Di sebuah desa yang tenang, hiduplah seekor kelinci kecil bernama Mimo. Bulunya putih lembut dan telinganya panjang. Mimo tinggal bersama ibunya di dekat bukit hijau yang penuh bunga warna warni.
Setiap pagi, Mimo selalu bermain di padang rumput sambil melompat ke sana kemari. Ia sangat suka wortel dan apel manis. Namun, Mimo memiliki satu sifat buruk. Ia sering malas membantu ibunya.
Suatu hari, ibu Mimo berkata,
“Mimo, tolong bantu ibu menyiram tanaman di kebun ya.”
Mimo menggeleng pelan.
“Nanti saja, Bu. Mimo mau bermain dulu.”
Ibu Mimo hanya tersenyum kecil.
Mimo lalu berlari menuju sungai kecil tempat teman temannya bermain. Ada Kiko si tupai, Lala si anak rusa, dan Pipi si burung kecil.
Mereka bermain petak umpet hingga sore hari. Saat matahari mulai turun, Mimo pulang dengan wajah gembira.
Namun ketika sampai di rumah, ia melihat ibunya tampak kelelahan. Kebun mereka juga terlihat kering karena belum disiram.
Mimo merasa sedikit bersalah, tetapi ia tetap diam.
Keesokan harinya, ibu Mimo kembali meminta bantuan.
“Mimo, bisakah kau membantu ibu memetik apel di belakang rumah?”
“Aduh Bu, Mimo mau bermain layang layang bersama teman teman.”
Mimo kembali pergi tanpa membantu.
Hari demi hari berlalu seperti itu.
Sampai suatu pagi, hujan turun sangat deras disertai angin kencang. Pohon apel di belakang rumah roboh karena tanahnya lembek dan akarnya tidak kuat.
Ibu Mimo terlihat sedih.
“Itu satu satunya pohon apel yang kita punya,” ucap ibunya pelan.
Melihat itu, hati Mimo terasa tidak enak. Ia teringat bagaimana ibunya selalu bekerja sendirian sementara ia hanya bermain.
Mimo akhirnya berkata,
“Maafkan Mimo, Bu. Mimo terlalu malas membantu.”
Ibunya tersenyum lembut.
“Tidak apa apa. Yang penting sekarang Mimo mau belajar.”
Sejak hari itu, Mimo berubah menjadi anak kelinci yang rajin. Ia membantu menyiram tanaman, membersihkan halaman, dan menanam bibit pohon apel baru bersama ibunya.
Beberapa bulan kemudian, pohon apel kecil itu mulai tumbuh subur. Buahnya merah dan manis sekali.
Mimo sangat bahagia. Ia sadar bahwa membantu orang tua ternyata menyenangkan.
Kesimpulan:
Kita harus rajin membantu orang tua dan tidak boleh malas. Bermain memang menyenangkan, tetapi membantu keluarga adalah hal yang baik dan membuat hati menjadi bahagia.