Rin tidak pernah benar-benar percaya pada cinta pandangan pertama.
Atau mungkin bukan tidak percaya, hanya saja selama ini Rin tidak pernah punya waktu untuk memikirkan hal seperti itu. Dunianya sudah terlalu penuh dengan hal-hal yang ia sukai sendiri. Menonton drama Korea dan drama Cina sampai larut malam, menghabiskan akhir pekan dengan film fantasi barat, membaca novel, lalu tenggelam berjam-jam dalam komik online tanpa sadar waktu sudah lewat tengah malam.
Dunia Rin terasa ramai, padahal di dalamnya hanya ada dirinya sendiri.
Di sekolah, Rin dikenal sebagai siswi pintar sekaligus pendiam. Ia bersekolah di SMK jurusan akuntansi, tempat dimana muridnya sibuk memikirkan laporan keuangan, angka, dan praktik kerja lapangan.
Disaat teman-temannya sibuk menjalani cerita cinta masa sekolah mereka, Rin justru tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki mana pun. Sampai-sampai teman-temannya sering bercanda kalau suatu hari nanti Rin mungkin akan menikah dengan kalkulator.
Dan biasanya Rin hanya tertawa kecil menanggapi itu.
Hari itu langit mendung ketika bel pulang sekolah berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar gerbang seperti burung yang baru dilepaskan dari sangkar. Suara motor, obrolan siswa, dan bunyi klakson bercampur jadi satu di depan sekolah.
Rin berjalan sendirian sambil memeluk buku di dadanya. Ia hendak menyebrang jalan, tapi suara motor melaju cukup kencang membuatnya terkejut.
Rin refleks mundur.
Motor itu berhenti mendadak tepat beberapa senti di depannya.
Jantung Rin langsung berdegup tidak karuan.
Pengendara motor itu sedikit membuka helmnya lalu menatap Rin dengan wajah panik.
“Maaf... kamu nggak apa-apa?”
Suaranya rendah dan tenang.
Untuk beberapa detik, Rin hanya diam.
Laki-laki itu memakai seragam yang sama dengannya. Hitam putih. Lencana sekolah yang sama. Namun entah kenapa, Rin merasa baru pertama kali melihat wajah itu.
Matanya teduh.
Tatapannya dingin, tapi tidak menyeramkan.
Dan sebelum Rin sempat menjawab apa pun, laki-laki itu sudah kembali memakai helmnya lalu pergi begitu saja.
Pertemuan singkat yang bahkan tidak sampai satu menit itu anehnya terus tinggal di kepala Rin.
Malamnya, Rin tidak bisa tidur dengan tenang. Wajah laki-laki itu terus muncul di pikirannya tanpa diminta.
Keesokan harinya, untuk pertama kali setelah sekian lama, Rin merasa bersemangat pergi ke sekolah.
Matanya sibuk memperhatikan setiap sudut koridor. Setiap kelas. Setiap murid laki-laki yang lewat.
Sampai akhirnya ia melihatnya.
Dari kelas sebelah.
Sedang duduk dekat jendela sambil membaca buku.
“Oh... ternyata anak sini...” gumam Rin pelan.
Wajar saja selama ini Rin tidak pernah melihatnya. Hampir dua tahun masa sekolah dilakukan secara daring karena pandemi. Semua orang terasa seperti orang asing meski berada di sekolah yang sama.
Namanya Jef.
Rin tahu itu dari temannya. Tentu saja ia tidak langsung bertanya terang-terangan karena tertarik pada Jef. Ia memulai dengan pertanyaan lain yang ujung-ujungnya tetap mengarah pada laki-laki itu.
Sejak hari itu, dunia Rin berubah sedikit demi sedikit.
Sekarang ada satu alasan baru yang membuatnya ingin cepat sampai sekolah.
Jef dikenal pintar dan pendiam. Tidak banyak bicara. Bahkan teman-temannya pun jarang melihatnya bercanda terlalu ramai. Ia lebih sering sendiri, entah membaca buku atau menggambar di buku sketsanya.
Dan justru itu yang membuat Rin semakin penasaran.
