Hujan turun sore itu saat seorang gadis kecil berdiri sendirian di depan kelas sambil memeluk tasnya erat.
Namanya Lilia.
Rambutnya sedikit berantakan karena kehujanan. Sepatunya basah. Dan seperti biasa, beberapa anak di kelas mulai berbisik-bisik sambil tertawa kecil.
“Itu anak pendiam ya?” “Kayaknya aneh deh…”
“Lihat bajunya…”
Lilia menunduk makin dalam.
Ia sudah terbiasa.
Sejak kecil, ia memang sulit berteman. Bukan karena sombong. Ia hanya terlalu takut untuk memulai percakapan.
Saat semua anak sibuk bermain, Lilia memilih duduk sendiri di pojok kelas sambil menggambar bunga kecil di bukunya.
Sampai tiba-tiba....
“Boleh aku duduk di sini?”
Lilia terkejut dan menoleh.
Seorang gadis dengan mata bulat cerah berdiri di depannya sambil tersenyum lebar.
“Aku Arunika!” ucap gadis itu
Tanpa menunggu jawaban Lilia, gadis itu langsung duduk di sebelahnya.
“Kamu suka gambar ya?” tanya Arunika
Lilia gugup.
“I-iya…”
“Bagus banget.” puji Arunika ketika melihat gambar Lilia
Kalimat sederhana itu membuat hati Lilia hangat.
Karena ada seseorang yang berbicara padanya tanpa tatapan aneh.
Sejak hari itu, Arunika selalu ada di samping Lilia.
Arunika cerewet sekali.
Ia bisa membicarakan apa saja: tentang awan yang bentuknya mirip dinosaurus, tentang kucing oren di dekat kantin, sampai tentang cita-citanya ingin punya toko bunga.
Sedangkan Lilia lebih banyak mendengar.
Tapi anehnya, bersama Arunika, diamnya tidak pernah terasa canggung.
Mereka tumbuh bersama seperti dua sisi musim.
Arunika seperti matahari pagi hangat dan ribut.
Sedangkan Lilia seperti hujan sore, tenang dan lembut.
Kalau Arunika marah, Lilia yang menenangkan.
Kalau Lilia menangis, Arunika yang memeluk lebih dulu.
“Kalau nanti kita gede, jangan pisah ya?” kata Arunika pada suatu hari.
Lilia tersenyum kecil.
“Jangan.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka lalu saling mengaitkan kelingking sambil tertawa.
Saat itu mereka pikir persahabatan akan berlangsung selamanya.
.......
Namun manusia sering lupa…
Bahwa waktu bisa mengubah segalanya.
Saat masuk SMA, hidup Arunika mulai berubah.
Ia menjadi populer. Banyak teman. Banyak kegiatan. Banyak orang yang menyukainya.
Sedangkan Lilia tetap sama.
Pendiam. Sederhana. Dan lebih nyaman berada di perpustakaan dibanding keramaian.
Perlahan jarak mulai muncul di antara mereka.
Arunika mulai sering lupa membalas pesan Lilia.
Mulai jarang duduk bersama.
Mulai berkata, “Nanti ya Li, aku sibuk.”
Dan Lilia… tetap menunggu.
Suatu siang di kantin, beberapa teman Arunika mulai menertawakan Lilia diam-diam.
“Serem banget sumpah dia pendiem gitu.”
“Kayak gak punya temen selain Arunika.”
“Bajunya cupu…”
Lilia mendengar semuanya.
Dadanya sesak.
Namun yang paling menyakitkan bukan perkataan mereka.
Melainkan Arunika yang hanya diam.
Tidak membela.
Tidak menyangkal.
Tidak melakukan apa-apa.
Hari itu Lilia pulang sambil menahan tangis sepanjang jalan.
Malamnya Arunika datang ke rumah Lilia.
“Lilia… buka pintunya dong.”
Tak ada jawaban.
“Aku tau kamu marah…” kata Arunika
Pelan-pelan pintu terbuka.
Mata Lilia merah.
“Aku capek, Nika…” ucapnya. Suara itu lirih sekali. “Aku cuma pengen kamu bilang ke mereka kalau aku temanmu.”
Arunika langsung diam.
Lilia tersenyum kecil meski air matanya jatuh.
“Dulu kamu selalu marah jika ada orang yang mengejekku… tapi sekarang.... kamu beda”
Kalimat itu membuat hati Arunika terasa ditusuk.
Karena ia sadar…
Lilia benar.
Setelah malam itu, hubungan mereka tak lagi sama.
Masih bicara.
Masih bersama.
Tapi tidak sehangat dulu.
Seperti ada sesuatu yang retak dan tidak bisa diperbaiki dengan sempurna.
Sampai suatu hari…
Lilia tidak masuk sekolah.
Hari kedua juga tidak.
Hari ketiga, wali kelas masuk dengan wajah muram.
“Anak-anak… Lilia dirawat di rumah sakit.” ucapnya
Dunia Arunika langsung terasa berhenti.
Sepulang sekolah ia bergegas ke rumah sakit tanpa sempat mengganti seragam.
Dan di sanalah ia melihat sahabatnya terbaring pucat dengan selang infus di tangannya.
“Li…”
Lilia tersenyum lemah ketika melihatnya.
“Kamu dateng…”
Arunika langsung menangis.
“Kenapa gak bilang kalau kamu sakit?!”
“Aku gak mau ngerepotin…”
Air mata Arunika jatuh makin deras.
“Bodoh… kamu itu sahabat aku…”
Lilia memandangnya lama.
Lalu tersenyum kecil.
“Tapi aku sempet takut… kamu udah gak nganggep aku lagi.”
Kalimat itu menghancurkan Arunika sepenuhnya.
Ia menggenggam tangan Lilia erat.
“Maafin aku…” Tangisnya pecah.
“Aku terlalu sibuk nyenengin orang lain sampai lupa orang paling penting di hidup aku…”
Lilia tersenyum sambil menahan air mata.
“Gapapa…”
“Enggak, gak gapapa…”
Arunika memeluk sahabatnya dengan hati-hati.
“Aku kangen kita yang dulu…” ucap Arunika
Lilia memejamkan mata pelan.
“Aku juga…”
Sejak hari itu Arunika berubah.
Ia kembali duduk bersama Lilia di perpustakaan.
Kembali mendengar cerita-cerita kecilnya.
Kembali menjadi rumah untuk sahabatnya sendiri.
Dan suatu sore saat matahari mulai tenggelam, mereka duduk bersama di taman rumah Lilia sambil memakan roti hangat.
“Nika?”
“Hm?”
“Kalau nanti kita tua…”
“Iya?”
“Jangan pisah ya.”
Arunika langsung menggenggam tangan sahabatnya erat.
“Kali ini aku bakal jagain janji itu.” ucapnya
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Lilia tersenyum tanpa rasa takut kehilangan lagi.