Riuh rendah suara orang-orang di aula galeri seni itu perlahan menyublim menjadi sunyi di telinga Aurell. Malam ini adalah pameran tunggal lukisan pertamanya. Semua kurator, kritikus, dan sahabat datang memberikan selamat. Mereka memuji Aurell sebagai seniman muda yang genius, wanita tangguh yang akhirnya berhasil bangkit dan bersinar setelah badai yang menghancurkan hidupnya dua tahun lalu.
Aurell tersenyum, mengangguk, dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Dia memakai gaun terbaiknya, berdiri dengan anggun, memamerkan topeng seorang wanita yang telah sepenuhnya sembuh dari masa lalu.Namun, ketika lampu galeri mulai dipadamkan satu per satu dan para tamu mulai pulang, kaki Aurell melangkah goyah menuju sudut paling belakang pameran. Di sana, sebuah kanvas besar masih tertutup kain beludru hitam. Tidak ada satu pun pengunjung yang boleh melihatnya malam ini.Aurell mengulurkan tangannya yang gemetar, menarik kain penutup itu.Di atas kanvas, siluet seorang pria jangkung sedang berdiri membelakangi hujan, menatap ke arah jendela. Itu Naren. Pria yang dua tahun lalu pergi meninggalkannya selamanya setelah sebuah kecelakaan malam hari yang merenggut napas pria itu di tempat.
Aurell berlutut di lantai galeri yang dingin, menatap lekat-lekat setiap goresan kuas yang membentuk garis wajah Naren. Di sudut bawah kanvas, tertulis sebuah kutipan dari pesan suara terakhir yang ditinggalkan Naren di ponselnya malam itu: "Aurell, jika suatu hari aku tidak bisa menggenggam tanganmu lagi, berjanjilah untuk terus melukis. Hapus air matamu, lupakan aku, dan penuhi duniamu dengan warna baru."
Selama dua tahun ini, Aurell mati-matian mematuhi pesan terakhir itu. Dia mengunci diri di studio, melukis pemandangan abstrak, laut, dan langit cerah. Dia tidak pernah lagi menangis di depan keluarga. Di media sosial, dia menampilkan citra wanita mandiri yang sukses move on. Semua orang tertipu. Mereka mengira Aurell telah berhasil menghapus Naren dari kepalanya.Namun malam ini, di puncak kesuksesannya, dinding kebohongan yang dia bangun dengan susah payah runtuh tanpa sisa.
Aurell menyentuh permukaan kanvas yang kasar, merasakan tekstur cat minyak yang menyerupai garis takdirnya yang patah. Air matanya yang setahun ini dia bendung, runtuh seketika, membasahi pipinya yang dipoles riasan mahal. Menghapus bayangan Naren ternyata seperti mencoba menghapus warna hitam dari malam; mustahil dan menyiksa. Semua lukisan indahnya selama ini hanyalah pelarian. Di setiap warna cerah yang dia goreskan, sebenarnya ada kerinduan yang berdarah-darah pada satu-satunya pria yang menghargai bakatnya sejak awal.
Aurell menangis tertahan, bahunya terguncang hebat di tengah kesunyian galeri yang sunyi."Mereka pikir aku sudah sembuh, Naren," bisik Aurell dengan suara serak yang tenggelam dalam isak tangis. "Mereka pikir pameran ini adalah bukti bahwa aku sudah menang melawan rasa kehilangan. Mereka tidak tahu, semua warna di ruangan ini tidak ada artinya jika bukan matamu yang melihatnya."
Aurell memeluk lututnya, menyandarkan kepalanya pada bingkai lukisan Naren. Dia menyadari satu hal: dia bisa menipu seluruh dunia dengan senyumannya, tetapi dia tidak bisa menipu hatinya sendiri. Dia tidak akan pernah bisa melangkah ke masa depan jika seluruh jiwanya tetap tertinggal di malam kecelakaan itu.Sambil menatap lukisan Naren yang tampak seolah sedang menatapnya balik dengan hangat, Aurell tersenyum getir di sela tangisnya yang pecah.
"Maafkan aku, Naren. Aku sudah mencoba mematuhi perintahmu untuk berpura-pura lupa dan hidup normal. Aku mencoba mewarnai duniaku tanpa dirimu. Tapi malam ini, di depan semua karyaku, aku mengaku kalah pada hatiku sendiri. Maaf... aku gagal melupakanmu. Dan aku tidak ingin melupakanmu lagi."