Bab 2
“Mawar yang Mulai Layu”
Langit kerajaan Estharion dipenuhi warna jingga senja.
Kereta hitam milik keluarga Valerian berhenti di depan gerbang utama mansion.
Para pelayan langsung panik saat melihat siapa yang turun dari dalam kereta.
“Lady Liana sudah kembali!”
Namun suasana mereka tidak lagi sama seperti dulu.
Tak ada senyum hangat.
Tak ada tatapan kagum.
Yang ada hanyalah ketakutan.
Karena sejak insiden monster di ibu kota…
Nama “Penyihir Mawar Merah” menyebar ke seluruh kerajaan.
Dan orang-orang mulai percaya satu hal.
Liana Valerian bukan lagi manusia biasa.
---
Liana berjalan melewati lorong mansion dengan tenang.
Gaun hitamnya bergesekan pelan di lantai marmer.
Tatapan para pelayan langsung menunduk saat ia lewat.
Tak ada yang berani menatap matanya terlalu lama.
Sementara itu di ruang kerja—
BRAKK!!
Ayah Liana membanting meja dengan marah.
“Kenapa rumor itu semakin menyebar?!”
Seorang bangsawan menelan ludah gugup.
“Yang Mulia… rakyat mulai memuja Lady Liana.”
“MEMUJA?!”
Wajah pria itu memerah.
“Mereka seharusnya takut!”
“Tapi setelah dia menyelamatkan ibu kota…”
Suasana langsung hening.
Ayah Liana mengepalkan tangan kuat-kuat.
Ia mulai kehilangan kendali.
Dulu ia pikir Liana hanyalah anak lemah yang mudah dibuang kapan saja.
Namun sekarang…
Bahkan keluarga kerajaan mulai berhati-hati padanya.
---
Tok.
Tok.
Pintu ruang kerja terbuka.
Liana masuk tanpa izin.
Seluruh ruangan langsung membeku.
Tatapan merahnya menyapu semua orang.
“Ayah memanggilku?”
Pria itu menahan emosinya.
“Duduk.”
Liana tersenyum kecil.
“Aku lebih suka berdiri.”
Nada bicaranya terdengar sopan.
Namun entah kenapa terasa seperti ancaman.
Ayahnya menarik napas panjang.
“Mulai sekarang kau dilarang menggunakan sihir di depan publik.”
“Oh?”
“Kerajaan mulai mencurigaimu.”
Liana tertawa pelan.
“Mereka takut padaku?”
“Liana!”
“Bukankah itu bagus?”
Mata merahnya menatap lurus ayahnya.
“Orang-orang akhirnya berhenti meremehkanku.”
Pria itu langsung terdiam.
Untuk sesaat…
Ia benar-benar merasa sedang berbicara dengan monster.
---
Malam harinya, hujan turun deras.
Liana berdiri sendirian di balkon kamarnya.
Tempat yang sama.
Tempat ia dibunuh di kehidupan sebelumnya.
Tangannya menyentuh pagar dingin itu perlahan.
“Kalau dipikir-pikir…”
Matanya kosong.
“Aku benar-benar mati di sini.”
Angin malam berhembus pelan.
Dan seperti biasa—
Bisikan mulai terdengar lagi.
“Berikan kami lebih banyak kehancuran…”
“Lebih banyak darah…”
“Lebih banyak kebencian…”
Liana memejamkan mata.
Semakin sering memakai Blood Magic, suara-suara itu semakin jelas.
Kadang ia bahkan sulit membedakan mana pikirannya sendiri.
Namun tiba-tiba—
“Kalau terus seperti itu… kau benar-benar akan hancur.”
Liana membuka mata.
Pria bertopeng Raven berdiri di belakangnya.
“Aku tidak ingat mengundangmu.”
“Aku juga tidak ingat perlu izin.”
Liana mendecakkan lidah pelan.
Pria itu melangkah mendekat.
“Kau terlihat buruk.”
“Aku baik-baik saja.”
“Bohong.”
Tatapan mata pria itu tajam.
“Matamu semakin kosong.”
Liana terdiam.
Biasanya orang hanya takut padanya.
Namun pria ini…
Malah terus memperhatikannya.
---
“Kenapa peduli?” tanya Liana dingin.
Pria Raven tersenyum tipis.
“Mungkin karena aku penasaran.”
“Dengan?”
“Seberapa lama kau bisa bertahan sebelum benar-benar menjadi monster.”
Ucapan itu membuat udara terasa dingin.
Namun Liana hanya tersenyum kecil.
“Kalau aku menjadi monster… bukankah itu lebih menguntungkan untuk organisasimu?”
“Tidak.”
Pria itu menjawab cepat.
“Monster yang kehilangan kendali selalu membosankan.”
Liana sedikit terdiam.
Aneh.
Untuk pertama kalinya setelah kembali ke masa lalu…
Ada seseorang yang berbicara padanya tanpa kebohongan.
Tanpa rasa takut berlebihan.
