Hujan turun deras malam itu ketika Arven membaca bab terakhir novel favoritnya, The Crimson Throne.
Ia mengutuk ending-nya sambil menahan kesal.
“Kenapa tokoh wanitanya malah selingkuh dengan pangeran kedua? Padahal suaminya cuma terlalu dingin…”
Kalimat terakhir di layar ponselnya berbunyi:
> “Duchess Elena mati dibunuh suaminya sendiri.”
Petir menyambar.
Lalu gelap.
—
Saat membuka mata, Arven mendapati dirinya berada di kamar mewah dengan langit-langit emas. Tubuhnya terasa ringan. Rambut panjang hitam jatuh di bahunya.
Seorang pelayan menangis di samping tempat tidur.
“Yang Mulia Duchess Elena… syukurlah Anda sadar.”
Arven membeku.
Elena?
Duchess Elena?!
Tokoh wanita bodoh yang berselingkuh dan mati mengenaskan itu?!
Ia langsung berdiri panik dan berlari menuju cermin besar.
Dan benar saja.
Wajah cantik dingin dengan mata merah rubi menatap balik ke arahnya.
“Aku… masuk ke novel?”
Ingatan asli Elena perlahan masuk ke kepalanya.
Pernikahan politik. Suami dingin. Kesepian. Lalu perselingkuhan dengan Pangeran Cassian yang manis dan penuh rayuan.
Dan pada akhirnya…
Suaminya sendiri, Duke Kael, membunuh Elena dengan tangannya sendiri setelah mengetahui pengkhianatan itu.
“Tidak. Aku tidak mau mati.”
Tok tok tok.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Seorang pria tinggi berpakaian hitam masuk dengan aura mengintimidasi. Rambut peraknya basah oleh hujan. Mata emasnya dingin seperti pedang.
Duke Kael.
Tokoh villain utama di novel.
Pria yang membantai setengah kerajaan demi balas dendam pada istrinya.
Kael menatap Elena tanpa emosi.
“Kudengar kau pingsan setelah bertemu Pangeran Cassian.”
Jantung Elena berdegup keras.
Ini belum terlambat.
Di timeline novel, perselingkuhan mereka baru dimulai.
Kael melangkah mendekat perlahan.
“Kalau kau ingin meninggalkanku, katakan langsung.”
Nada suaranya datar.
Tapi matanya…
Mata itu terlihat terluka.
Untuk pertama kalinya, Arven sadar.
Kael bukan monster.
Dia hanya pria yang terlalu mencintai istrinya.
Elena menelan ludah.
Lalu spontan memegang ujung mantel Kael.
“Aku tidak akan pergi.”
Kael terdiam.
Pelayan di belakang langsung membelalak syok.
Karena di novel asli, Elena selalu membenci sentuhan Kael.
Pria itu perlahan menunduk menatap tangannya yang dicengkeram.
“...Apa permainan barumu kali ini?”
“Aku serius.”
Kael tersenyum tipis.
Tapi senyum itu lebih menyeramkan daripada kemarahan.
“Aku sudah memberimu segalanya, Elena.”
Suasana ruangan mendadak terasa dingin.
“Jangan membuatku berharap lagi.”
Deg.
Untuk sesaat, Elena merasa sesak.
Karena di dalam novel…
Kael sebenarnya tahu tentang perselingkuhan istrinya sejak awal.
Namun ia pura-pura tidak tahu hanya agar Elena tetap berada di sisinya.
Dan tiba-tiba—
BRAK!
Pintu terbuka keras.
Seorang pria berambut pirang masuk sambil tersenyum cerah.
Pangeran Cassian.
“Ah, Elena! Aku khawatir padamu.”
Tatapan Kael langsung berubah gelap.
Udara di ruangan terasa mencekam.
Cassian mendekat tanpa takut.
“Apa Duke mengganggumu lagi?”
Di novel asli, inilah awal cinta terlarang mereka.
Namun kali ini berbeda.
Elena berdiri perlahan.
Lalu—
PLAK.
Ia menampar Cassian tepat di depan semua orang.
Ruangan hening total.
Cassian membeku.
Kael bahkan terlihat sedikit terkejut.
Elena menatap tajam sang pangeran.
“Jangan masuk ke kamar wanita menikah sembarangan, Yang Mulia.”
Cassian tertawa kecil tak percaya.
“...Apa?”
“Aku istrinya Duke Kael.”
Elena menggenggam tangan suaminya erat.
“Dan aku tidak tertarik menjadi selingkuhan siapa pun.”
Untuk pertama kalinya…
Mata dingin Kael goyah.
Seolah benteng yang selama ini ia bangun mulai retak sedikit demi sedikit.
Dan Elena baru sadar satu hal mengerikan.
Di balik semua tragedi novel ini…
Bukan Kael villain sebenarnya.
Melainkan Pangeran Cassian.
Karena pria itu tidak hanya menghancurkan rumah tangga Elena—
Dia juga yang akan menjadi penyebab perang besar yang membunuh ribuan orang.
Dan sekarang…
Cassian tersenyum sambil menatap Elena penuh obsesi.
“Aku suka kau yang sekarang.”
Elena merasakan firasat buruk.
Karena mungkin…
Takdir novel ini baru saja berubah total.