Gerimis tipis membasahi kaca jendela Kafe Bumi, tempat yang selalu beraroma paduan kopi arabika dan buku-buku tua. Di sudut dekat jendela, Gibran duduk menatap laptopnya yang menyala, namun fokusnya sudah lama hilang. Pikirannya tertinggal pada sketsa wajah seorang perempuan yang tak sengaja tertinggal di mejanya dua minggu lalu.
Perempuan itu adalah Alika.
Alika adalah seorang ilustrator lepas yang sering menghabiskan sore di kafe yang sama. Mereka tidak pernah saling menyapa, hanya sebatas bertukar senyum tipis saat mata mereka tak sengaja bertemu. Namun, bagi Gibran, senyum itu seperti bab pertama dari buku yang sangat ingin ia baca sampai habis.
"Mas, ini kopi susu pandannya," suara pelayan membuyarkan lamunan Gibran.
"Ah, terima kasih," jawab Gibran. Saat ia hendak meminum kopinya, pintu kafe berdenting. Lonceng kecil di atas pintu menyambut kedatangan seseorang.
Gibran menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Itu Alika. Perempuan itu datang dengan payung transparan yang basah, rambutnya sedikit lepek terkena air hujan, namun matanya tetap berbinar jenaka. Alika mengedarkan pandangan ke seluruh kafe yang sore itu tampak penuh, hingga pandangannya berhenti pada meja Gibran—satu-satunya meja dengan kursi kosong di hadapannya.
Alika melangkah ragu, lalu mendekat. "Hai. Maaf, boleh saya duduk di sini? Tempat lain penuh."
"Oh, ya, silakan. Duduk saja," kata Gibran, berusaha terdengar sepesifik dan seberani mungkin, meski tangannya mendadak dingin.
Alika duduk, meletakkan tas kainnya, dan mengembuskan napas lega. "Terima kasih, ya..."
"Gibran," jawab Gibran cepat, mengulurkan tangan.
"Alika," balasnya sambil tersenyum. Senyum yang sama yang ada di kepala Gibran selama dua minggu terakhir.
Percakapan mengalir lebih mudah dari yang Gibran bayangkan. Berawal dari keluhan tentang cuaca, merembet ke selera musik, hingga akhirnya Gibran memberanikan diri membuka ranselnya. Ia mengeluarkan sebuah buku sketsa kecil dan menyodorkannya ke hadapan Alika.
"Sepertinya ini milikmu. Ketinggalan dua minggu lalu," kata Gibran.
Alika terbelalak. Ia menerima buku itu dengan mata berbinar. "Ya ampun! Aku cari ini kemana-mana. Aku pikir sudah hilang di angkutan umum. Kamu menyimpannya?"
"Aku sengaja datang ke sini setiap hari, berharap kamu datang untuk mencarinya," aku Gibran jujur. Sedikit pertaruhan, tapi ia lelah hanya menjadi penonton batinnya sendiri.
Alika terpaku sejenak, pipinya merona merah muda, senada dengan rajutan sweternya. Ia membuka buku sketsa itu, membolak-baliknya, lalu berhenti di halaman paling belakang yang kosong. Alika mengambil pulpen dari tasnya, lalu dengan lincah jemarinya mulai menari di atas kertas.
Gibran hanya diam memperhatikan, terpesona oleh bagaimana fokus Alika mengubah atmosfer di sekitar mereka. Gerimis di luar seolah menjelma menjadi latar musik yang syahdu.
Beberapa menit kemudian, Alika memutar buku sketsa itu ke hadapan Gibran.
Di atas kertas putih itu, ada gambar sketsa wajah Gibran yang sedang menatap laptop, tampak dari samping, dengan detail yang sangat halus. Di bawah gambar itu, ada tulisan tangan yang rapi:
Untuk Gibran, yang ternyata juga Tertinggal di Kafe Bumimemperhatikanku dari sudut kafe.
Gibran mendongak, menatap mata Alika yang kini melengkung jenaka.
"Aku juga selalu memperhatikanmu, Gibran. Hanya saja, aku lebih pintar menyembunyikannya lewat gambar," bisik Alika sambil tersenyum.
Sore itu, di tengah rintik hujan dan aroma kopi, sebuah cerita baru resmi dimulai. Bukan lagi tentang dua orang asing yang saling diam, melainkan tentang dua hati yang akhirnya menemukan jalan untuk saling menyapa