Di tepi hutan yang hijau, ada sebuah pohon besar tempat keluarga burung pipit tinggal. Di sana hidup seekor burung kecil bernama Cici.
Cici memiliki bulu cokelat muda dan suara yang merdu. Namun, Cici memiliki satu masalah. Ia sangat takut terbang tinggi.
Setiap pagi, kakak kakaknya terbang mengelilingi hutan mencari makanan bersama ibu mereka. Sementara itu, Cici hanya duduk di sarang sambil melihat ke bawah.
“Ayo Cici, kau pasti bisa,” kata ibunya dengan lembut.
Tetapi Cici menggeleng cepat.
“Aku takut jatuh, Bu.”
Hari demi hari berlalu. Cici tetap tidak berani mencoba.
Suatu sore, datang seekor kupu kupu cantik berwarna biru. Kupu kupu itu terbang mengelilingi pohon sambil menari di udara.
“Wah, indah sekali,” kata Cici kagum.
Kupu kupu itu tersenyum.
“Kenapa kau hanya diam di sarang?”
“Aku takut terbang.”
Kupu kupu biru lalu berkata,
“Semua makhluk pasti pernah takut. Tapi kalau tidak mencoba, kita tidak akan tahu kemampuan kita.”
Cici mulai berpikir.
Keesokan paginya, ia memberanikan diri berdiri di tepi sarang. Kakinya gemetar melihat tanah yang jauh di bawah.
Ibunya mendekat dan berkata pelan,
“Ibu akan selalu ada di dekatmu.”
Cici menarik napas panjang.
Lalu perlahan, ia mengepakkan sayap kecilnya.
Satu kali.
Dua kali.
Tiba tiba tubuhnya terangkat ke udara.
“Aku terbang!” teriak Cici senang.
Awalnya ia masih goyah, tetapi lama lama ia mulai terbiasa. Ia terbang mengelilingi pohon sambil tertawa bahagia.
Semua burung di sana ikut bersorak.
Sejak hari itu, Cici tidak lagi takut mencoba hal baru. Ia menjadi burung kecil yang berani dan ceria.
Kesimpulan:
Rasa takut adalah hal yang wajar, tetapi kita harus berani mencoba. Dengan latihan dan keberanian, kita bisa melakukan hal yang sebelumnya terasa sulit.