Hutan fana; konseling pertama/kebingungan di tengah kenyataan.
"Selamat datang. Apa kabar, Mas Z-1? Sesuai jadwal, kita mulai konseling hari ini ya, Mas," sapa psikolog padaku.
"Hahaha... Bapak ini pertanyaannya ada-ada saja. Kalau baik, mana ada saya ke sini," jawabku pada pak dokter.
"Hahaha... Saya cuma bercanda. Jadi, apa keluhannya, Mas?"
"Saya jawab pakai cerita aja pak?"
"Boleh-boleh, coba ceritain masalah yang Mas alami. Saya bantu sebisa saya ya, Mas."
"Cerita ini judulnya Hutan Fana..."
~
Dulu ada sebuah persimpangan di tengah hutan. Di sana selalu ada tiga orang yang berpapasan setiap harinya, dan karena pertemuan itu, mereka akhirnya menjadi sahabat yang terbentuk dari waktu.
Tiga orang ini berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Orang pertama adalah seorang pedagang (si saudagar), orang kedua adalah pejabat (si cendekiawan), dan orang ketiga adalah petani (si petani). Mereka selalu bertemu di perempatan di tengah hutan, dan bersumpah menjadi sahabat selamanya.
Setiap kali bertemu, sang saudagar akan memberikan hadiah pada sahabatnya, dan si cendekiawan akan menceritakan kisah epik pada mereka, sedangkan sang petani tidak punya harta untuk memberi hadiah, apalagi pengetahuan untuk menghibur sahabatnya. Walaupun demikian, saudagar dan cendekiawan sangat menghargai sang petani, karena lewat petani mereka bisa merasakan hidangan-hidangan yang berasal dari kebun sang petani.
Kebiasaan tersebut terus berlanjut, sampai pada satu hari yang dipenuhi awan oranye, sahabat yang mereka cintai, Sang Cendekiawan, tidak datang bahkan sampai sore yang membawa awan mendung tiba. Dua sahabat itu pun bertanya-tanya, "Mengapa sahabat mereka, Si Cendekiawan, tidak datang hari ini?" pikir mereka. Sang saudagar pun bertanya pada petani.
"Sahabatku, bukankah engkau tinggal di kota yang sama dengan teman kita yang terpelajar?" tanya saudagar.
"Kamu benar sahabatku, tapi aku hanya orang miskin yang tinggal di pinggir kota. Aku tidak tahu rumah dari sahabat kita yang terpelajar," jawab si petani.
"Kalau seperti itu, maukah kau mendatangi kantor pejabat di daerahmu, dan bertanya tentang sahabat kita yang terpelajar?"
"Tentu, aku akan pergi ke kantor pemerintah untuk bertanya kabar dari sahabat kita yang terpelajar."
Mereka pun berpisah... Setelah kembali ke rumahnya, petani langsung pergi ke kantor pemerintah di kotanya, bertanya tentang kabar dari sahabat yang dia cintai. Namun sayang seribu sayang, berita yang didapat bukanlah hal yang baik. Sahabat yang ia cintai telah tiada...
~
"Ceritanya tragis banget ya mas, apa ini masalahnya, Mas? Mas ini baru ditinggal sama orang terdekat ya?"
"Iya... Tapi bukan itu juga masalahnya, Dok. Ceritanya juga belum selesai."
"Oh, belum selesai ya. Maaf-maaf jadi motong cerita Mas-nya. Ayo lanjut ceritanya lagi, Mas."
"Ah... Ok ta lanjutin nih, Dok."
~
Besoknya petani pun memberi tahu sahabatnya tentang berita buruk tersebut. Sontak sang saudagar menangis, dia benar-benar tidak bisa melepaskan sahabat tercintanya. Isak tangis keduanya sudah seperti suara burung di dalam gua; terus bergema di tengah hutan yang fana.
Si saudagar pun memutuskan untuk pulang, dia sudah tidak sanggup lagi untuk mengingat seberapa kehilangannya mereka atas kematian sahabat tercinta mereka, sang Cendekiawan.
Dalam keheningan di saat saudagar mulai menaiki kereta kuda nya, si petani merasa terasing di tengah persahabatan mereka. Dengan suara yang tipis dan hati yang rapuh, pertani bertanya pada sahabatnya;
"Temanku, apakah kamu akan kembali ke sini lagi besok?" tanya petani.
