Langit pagi masih pucat ketika Rachel dan lima temannya mulai mendaki Gunung Arunika. Udara dingin menusuk sampai ke tulang, tapi semuanya tetap berisik penuh semangat.
“Kalau nanti aku pingsan, jangan tinggalin aku ya,” celetuk Rachel sambil tertawa kecil.
“Tenang aja. Yang paling mungkin nyasar malah kamu,” balas Keano.
“Eh! Jahat banget.”
Mereka tertawa bersama. Sepanjang perjalanan Rachel sibuk memotret bunga liar, kabut tipis, dan langit biru yang terlihat cantik dari sela pohon pinus.
Gunung itu indah sekali. Terlalu indah malah.
Sampai tanpa sadar… Rachel tertinggal.
Awalnya dia cuma berhenti sebentar untuk memotret kupu-kupu putih yang hinggap di batu besar. Tapi saat selesai dan menoleh—
Teman-temannya sudah tidak ada.
“Keano?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
“Hana?”
Sunyi.
Hanya suara angin dan daun-daun yang bergesekan.
Jantung Rachel mulai berdebar cepat. Ia mencoba berjalan menyusuri jalur tadi, tapi malah semakin masuk ke area hutan yang asing. Kabut mulai turun perlahan.
“Ya Tuhan…”
Rachel mulai panik.
Langkahnya makin cepat sampai tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon dan tubuhnya jatuh terduduk.
“Aduh…”
“Kalau jalan jangan buru-buru.”
Rachel langsung menoleh kaget.
Di balik kabut tipis berdiri seorang laki-laki tinggi memakai jaket hitam lusuh. Rambutnya sedikit panjang tertiup angin. Wajahnya… terlalu tampan untuk muncul tiba-tiba di tengah hutan.
Rachel spontan mundur sedikit.
“K-kamu siapa?”
Laki-laki itu tersenyum tipis.
“Sadewa.”.
“Kamu… pendaki juga?”
Sadewa diam sebentar sebelum menjawab pelan.
“Bisa dibilang begitu.”
Entah kenapa jawaban itu membuat Rachel merinding.
“Tolong… aku nyasar.”
“Aku tahu.”
“Hah?”
“Tadi teman-temanmu lewat jalur atas. Kamu terlalu jauh masuk ke sini.”
Rachel menatapnya curiga, tapi di sisi lain dia juga takut sendirian.
“Kalau gitu… bisa antar aku balik?”
Sadewa mengangguk pelan.
“Bisa.”
Mereka berjalan bersama melewati jalan kecil di tengah hutan. Aneh sekali… Sadewa hafal semua jalur. Bahkan saat kabut semakin tebal, langkahnya tidak pernah ragu.
Rachel diam-diam memperhatikan laki-laki itu.
Wajahnya dingin, tapi sorot matanya lembut.
“Kamu sering naik gunung?” tanya Rachel mencoba mencairkan suasana.
Sadewa tersenyum kecil.
“Aku selalu di sini.”
“Di sini?”
“Iya.”
Jawabannya lagi-lagi aneh.
Rachel menelan ludah.
Semakin sore, langit mulai berubah jingga. Cahaya senja masuk di sela pohon dan membuat hutan terlihat cantik sekaligus menyeramkan.
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara orang berteriak.
“RACHEL!”
“Itu teman-temanku!”
Rachel langsung berlari kecil menuju suara itu. Benar saja, teman-temannya terlihat panik mencarinya.
“Ya ampun Rachel!” Hana langsung memeluknya erat. “Kita takut banget!”
“Lu dari mana aja sih?!”
Keano sampai kelihatan hampir marah karena khawatir.
Rachel tersenyum lega lalu menoleh ke belakang.
“Untung ada Sadewa yang nol—”
Kalimatnya terhenti.
Sadewa masih berdiri beberapa meter di belakang mereka, diam di bawah cahaya senja.
Teman-temannya saling
berpandangan bingung.
“Sadewa siapa?” tanya Keano.
“Itu…” Rachel menunjuk.
Mereka semua menoleh.
Sadewa masih ada.
Ia tersenyum kecil ke arah Rachel.
“Jangan terlalu jauh kalau naik gunung.”
Suara itu pelan sekali tertiup angin.
Lalu Rachel berlari kecil menghampirinya.
“Tunggu! Aku belum bilang makasih—”
Namun saat Rachel sampai di tempat itu…
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pohon pinus tua dan kabut senja.
Rachel membeku.
Dadanya mendadak dingin.
“Sadewa?” panggilnya lirih.
Tak ada jawaban.
Ia menoleh panik ke kanan dan kiri. Tidak mungkin seseorang menghilang secepat itu.
Hana mendekat sambil merinding.
“Rachel… dari tadi kamu ngomong sendiri…”
Rachel langsung menatap Hana.
“Hah? Enggak! Tadi dia ada! Dia yang nolong aku!”
Keano mendadak diam lalu berkata pelan,
“Waktu warga sini bantu briefing sebelum naik… mereka pernah bilang jangan sampai masuk hutan sebelah timur.”
“Kenapa?”
Katanya… kadang ada penghuni lama gunung yang suka nolong pendaki tersesat.”
Angin sore berhembus dingin.
Rachel refleks memeluk lengannya sendiri.
Entah kenapa ia takut… tapi juga merasa hangat.
Kalau Sadewa benar bukan manusia…
Berarti sejak tadi dia ditolong sesuatu yang seharusnya menyeramkan.
Namun nyatanya…
Sadewa begitu baik.
Rachel menatap senja terakhir di balik gunung sambil tersenyum kecil.
“Terima kasih ya… Sadewa.”
Selesai