Tanpa pura-pura baik.
Pria itu menatap hujan di luar balkon.
“Besok keluarga kerajaan akan mengadakan rapat darurat.”
“Aku tahu.”
“Mereka ingin menyingkirkanmu.”
“Tentu saja.”
Liana tersenyum dingin.
“Mereka selalu takut pada sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan.”
---
Keesokan harinya.
Istana kerajaan dipenuhi para bangsawan.
Suasana ruang rapat terasa tegang.
Di ujung ruangan, Raja duduk dengan wajah serius.
“Lady Liana Valerian.”
Liana berdiri tenang di tengah aula.
“Ya, Yang Mulia?”
Seorang bangsawan tua langsung berdiri.
“Kami meminta penjelasan mengenai kekuatan terlarang milikmu!”
“Rakyat mulai resah!”
“Monster-monster itu hancur terlalu mudah!”
“Tidak mungkin itu sihir biasa!”
Suara tuduhan terdengar dari segala arah.
Namun Liana tetap tenang.
Sangat tenang.
Sampai akhirnya—
“Apa kalian selesai?”
Semua langsung diam.
Tatapan merah Liana perlahan menyapu ruangan.
“Aku menyelamatkan kerajaan ini.”
Suaranya terdengar dingin.
“Tapi sekarang kalian mengadiliku?”
Tak ada yang berani menjawab.
Karena mereka tahu.
Tanpa Liana, ibu kota mungkin sudah hancur.
Namun ketakutan tetap lebih besar daripada rasa terima kasih.
---
Seorang bangsawan tiba-tiba menunjuknya.
“Lihat matanya!”
“Itu mata iblis!”
“Ramalan itu benar!”
Suasana mulai kacau.
Mana di udara bergetar.
Dan perlahan—
Mata Liana mulai bersinar merah.
Seluruh ruangan langsung dipenuhi tekanan mengerikan.
CRAAAKK—
Lantai marmer retak.
Para bangsawan langsung pucat.
Beberapa bahkan jatuh terduduk.
“K-Kenapa mana-nya sebesar ini…?!”
Liana tersenyum tipis.
Senyum menyeramkan.
“Kalian takut?”
Bisikan roh mulai terdengar di telinganya lagi.
“Bunuh mereka…”
“Hancurkan semuanya…”
Tangannya perlahan gemetar.
Ia bisa merasakan Blood Magic mencoba mengambil alih.
Sedikit lagi…
Sedikit lagi ia akan kehilangan kendali.
---
Namun tiba-tiba—
BRAKK!!
Pintu aula terbuka.
Ciel masuk dengan napas terengah.
“CUKUP!”
Semua orang menoleh.
Ciel langsung berdiri di depan Liana.
“Jangan gunakan sihirmu di sini.”
Liana menatap punggung pria itu tanpa ekspresi.
“Menarik.”
“Liana…”
“Kenapa kau menghentikanku?”
Ciel menggenggam tangannya perlahan.
Dan untuk sesaat—
Bisikan di kepala Liana berhenti.
Mata merahnya kembali normal.
Ia sedikit membeku.
Sudah lama…
Sangat lama…
Ia tidak merasa setenang ini.
Ciel menatapnya pelan.
“Ayo keluar dari sini.”
---
Mereka berjalan ke taman belakang istana.
Hujan rintik mulai turun pelan.
Liana langsung melepaskan tangannya kasar.
“Jangan sok peduli.”
“Aku serius.”
“Lucu sekali.”
Liana tertawa kecil.
“Orang yang menusukku dulu sekarang ingin menyelamatkanku?”
Tubuh Ciel langsung membeku.
“Apa?”
Liana sadar.
Ia keceplosan.
Namun ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
Ciel menatapnya bingung.
“Tadi maksudmu apa?”
Liana diam beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Tidak ada.”
Namun jantung Ciel berdegup tak nyaman.
Tatapan mata Liana tadi…
Terlalu nyata.
Seolah gadis itu benar-benar pernah mati di tangannya.
---
Sementara itu—
Di dalam ruang bawah tanah istana…
Seorang pria berjubah putih membuka mata perlahan.
Aura sucinya memenuhi ruangan.
“Jadi akhirnya dia bangun juga…”
Seorang ksatria berlutut di depannya.
“Saint Azrael, apakah ramalan itu benar?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Tatapan emasnya menatap keluar jendela.
Ke arah Liana.
“Penyihir Mawar Merah…”
“Pembawa kehancuran kerajaan.”
Namun perlahan senyumnya berubah.
“Atau justru… penyelamatnya.”
---
Di malam yang sama—
Liana kembali mendengar suara penjaga waktu.
“Kau mulai goyah.”
Liana berdiri diam di depan cermin.
“Tidak.”
“Kau takut.”
“Mustahil.”
“Kau takut kalau masih ada bagian dirimu yang belum mati.”
Mata Liana sedikit bergetar.
Ia membenci ucapan itu.
Karena mungkin…
Itu benar.
To Be Continued…