Setiap sudut kota malam ini terasa jauh lebih indah dari biasanya. Di dalam mobil, aku dan Keysha tak berhenti bernyanyi mengikuti lagu yang berputar di radio. Tangan kiriku menggenggam erat jemarinya, sementara tangan kananku fokus pada kemudi.
Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup kami. Setelah bertahun-tahun berjuang bersama dari nol, aku baru saja memberikan sebuah kejutan: sebuah cincin perak yang kini melingkar manis di jari manisnya.
"Kamu benar-benar nggak bisa ditebak ya, El," kata Keysha sambil menatap cincinnya dengan mata berkaca-kaca karena bahagia. "Aku kira kita cuma mau makan malam biasa."
"Aku udah janji kan? Begitu tabunganku cukup, kamu orang pertama yang harus tahu kalau aku siap jaga kamu seumur hidupku," jawabku sambil meliriknya sekilas. Keysha tersenyum lebar, senyuman paling tulus yang selalu berhasil menghapus semua rasa lelahku.
Kami mulai larut dalam obrolan seru tentang konsep pernikahan, warna baju yang mau dipakai, hingga daftar lagu yang harus diputar nanti. Masa depan terasa begitu dekat dan nyata di depan mata. Kami merasa menjadi pasangan paling beruntung malam itu.
"Eh, El, berhenti di depan minimarket itu sebentar dong. Aku mau beli minum, haus banget gara-gara kebanyakan ketawa," ucap Keysha sambil menunjuk ke seberang jalan.
Aku memarkirkan mobil di bahu jalan. "Mau aku temenin?"
"Nggak usah, cuma nyebrang sebentar kok. Kamu tunggu di mobil aja," jawabnya manja, lalu mengecup pipiku sekilas sebelum turun dari mobil.
Aku memperhatikannya berjalan menyeberang jalanan yang agak lengang. Di depan pintu minimarket, dia sempat berbalik dan melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lebar.
Aku membalas lambaiannya, merasa hidupku sudah benar-benar sempurna.
Keysha keluar dari minimarket beberapa menit kemudian dengan sekantong plastik di tangannya. Dia melangkah ke tepi jalan, melihat kanan-kiri, lalu mulai menyeberang kembali ke arah mobil.
Tinggal beberapa langkah lagi dia mencapai mobil. Dia menatapku dan tersenyum.
Namun, dari arah tikungan yang gelap, sebuah truk kontainer melaju dengan kecepatan tinggi yang tak terkendali. Lampu utamanya menyorot tajam, tapi semuanya terjadi terlalu cepat. Suara klakson panjang yang memekakkan telinga beradu dengan bunyi decitan rem yang dipaksa berhenti.
BRAAAKKK!
"KEYSHA!!!" teriakku histeris.
Kantong plastik yang dibawanya terlempar ke udara. Tubuh mungil yang beberapa menit lalu memelukku erat, kini terkapar bersimbah darah di atas aspal dingin.
Aku keluar dari mobil dengan seluruh tubuh yang bergetar hebat, merangkak memeluk tubuhnya yang mulai mendingin di bawah lampu jalanan. Tidak ada kata-kata terakhir, tidak ada lambaian tangan lagi. Senyuman di depan minimarket tadi adalah detik terakhir kebahagiaan kami.
Cinta yang baru saja kami susun dengan begitu sempurna di dalam mobil, seketika hancur dan mati di tempat itu juga.