Hujan mulai turun waktu Raka dan tiga temannya sampai di Pos 7 Gunung Salaka. Katanya gunung ini udah ditutup sejak 2018 karena sering ada pendaki hilang. Tapi mereka nekat. Alasannya klasik: konten, gengsi, dan rasa penasaran.
"Pos 7 angker, katanya yang nginap di sini nggak bakal turun utuh," kata Dimas sambil masang tenda.
Raka cuma ketawa. "Itu cuma mitos buat nakut-nakutin anak baru."
Jam 11 malam, angin berhenti. Sunyi. Terlalu sunyi. Bahkan suara jangkrik nggak ada.
Dari luar tenda, terdengar langkah kaki. Seret... seret... seret...
"Siapa tuh?" bisik Sari.
"Angin kali," jawab Andi, tapi suaranya gemetar.
Langkah itu berhenti tepat di depan tenda mereka. Terus ada suara bisik, pelan, kayak dari dalam tanah:
"Kalian bukan yang pertama... dan bukan yang terakhir..."
Raka buka resleting tenda sedikit. Nggak ada siapa-siapa. Cuma kabut tebal dan satu jejak kaki basah yang mengarah ke jurang.
Mereka sepakat tidur. Besok pagi harus summit jam 4 subuh.
Jam 2 pagi, Raka kebangun karena merasa ada yang duduk di dada. Berat. Dingin. Pas dia buka mata, Dimas lagi duduk di atasnya. Matanya kebalik. Mulutnya senyum lebar sampai robek ke telinga.
"Temenin aku turun ya..." katanya, suaranya bukan suara Dimas.
Raka dorong sekuat tenaga. Dimas jatuh ke belakang, tapi bangun lagi kayak nggak ada tulang. Andi dan Sari masih tidur, napasnya teratur, tapi dari hidung mereka keluar kabut hitam.
Raka lari keluar tenda. Hujan deras. Di tengah kabut, dia lihat belasan orang berdiri melingkar. Semua pakai jaket pendaki yang udah lusuh, wajahnya pucat, matanya kosong. Di tengah lingkaran, ada Dimas. Dia cuma menatap Raka, terus kepalanya muter 180 derajat.
"Kamu ketinggalan giliran," kata suara itu lagi. Kali ini dari semua arah.
Raka lari ke arah jalur turun. Tapi semakin lari, Pos 7 nggak pernah jauh. Pohonnya muter. Jalurnya balik lagi ke tenda. Dia sadar, mereka udah nggak di dunia yang sama.
Subuh datang. Tim SAR nemu tenda kosong. Di dalam ada tiga HP yang masih nyala. Video terakhirnya cuma rekaman kabut dan suara bisik:
"𝘗𝘰𝘴 𝟩 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘨𝘢."
Sampai sekarang, Raka nggak pernah ditemukan.
Tapi tiap malam Jumat, warga di desa bilang suka denger suara empat orang ketawa di Pos 7. Ketawanya nggak manusiawi.
Pesan dari saya:
Kalau kamu mendaki Gunung Salaka, jangan pernah jawab kalau ada yang manggil namamu dari kabut.
Karena itu bukan temanmu.