Tahun 1683, di kota Veyr, orang-orang tidak takut pada perang, wabah, atau kelaparan. Mereka takut pada satu hal: seorang pria yang tinggal di menara putih di atas bukit. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Orang-orang memanggilnya
Allmächtig — Yang Mahakuasa.
Bukan karena ia memiliki pasukan. Bukan karena ia seorang raja. Tetapi karena setiap hal yang ia katakan selalu terjadi.
Jika ia berkata hujan akan turun, beberapa jam kemudian langit menghitam. Jika ia berkata panen akan gagal, ladang-ladang mulai membusuk. Jika ia berkata seseorang akan mati, esok paginya nama orang itu muncul di daftar kematian kota.
Awalnya orang-orang menganggapnya orang suci. Lalu utusan langit. Lalu sesuatu yang lebih tinggi dari manusia. Tetapi perlahan rasa hormat berubah menjadi ketakutan.
Karena setelah bertahun-tahun, orang-orang menyadari sesuatu:
Ia tidak pernah salah.
Bahkan sekali.
Di kota itu hidup seorang pemuda bernama Elias. Sejak kecil ia membenci menara putih itu. Bukan karena takut, tetapi karena ibunya pernah berkata sesuatu sebelum meninggal:
"Jika ada seseorang yang mengetahui segalanya, berarti kita tidak pernah benar-benar hidup."
Ibunya meninggal tiga hari setelah Allmächtig berkata:
"Wanita itu tidak akan melihat musim semi berikutnya."
Sejak hari itu Elias menyimpan kebencian yang diam-diam tumbuh di dalam dirinya.
Suatu malam ia memutuskan naik ke menara. Ia membawa sebilah pisau di balik jubahnya. Ratusan anak tangga batu dilewatinya hingga sampai di ruangan paling atas.
Yang ia lihat membuat langkahnya berhenti.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada emas.
Tidak ada ruangan megah.
Hanya seorang pria tua kurus yang duduk di dekat jendela sambil menatap langit malam.
"Kau datang," katanya pelan.
Tubuh Elias menegang.
"Kau tahu aku akan datang?"
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Tentu."
Elias menggenggam pisaunya.
"Kalau kau tahu segalanya, berarti kau juga tahu aku datang untuk membunuhmu."
Pria tua itu tidak terlihat takut.
"Aku tahu."
Sunyi.
Angin dingin masuk melalui jendela.
Elias menatapnya dengan marah.
"Kenapa kau melakukan semua ini?"
"Melakukan apa?"
"Memainkan hidup orang-orang."
Pria tua itu menatap Elias lama, lalu tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Tawa yang terdengar lelah.
"Kalian selalu berpikir aku penyebabnya."
Ia berjalan pelan menuju sudut ruangan lalu menarik kain hitam yang menutupi sesuatu.
Di belakangnya terdapat ribuan lembar kertas yang tersusun dari lantai hingga langit-langit.
Nama.
Tanggal.
Kelahiran.
Kematian.
Perang.
Kelaparan.
Semuanya.
Elias menatap tanpa berkedip.
"Apa ini?"
Pria tua itu memandangnya.
"Aku tidak menulis semua itu."
Napas Elias tertahan.
"Kalau begitu siapa?"
Pria itu diam beberapa saat.
Matanya terlihat kosong.
Sangat kosong.
Lalu ia berkata pelan:
"Aku menghabiskan lima puluh tahun mencoba mencari tahu."
Elias tidak berkata apa-apa.
Pria tua itu menatap langit di luar jendela.
"Tetapi aku tidak pernah menemukan siapa penulisnya."
Tubuh Elias terasa dingin.
Ia mulai memahami sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.
Selama ini ia membenci seseorang yang dianggap memiliki semua jawaban.
Padahal pria itu selama puluhan tahun melakukan hal yang sama seperti semua manusia:
Mencari. Menebak. Berharap.
Lalu Elias bertanya dengan suara pelan:
"Kalau begitu... siapa yang mengendalikan semuanya?"
Pria tua itu menatapnya.
Lama sekali.
Lalu tersenyum tipis.
"Pertanyaan itu," katanya pelan, "adalah alasan aku berhenti tidur tiga puluh tahun lalu."