiko?" tanya Hank, suaranya melembut, penuh keyakinan.
Nana menatap tangan mereka yang bertautan, lalu mendongak menatap Hank. "Maksudmu?"
"Bagaimana kalau si pria bilang..." Hank menjeda, menarik napas dalam-dalam seolah mengumpulkan seluruh keberaniannya. "...bahwa dia tidak akan pernah pergi. Bahwa diamnya selama ini bukan karena takut kehilangan, tapi karena dia sedang mencari cara terbaik untuk menjaga wanita itu seumur hidupnya."
Air mata yang sejak tadi ditahan Nana akhirnya jatuh satu tetes, namun senyumnya justru merekah.
"Apakah penonton akan percaya pada akhir yang bahagia seperti itu?" bisik Nana, suaranya bergetar.
Hank tersenyum, ibu jarinya mengusap lembut punggung tangan Nana.
"Kita tidak perlu peduli pada penonton, Na," kata Hank lembut. "Kita hanya perlu menulis akhir cerita kita sendiri. Bersama."
Di luar, gerimis perlahan mereda, menyisakan pelangi tipis di langit senja. Namun di dalam kedai kopi itu, sebuah cerita baru justru baru saja dimulai.