Keringat dingin membasahi pipi seorang gadis yang termenung diujung kasur usai mendapat mimpi buruk yang terus berulang. Diam, cukup lama hingga suara alarm menyadarkan gadis itu dari lamunan.
Ku rasa itu bukan mimpi, rasanya sangat nyata.
Gadis itu bergumam sambil merutuki diri sendiri. Menangis dalam pelukan hangat selimut tebalnya. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Mengapa dirinya tak bisa melawan?
Sedikit diliriknya layar ponsel itu, 04.18
Sudah pagi, tak ada gunanya menangis. Tak akan ada yang peduli, mari bersiap untuk sekolah. Dihapusnya paksa air mata yang masih mengalir itu, terlalu kasar hingga menimbulkan bekas gesekan.
Dinginnya air menyentuh kulit halus itu, juga angin pagi yang menusuk kulit. Rasanya tidak begitu dingin, justru membangun semangat pada dirinya.
Namun tak lagi, sebab dingin itu semakin menjadi. Bukan karena angin, juga bukan karena air itu. Rasanya ada yang datang, sosok itu lagi. Air mata kembali turun, lebih deras.
Semua rutinitas pagi ia selesaikan dengan cepat, tak peduli lagi siapa yang akan mengantarnya ke sekolah pagi ini. Pergi ia berjalan sendiri. Rasanya semua itu terus saja menghantui kepalanya. Entah sebenarnya itu halusinasi atau tidak? Perasaan diintai itu selalu berulang semenjak ia pindah.
-
Malam itu ia terjaga, berdoa semoga hal yang sama tak lagi menghampiri. Ia hanya ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang kegelapan. Was-was yang terus ada membuat makanpun tak tenang.
Mata mulai terpejam, mimpi mulai memeluk gadis itu seolah rindu. Tenang mulai dirasa, namun sosok itu tak membiarkan dirinya begitu saja. Kembali ia menghantui, mengganggu tidur nyenyaknya. Hal tak pantas mulai dilakukannya. Gadis itu terbangun, namun tak dapat bangkit juga membuka mata, sekalipun ia berusaha keras.
Tangis kecil mulai terdengar, sosok itu mengira si kecil sedang sedih. Dipeluknya juga diciumnya. Sosok itu mengira itu adalah rasa sayang. Namun lain kata gadis itu.
Kotor...
Aku benar-benar kotor...
Entah keberuntungan atau apa, gadis itu mendapat apa yang ia inginkan. Kabur dari tempat menjijikan itu. Mata yang basah itu mulai terbuka, menampakkan sosok yang selama ini menjamah tubuhnya tanpa seizin pemiliknya.
Brengsek.
Kau tak pantas disebut lelaki.
Begitulah seharusnya kamu memperlakukan gadis sepertiku?
Mata mereka beradu, tangis yang ia tahan kini tak lagi terbendung. Meronta-ronta ia sebisa mungkin. Gadis itu tak berucap apapun, hanya menangis dan memberontak.
Sedang sosok itu hanya terdiam menatap si kecilnya menangis terisak di hadapannya.
Tak pantas sekali dirimu disebut manusia. Bahkan binatang pun tak sehina dirimu, lelaki bangsat.