"Entahlah, tanpa sahabat kita yang terpelajar di sini, rasanya semua telah hilang begitu saja. Tidak akan ada lagi kisah-kisah yang selalu ingin kudengar, tidak ada lagi canda tawa kita bertiga, karena saat ini kita telah kehilangan," ujar saudagar pada sahabatnya.
Pada akhirnya, saudagar pun pergi, meninggalkan si petani sendirian di tengah hutan yang fana.
~
"Ceritanya makin sedih ya, Mas. Kalau boleh tahu, arti cerita ini sebenarnya apa?"
"Huhhhh," suara tarikan napas.
"Ceritanya aja belum selesai, Dok. Mau ta lanjutin?"
"Eh... Belum selesai ya. Maaf-maaf, lanjut aja, Mas."
"Oke, ini bagian terakhirnya juga kok, jadi dokter mohon sabar."
~
Kala pulang ke rumah, si petani menceritakan semuanya pada istrinya. Tentang rasa sedihnya kehilangan sahabat tercinta, dan rasa takut untuk kehilangan sahabat yang lain. Dalam pikirannya penuh dengan pertanyaan, "Apakah sahabatku si pedagang, akan tetap menemui ku?" pikirnya. Sang istri pada akhirnya hanya bisa menenangkan suaminya tersebut dengan kata-kata manis bak gula dari sari jagung.
Keesokan harinya, si petani mendatangi tempat mereka sering bertemu, namun sahabatnya, sang saudagar, tidak datang...
Besoknya dia kembali ke tempat yang sama, namun teman yang dia tunggu masih belum datang...
Hari ketiga, dia masih datang untuk menunggu orang yang selalu ada dalam ingatan. Namun ingatan itu telah sirna...
~
"Tamatttt."
"Kasihan banget si petani," ujar dokter sambil menangis.
"Makasih ya, Dok, mau dengerin cerita saya. Kalau gitu saya undur diri. Ayo lanjut ceritanya di sesi konseling saya selanjutnya."
"Ah... Kalau gitu saya bakal langsung ngasih resep obatnya aja ya, Mas Z-1. Jangan lupa diminum, nanti skizofrenianya kambuh lagi."
---------
Hutan fana; konseling kedua/si kancil dan buaya.
"Tok.. tok..." suara ketukan pintu terdengar.
"Ya, silakan masuk," ujar dokter di dalam.
"Baik, saya masuk ya, Pak," ucapku sembari membuka pintu ruang konseling.
"Ah... Mas Z-1 ternyata. Lama enggak ke sini?"
Benar, sudah lama aku tidak datang ke jadwal konseling. Kehidupanku sudah berubah ya...
"Mas, Mas Z-1," suara dokter memanggilku.
"Maaf, saya akhir-akhir ini banyak pikiran. Boleh langsung saja ke sesi konseling, Pak Dokter?"
"Oh, begitu ya. Ya sudah, kita langsung mulai sesi konselingnya sekarang ya. Mas Z-1 coba ceritain masalah Mas-nya."
"Terima kasih, Dok. Saya bakal ceritain pakai cara yang biasa," ujarku.
"Cerita ini judulnya *Hutan Fana*; si kancil anak nakal..."
~
*♪ Si kancil anak nakal suka mencuri ketimun, ayo lekas dikurung jangan diberi ampun ♪* senandung seekor rusa kecil sembari berjalan menuju sungai.
Setiap hari rusa kecil itu selalu pergi ke sungai untuk minum. Lama-kelamaan, rusa kecil itu merasa bosan dengan kesehariannya yang itu-itu saja.
"Huhhh... Kenapa setiap hari aku hanya pergi ke sungai dan tidak melakukan hal lain? Bosannn," geramnya pada bayangan di cermin air.
Alangkah membosankannya kehidupan rusa kecil itu.
Saat rusa kecil itu sedang menggerutu, seekor buaya tiba-tiba muncul dari bawah air, membuat rusa kecil terkejut dan ketakutan. Namun, buaya itu tidak melakukan apa-apa; dia hanya menyapanya dengan ramah.
"Hei... Rusa kecil, sedang apa kau di tepian sungai?" ujar buaya itu.
"Aku... Aku hanya sedang minum air," jawab rusa kecil sembari ketakutan.
"Ahh, pantas aku seperti pernah melihatmu, rusa kecil. Apa kamu rusa kecil yang selalu datang ke sini setiap pagi?" tanya buaya.
"Ya, itu memang aku."
