Kamu tahu nggak, hal paling melelahkan di dunia itu bukan kerja 12 jam sehari. Tapi kerja 12 jam buat pura-pura sempurna di depan orang lain.
Kita hidup di zaman yang semua orang upload versi terbaiknya. Feed Instagram rapi, story lucu, caption bijak. Lama-lama kamu lihat itu tiap hari, terus kamu balik lihat diri sendiri yang lagi berantakan, belum mandi, kerjaan numpuk, terus kamu mikir: “Kok gue nggak sebaik mereka?”
Padahal yang kamu bandingin itu highlight reel, bukan real life. Nggak ada orang yang upload dirinya nangis di kamar jam 2 pagi karena ngerasa nggak cukup bagus.
Insecure itu wajar. Itu muncul karena kamu peduli, karena kamu punya standar. Tapi bahayanya kalau kamu biarin insecure itu jadi suara utama di kepala kamu. Suara yang bisik: “Gue nggak cukup pintar, nggak cukup cantik, nggak cukup layak.”
Denger ya, kesempurnaan itu ilusi. Orang yang kelihatan sempurna biasanya lagi capek banget pura-puranya. Yang orang lain kagumi dari kamu bukan karena kamu nggak punya kekurangan. Tapi karena kamu tetap jalan meski punya kekurangan.
Kamu nggak harus sempurna buat dicintai. Kamu nggak harus sempurna buat dianggap berharga. Kamu udah berharga karena kamu ada, titik.
Coba pelan-pelan ganti standar “harus sempurna” jadi “harus jujur”. Jujur sama diri sendiri kalau hari ini belum kuat. Jujur kalau hari ini cuma bisa 60%. Itu lebih baik daripada 0% karena kamu nunggu momen yang sempurna.
Suatu hari nanti kamu bakal sadar, hal yang bikin orang sayang sama kamu itu bukan versi kamu yang paling mulus. Tapi versi kamu yang paling manusiawi. Yang pernah jatuh, tapi milih buat bangun lagi. Yang pernah insecure, tapi tetap berani nunjukin diri apa adanya.
Jadi berhenti kejar kesempurnaan yang nggak ada. Kejar aja versi diri kamu yang sedikit lebih baik dari kemarin. Itu udah cukup. Lebih dari cukup.
Kamu nggak rusak. Kamu lagi proses. Dan proses itu berantakan, nggak fotogenik, tapi indah.
---
Aku tunggu komentarmu di kolom komentar! Jangan lupa klik buah mangganya ya, dan TERUS SENYUM!