Bagi semua orang di kampus, aku dan Naura adalah paket lengkap yang tak terpisahkan. Di mana ada Naura, di situ ada aku. Aku adalah orang pertama yang dia cari saat sedih, tempat dia mengeluh tentang dosen killer, dan sahabat yang selalu siap mengantarnya pulang larut malam.
Namun, ada satu rahasia yang kusimpan rapi di balik kedekatan kami: aku mencintainya. Sangat mencintainya. Selama tiga tahun ini, aku memilih diam karena takut kata "cinta" justru akan merusak persahabatan indah ini. Aku cukup puas menjadi pelindung tak terlihatnya, sambil berharap suatu hari nanti dia sadar bahwa akulah pria yang selalu ada untuknya.
Sore itu, Naura mengirim pesan singkat, memintaku datang ke kafe biasa tempat kami nongkrong. Katanya, ada kejutan besar. Sepanjang jalan, jantungku berdegup kencang. Aku bahkan sempat meraba saku jaket, memastikan surat pernyataan cintaku yang sudah kutulis berbulan-bulan lalu masih ada di sana. Hari ini, aku bertekad menyatakan perasaanku.
Saat aku melangkah masuk ke dalam kafe, suasananya terasa berbeda. Lilin-lilin kecil menyala, dan di sudut ruangan, Naura sedang berdiri dengan anggun.
Namun, dia tidak sendiri.
Di hadapannya, seorang pria mapan yang merupakan kakak tingkat kami dulu sedang berlutut sambil membuka sebuah kotak beludru merah berisi cincin berlian yang berkilau.
"Naura, will you marry me?" suara pria itu menggema, didukung sorakan riuh dari teman-teman kos Naura yang tiba-tiba muncul dari balik meja.
Air mata bahagia menetes di pipi Naura. Tanpa ragu, dia mengangguk hebat. "Yes, aku mau!"
Pria itu berdiri, memeluk Naura erat, lalu menyematkan cincin itu di jarinya. Semua orang bertepuk tangan riuh. Di tengah kebahagiaan itu, Naura tidak sengaja melihatku berdiri mematung di dekat pintu. Dia melambaikan tangan dengan wajah berseri-seri, memberi isyarat agar aku mendekat untuk merayakan kabarnya.
Duniaku runtuh seketika. Dadaku terasa sesak seperti dihantam godam besar. Aku tidak bisa bernapas, telingaku berdengung, dan seluruh badanku gemetar hebat. Aku tidak terima. Bagaimana bisa dia sebahagia itu dengan pria lain, sementara aku yang berdarah-darah menjaganya selama bertahun-tahun?
Tanpa membalas lambaiannya, aku berbalik dan berlari sekencang mungkin menembus kegelapan malam. Air mata kemarahan dan sakit hati mengalir deras di pipiku. Rasa kecewa dan penolakan yang tak terucap ini membakar seluruh akal sehatku. Jika aku tidak bisa memilikinya di dunia ini, maka tidak boleh ada satu pun kenangan tentangku yang tersisa untuknya.
Malam itu, kamar kosku terasa sangat dingin dan sunyi. Dengan tangan yang bergetar karena emosi yang meluap-luap, aku mengambil seutas tali nilon yang biasa tergeletak di pojok ruangan. Aku mengikatnya kuat-kuat pada balok kayu langit-langit kamar, lalu menyeret sebuah kursi kayu ke bawahnya.
Aku berdiri di atas kursi, mengalungkan tali itu ke leherku sendiri. Di detik-detik terakhir, aku mengeluarkan surat cinta dari saku jaket, meremasnya erat di genggaman tangan kanan, lalu memejamkan mata. Bayangan senyum bahagia Naura saat dilamar pria lain kembali terlintas, memicu keputusasaan yang tak terbendung.
BRAKK!
Aku menendang kursi kayu itu dengan sisa tenagaku.
Kisah yang kumulai dengan status sebatas teman, kini benar-benar kuakhiri dalam keheningan malam yang mencekam.