Aku menunggu cukup lama hanya untuk sebuah penolakan? ini gila, aku sangat frustasi. ku tatap setiap lembaran kertas yang berserakan di lantai.
Tidak berguna! aku mencari pemantik api tapi tidak ada. aku berlari ke dapur dengan lembaran kertas di tangan. lalu menyalakan api di kompor.
Segera ku sulut kertas di tangan, api cepat membakar kertas itu. aku tertawa melihatnya perlahan menjadi abu lalu melemparnya ke udara.
"Hahahahaha!" aku mendongak menatap langit-langit, setetes air mengalir begitu saja. gelak tawa perlahan berubah menjadi isakan.
Tubuhku, ambruk membentur dinginnya lantai. aku tertawa keras sambil menangis, aku mungkin sudah gila.
Suara ketukan sepatu di lantai menggema. aku yang menunduk reflek mendongak, sudut bibir ku terangkat.
"Senaka, kamu sudah pulang" ucapku, dengan senyum yang seakan sudah di latih sejak lama.
Pemuda di depan ku itu, segera berjongkok mensejajarkan diri. ia tidak bertanya,
kenapa?
Ada apa?
Melainkan langsung memelukku. "Apa yang kamu bakar, Ra?" suaranya dingin.
"sampah!" jawabku, singkat.
Aku melempaskan pelukan, menatap dalam Senaka yang terlihat bingung.
pyarr
Aku menampar wajahnya, tapi ia tidak marah ataupun bertanya.
"Jangan menatapku seperti itu! aku merasa jijik!"
Aku benci ketika ada orang yang menatap ku penuh iba, rasanya tubuh ku jadi merinding sekaligus menengang.
Senaka meraih tangan ku, mengarahkan ke wajahnya yang mulus. "Maafkan, aku. apa yang kau inginkan sekarang."
"hibur aku!" kata ku, singkat.
Tanpa aba-aba, Senaka langsung mendekatkan wajahnya padaku. ia mencium ku dengan penuh hasrat, aku membalasnya.
Aku mengalungkan tangan ku pada leher tegasnya.
"Hhmptt-Aahh"
Tubuh ku terangkat, Senaka mengendong ku seperti koala. Tubuhku menepel padanya, Senaka membawa ku ke kamar tanpa melepaskan ciumannya.
Nafas ku terengah, begitu ciuman itu terlepas. Sekarang aku jadi lebih tenang dari sebelumnya.
"Naskah ku, kembali di tolak editor."
Mendengar kalimat itu, Senaka tersenyum lalu menarik tubuh ku ke pelukannya.
"Kau sudah bekerja keras. Apa yang kau inginkan sebagai hadiah?"
Aku balas memeluknya, dengan sengaja aku memasukkan tangan ke kaosnya lalu mengelus punggungnya.
Tubuhku terdorong ke tempat tidur, Senaka meraih kedua tangan ku menguncinya dengan satu tangan diatas kepala.
"Jangan menggoda ku, kau nanti akan menyesal." kata Senaka penuh penekanan.
Mendengar itu, aku jadi semakin ingin menggodanya.
chupp
Aku mengecup singkat bibir Senaka yang terasa lembut. Mungkin wanita lain tidak akan seberani aku jika ada di posisi ini tapi Senaka benar-benar pandai menahan diri.
"Apa kau pernah bermain dengan wanita lain, di luar sana?"
"Tidak!"
"Bagaimana bisa kau menahan godaan selama ini."
"Ra, aku ini laki-laki. Jika kau ingin, aku bisa memuaskan mu."
Aku menghela nafas, menyerah. Bukan tidak ingin, hanya saja belum siap.
"Baiklah, sekarang lepaskan aku."
Senaka menurut, aku bangun dari tidur ku. Kita duduk di ranjang dengan menyandarkan diri pada kusen kayu. tubuhku, tenggelam dalam pelukan Senaka.
"Hari ini kamu ga, kuliah?" tanya ku, mencoba mencairkan suasana.
"Sama seperti mu, aku juga butuh hiburan." ucapnya singkat.
Senaka mengambil sebungkus rokok di saku celananya ia meraih sebatang. Aku yang bersandar padanya mulai menyalakan pemantik yang Senaka berikan.
Aku tidak suka asap rokok, tapi jika itu Senaka aku bisa memakluminya.
"Apa enaknya, menghirup asap?" tanya ku penasaran.
Senaka tersenyum geli, ia membuang asap ke samping. Dua jarinya mengampit nikotin, yang ia jauhkan dariku.
"Adek gue, baru aja bangun. Gegara, Lu. kalo Lu mau nidurin si Jhony gue bakal berhenti ngerokok."
Aku memukul dada Senaka membuatnya mengadu sakit. Aku bukannya tidak suka, dengan bahasanya yang tiba-tiba berubah. Aku hanya merasa malu mendengarnya.
Senaka semakin mengeratkan pelukannya, menghabiskan satu putung rokok lalu membuangnya pada asbak yang berada di nakas.
"Aku gabut, enaknya ngapain ya?" Tanyaku, yang ga tahan berada dalam keheningan.
"Ngewe, Ra. Di jamin stress dan gabut lu bakal ilang."
"Otak cowok itu, emang isinya selangkangan mulu?"
"Nggak, semua sih. tapi ya, rata-rata gitu."
"Yaudah, ayok." kataku, penuh semangat.
"Beneran ini? Nggak lagi nge-prank?"
"Iya, ayok. Temenin gue nonton Drachin."
The end