Semesta seperti sengaja memberi Rin sedikit kesempatan.
Hari Kamis.
Hari piket.
Rin hampir tersenyum sepanjang malam ketika tahu jadwal piketnya sama dengan Jef.
Petugas piket harus datang lebih pagi sebelum murid lain memenuhi sekolah. Itu berarti lorong sekolah masih sepi dan belum banyak orang berlalu-lalang. Rin bisa melihat Jef lebih lama tanpa takut ketahuan teman-temannya.
Jadwal piket itu dia ketahui secara tidak sengaja.
Pagi itu Rin datang terlalu cepat. Saat ingin meminjam sapu dari kelas sebelah, ia baru sadar bahkan petugas piket kelas itu belum datang.
Ketika Rin hendak berbelok keluar, tiba-tiba Jef sudah berdiri di hadapannya.
“Pinjam aja,” katanya singkat sambil menyerahkan sapu.
Rin langsung gugup setengah mati.
“P-pinjam dulu ya... makasih.”
Suaranya bahkan terdengar tidak jelas karena jantungnya berdetak terlalu kencang.
Ya, kejadian itu yang membuat Rin mengetahui kalo jadwal piket mereka sama.
Itu adalah...
Percakapan pertama mereka.
Pendek sekali.
Tapi cukup membuat Rin diam-diam tersenyum sepanjang hari.
Sejak saat itu, mata Rin selalu mencari keberadaan Jef.
Saat upacara.
Saat apel pagi.
Saat lomba antar kelas.
Saat istirahat.
Di mana pun.
Bukan untuk mengajaknya bicara.
Bukan juga berharap diperhatikan.
Rin hanya ingin melihatnya dari jauh.
Kadang Jef terlihat tertawa kecil bersama temannya.
Kadang fokus menyimak pelajaran.
Kadang berlari menuju kelas karena bel masuk hampir berbunyi.
Dan anehnya, hal-hal kecil seperti itu selalu berhasil membuat hati Rin hangat.
Biasanya Rin bukan tipe murid yang suka cari perhatian. Tapi sekarang setiap ada guru selesai mengajar lalu pindah ke kelas sebelah, Rin selalu cepat menawarkan bantuan.
“Pak, biar saya bantu bawain bukunya.”
Padahal alasan sebenarnya sederhana.
Karena kelas sebelah adalah kelas Jef.
Teman-teman Rin mulai curiga.
“Kamu suka ya sama anak sebelah itu?”
Rin langsung menyangkal sambil salah tingkah.
Namun pipinya yang memerah sudah cukup memberi jawaban.
Waktu berjalan pelan.
Melalui temannya, yang juga satu kelas dengan Jef, akhirnya Rin mendapatkan nomor ponsel Jef.
Butuh hampir dua jam bagi Rin hanya untuk mengetik pesan pertama.
“Halo, ini Rin dari kelas AKL 3. Mau tanya materi ekonomi yang tadi...”
Padahal sebenarnya Rin sudah paham materi itu.
Jef membalas singkat, tapi sopan.
Meski obrolan mereka tidak berlanjut ke hari berikutnya, Rin tetap merasa bahagia hanya karena pesannya dibalas.
Ada juga masa ketika Jef masuk kelas tambahan, dan kebetulan Rin berada di kelas yang sama. Hal yang paling membuat Rin hampir memekik bahagia adalah saat tahu mereka di tempatkan di kelompok belajar bersama. Jadi di kelas tambahan itu, mereka dibagi menjadi beberapa kelompok dimana mereka akan berkelompok dengan murid kelas lainnya.
Sayangnya, kabar dari Adi, anggota dari kelompok yang sama dengannya, yang juga satu kelas dengan Jef bilang kalo Jef mengundurkan diri dari kelas tambahan itu.
Hal itu tentu saja membuat Rin sedih.
Tapi karna kelas tambahan itu, Rin berhasil kenal dengan Adi. Dari Adi, Rin mulai tahu banyak hal tentang Jef.
Jef ternyata suka menggambar.
Bahkan akun media sosialnya dipenuhi hasil gambar buatannya sendiri.
