Malam itu hujan turun pelan di kota kecil yang penuh lampu jalan berwarna kekuningan. Di sebuah kafe sederhana dekat halte, seorang gadis bernama Averie duduk sambil menatap secangkir cokelat panas yang mulai dingin.
“Aku tuh bingung…” gumamnya pelan.
Di depannya, seorang laki-laki berjaket hitam tertawa kecil sambil menyodorkan kentang goreng.
“Bingung lagi? Minggu lalu juga bingung.”
Averie mendelik.
“Kael, serius dikit napa sih.”
Kael hanya tersenyum. Senyum yang selalu berhasil bikin Averie lupa cara marah. Rambutnya sedikit basah kena hujan, wajahnya tenang, dan matanya selalu terlihat hangat.
Kael bukan pacar Averie.
Tapi Kael selalu ada.
Saat Averie sedih karena pekerjaan.
Saat motornya mogok tengah malam.
Saat ulang tahunnya bahkan dilupakan orang yang pernah ia cintai mati-matian.
Kael selalu datang.
Dan itu yang membuat semuanya rumit.
“Aku ketemu lagi sama Ren tadi,” kata Averie pelan.
Senyum Kael sedikit berubah, tapi ia tetap santai.
“Mantan yang ninggalin kamu demi cewek lain itu?”
“Iya…
“Hm.”
Averie memainkan sendok kecil di tangannya.
“Dia bilang nyesel.”
Kael terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Cowok emang gitu. Pas kehilangan baru sadar..
“Kael…”
“Hm?”
“Kalau menurut kamu… cinta itu apa sih?”
Kael menatap hujan di luar kaca. Lama sekali sebelum akhirnya menjawab.
“Cinta itu pulang.”
Averie terdiam.
“Sejauh apa pun kamu pergi,” lanjut Kael pelan, “kalau hati kamu tetap nyari orang itu… berarti itu cinta.”
Suasana mendadak hening.
Averie tidak suka kenyataan bahwa jawaban itu membuat dadanya sesak.
Karena selama ini… setiap kali hidupnya berantakan, yang selalu ia cari bukan Ren.
Tapi Kael.
—
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Ren mulai mendekati Averie lagi. Mengirim pesan pagi, menjemput kerja, bahkan membawa bunga ke apartemennya.
Dan Kael?
Kael perlahan menjauh.
Balasan chat-nya makin singkat.
Jarang menelepon.
Bahkan sudah dua minggu mereka tidak ngopi bersama.
Averie mulai gelisah.
Sampai akhirnya malam itu ia datang ke apartemen Kael dengan wajah kesal.
“Kenapa ngilang?” bentaknya begitu pintu dibuka.
Kael terlihat kaget.
“Kamu kenapa hujan-hujanan ke sini?”
“Jawab dulu!”
Kael menghela napas pelan lalu mempersilakan Averie masuk.
Ruangan itu masih sama. Wangi kopi, gitar di sudut ruangan, dan hoodie hitam Averie yang bahkan masih tergantung di kursi.
“Aku cuma kasih ruang buat kamu dan Ren,” ucap Kael tenang.
“Siapa yang minta?”
Kael tersenyum tipis. Senyum yang justru terlihat sedih.
“Averie… kamu nyaman sama aku. Tapi kamu cinta sama dia.”
Kalimat itu membuat hati Averie terasa jatuh.
Entah kenapa… mendengarnya justru membuat ia takut kehilangan.
“Kalau aku bilang bukan gitu?”
Kael menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Averie melihat mata laki-laki itu menyimpan lelah yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku capek pura-pura biasa aja tiap kamu cerita soal cowok lain,” katanya lirih.
“Capek jadi tempat pulang… tapi gak pernah jadi tujuan.”
Deg.
Averie membeku.
Hujan di luar semakin deras.
“Aku sayang sama kamu, Ver,” lanjut Kael pelan. “Dari lama.”
Suasana mendadak terasa sesak.
Averie menunduk, air matanya jatuh begitu saja.
Selama ini ia sibuk mengejar cinta yang membuatnya sakit… sampai tidak sadar ada seseorang yang mencintainya dengan tenang.
Tanpa pergi.
Tanpa menyakiti.
Tanpa membuatnya merasa sendirian.
“Kael…” suaranya bergetar.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau ternyata aku cuma nyaman.”
Kael tersenyum kecil lalu berjalan mendekat.
“Nyaman itu bukan hal kecil, Averie.”
Ia mengusap pelan kepala gadis itu.
“Kadang cinta terbesar lahir dari seseorang yang paling bikin kita merasa pulang.”
Tangis Averie pecah.
Dan malam itu, di tengah hujan dan aroma kopi hangat, Averie akhirnya sadar…
Cinta bukan selalu tentang deg-degan paling besar.
Kadang cinta adalah seseorang yang tetap tinggal… bahkan ketika kita belum memilihnya.
Selesai