"Ohhh, apa kamu tidak bosan dengan keseharian seperti itu, rusa kecil?"
"Tentu saja, aku sangat bosan. Setiap hari selalu melakukan hal yang itu-itu saja, membuatku seakan mati rasa," ujar rusa kecil yang terbawa suasana.
"Benarkah? Kalau begitu, mau ikut bersamaku? Daripada hanya bermain di tepian sungai, lebih seru berenang ke tengahnya," ajak buaya.
"Benarkah? Aku benar-benar boleh berenang ke tengah? Tapi... Kata..."
"Ya, tentu saja, kenapa tidak?" ucap buaya menyela perkataan rusa kecil.
Pada akhirnya, rusa kecil hanya bisa terbawa arus. Namun, dia sepertinya menikmati waktu bersama teman barunya itu.
Setelah asyik berenang, pada akhirnya mereka pun berpisah. Rusa kecil harus pergi ke hutan untuk mencari makanan, sedangkan buaya harus naik ke tepian untuk berjemur. Sebelum berpisah, buaya menanyakan nama rusa kecil itu. Rusa kecil yang senang mendapatkan teman baru tentu saja memperkenalkan dirinya.
"Namaku Kancil. Buaya, ayo kita senang-senang lagi besok!" ujarnya dengan riang.
"Tentu, aku akan selalu ada di sungai ini, Kancil," ucap buaya.
~
"Kancil dan buaya berteman, dongeng si kancil. Mas Z-1 lama-lama jadi makin hebat soal bikin cerita. Saya sudah nangkep masalahnya sedikit, tapi ini pasti ceritanya belum selesai. Jadi, silakan lanjut ceritanya aja, Mas."
"Yah, bagus kalau Dokter bisa mengerti cerita absurd saya ini. Kalau begitu, saya lanjutkan ceritanya ya."
~
Sejak hari itu, Kancil dan buaya selalu bermain bersama. Mereka seperti saudara yang sudah terpisah lama. Mereka sangat lengket satu sama lain, sulit dipisahkan, dan selalu ingin bersama.
Persahabatan mereka pada awalnya sangatlah baik. Namun suatu hari, buaya mengajak Kancil ke suatu tempat.
"Hei, Kancil, apa yang akan kau lakukan hari ini?" tanya buaya.
"Tidak tahu, mungkin aku akan ke hutan untuk mencari makanan."
"Benarkah? Kalau begitu, mau tidak ikut aku ke muara? Banyak teman-temanku yang tinggal di situ."
"Benarkah? Kalau begitu aku ikut."
Mereka pun akhirnya berangkat menyusuri sungai untuk sampai ke muara. Dalam perjalanan itu, Kancil sangat antusias karena ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan teman-temannya buaya.
"Buaya, apa yang orang lakukan saat berkumpul bersama teman?"
"Itu... Biasanya kami hanya saling berbincang dan berbagi cerita, begitu saja," jawab buaya.
"Benarkah? Aku sangat ingin mendengar cerita-cerita keren dari kalian juga!" ucapnya dengan antusias.
"Kau... Baiklah, teman-temanku pasti senang karena aku membawamu."
Singkat cerita, mereka sudah terbawa arus begitu jauh, dan akhirnya sampai ke muara, sebuah sarang besar milik para buaya.
~
"Tamat," ucapku.
"Tunggu, bukannya ini belum selesai? Bagaimana dengan nasib si kancil?"
"Bukankah itu tidak penting? Si kancil itu sudah membuat kesalahan sejak awal. Dan akhir baginya sudah tidak penting lagi."
"Begitu ya, saya jadi mengerti. Baik, Mas Z-1, saya bakal langsung kasih diagnosis aja. Habis itu Mas bisa ambil obat kayak biasanya ya."
"Baik, Dok. Terima kasih sudah mau dengerin cerita aneh saya lagi."
"Mas ini bisa aja. Tentu saya bakal senang banget kalau Mas Z-1 mau cerita. Dan cerita Mas bagus kok, itu membuat saya lebih mudah paham perasaan Mas-nya."
"Yah, sampai jumpa di sesi konseling saya selanjutnya ya, Pak. Saya pamit dulu, permisi."
Pintu akhirnya kututup, dan sesi konseling sudah selesai. Kurasa aku akan lebih sering datang ke sini...
*♪ Si kancil anak nakal... ♪*
*♪ suka mencuri ketimun... ♪*
*♪ ayo lekas dikurung, jangan diberi ampun... ♪*