Saat Rin pertama kali melihat hasil gambar Jef, ia terpaku cukup lama.
Bagus sekali.
Detailnya hidup.
Dan untuk pertama kalinya, Rin merasa menemukan seseorang yang benar-benar mirip dengannya.
Karena Rin juga suka menggambar.
Sampai suatu hari ada temannya yang mengatakan sesuatu yang membuat hati Rin perlahan jatuh.
“Kayaknya Jef suka sama Vila deh.”
Rin mencoba tertawa kecil.
“Oh ya?”
“Iya. Yang juara tiga kultum Ramadan itu loh. Pintar banget anaknya.”
Rin tahu siapa yang dimaksud karena ia dan Vila satu kelas.
Vila terkenal cantik, kalem, religius, dan pintar. Banyak orang menganggapnya seperti perempuan sempurna.
Dan saat itu Rin merasa kalah bahkan sebelum mencoba.
Ia mulai membandingkan dirinya sendiri.
Rin tidak sepintar itu soal agama.
Tidak secantik itu.
Tidak juga seanggun itu.
Ia hanya perempuan pendiam yang terlalu takut mengungkapkan perasaannya sendiri.
Sejak saat itu, Rin mulai menjaga jarak.
Namun anehnya, Jef juga berubah.
Entah sejak kapan Jef seperti mulai sadar kalau Rin menyukainya.
Ia mulai menghindar.
Jika melihat Rin di lorong, Jef memilih jalan lain.
Tatapan mereka semakin jarang bertemu.
Dan itu jauh lebih menyakitkan dibanding tidak saling mengenal sama sekali.
Rin pernah melihat Jef buru-buru pulang lebih awal hanya agar tidak bertemu dengannya di parkiran sekolah.
Seolah keberadaan Rin membuatnya tidak nyaman.
Malam itu Rin menangis diam-diam di kamar.
Bukan karena ditolak.
Karena bahkan ia belum pernah menyatakan apa pun.
Setelah itu semuanya berubah begitu cepat.
Nomor Jef tidak lagi aktif.
Story Jef di aplikasi hijau itu juga tidak pernah muncul lagi.
Dan Rin hanya bisa memendam semuanya sendiri.
Waktu terus berjalan.
Kelulusan datang lebih cepat dari yang Rin kira.
Hari terakhir sekolah dipenuhi suara tawa, foto bersama, dan air mata perpisahan.
Namun di tengah keramaian itu, Rin hanya mencari satu orang.
Jef.
Dan ketika akhirnya ia menemukan laki-laki itu, Jef sedang tertawa bahagia bersama teman-temannya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rin.
Hari itu Rin pulang sambil memaksa dirinya ikut bahagia.
Walau sebenarnya hatinya terasa kosong.
Ia pikir setelah lulus semuanya akan selesai.
Perasaannya akan hilang seiring waktu.
Namun ternyata tidak semudah itu.
Tiga tahun berlalu.
Kini Rin menjalani hidup yang biasa saja. Bangun pagi, bekerja, lalu pulang malam dengan tubuh lelah.
Kadang ia menggambar saat sedang senggang.
Kadang mendengarkan lagu yang mengingatkannya pada masa sekolah.
Dan kadang, tanpa alasan yang jelas, ia masih memikirkan Jef.
Tentang bagaimana kalau waktu itu ia lebih berani.
Tentang bagaimana kalau mereka benar-benar sempat dekat.
Tentang bagaimana kalau Jef tidak menghindarinya.
Sesekali Rin masih berharap bisa bertemu dengannya lagi.
Di jalan.
Di toko buku.
Atau mungkin secara tidak sengaja di penyebrangan jalan seperti pertama kali mereka bertemu.
Walau kemungkinan itu terasa hampir mustahil.
Namun jauh di dalam hatinya, Rin tahu satu hal.
Beberapa orang memang hadir sebentar dalam hidup kita.
Tidak tinggal.
Tidak menjadi milik kita.
Tapi meninggalkan jejak yang begitu dalam sampai bertahun-tahun pun tidak cukup untuk melupakannya.
Dan Jef adalah jejak itu bagi Rin.
_TAMAT_
Story by Yiyi