Malam itu hujan turun pelan, mengetuk kaca jendela kamar seperti seseorang yang ragu untuk masuk.
Nayra duduk di pinggir tempat tidur sambil menatap layar ponselnya yang sejak tadi tak berbunyi apa pun. Chat terakhir yang ia kirim masih centang dua.
"Aku cuma mau tahu… sebenarnya kamu masih mau lanjut sama aku atau tidak?"
Singkat. Tapi butuh keberanian besar untuk mengirimnya.
Sudah tiga hari.
Tiga hari rasanya seperti tiga tahun bagi seseorang yang sedang menunggu jawaban.
Nayra mencoba sibuk. Ia membantu mamanya di dapur, menonton film, bahkan pura-pura tertawa saat teman-temannya mengirim video lucu. Tapi setiap beberapa menit sekali tangannya otomatis meraih ponsel.
Barangkali ada balasan.
Barangkali ada penjelasan.
Barangkali… ada harapan.
Namun tetap saja kosong.
Di luar, suara hujan makin deras. Nayra menarik selimut sampai ke dagu. Matanya memerah karena kurang tidur. Ia sebenarnya sudah tahu, kadang diam juga adalah jawaban. Tapi hati manusia aneh. Meski tahu akan sakit, tetap saja ingin mendengar langsung.
Tiba-tiba ponselnya menyala.
Nama itu muncul.
Reza Calling…
Jantung Nayra langsung berdetak cepat. Tangannya dingin. Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat telepon itu.
“Halo…”
Suara di seberang terdengar berat. “Nay…”
Nayra menahan napas.
“Aku minta maaf udah bikin kamu nunggu.”
Hening beberapa detik.
“Aku cuma bingung harus jawab apa.”
Nayra tersenyum kecil meski matanya mulai basah. “Kalau masih bingung… berarti jawabannya bukan aku ya?”
Raka terdiam.
Dan diam itu terasa lebih tajam daripada kata-kata.
“Aku sayang sama kamu,” ucap Raka pelan, “tapi aku belum bisa jadi orang yang kamu harapkan.”
Kalimat sederhana itu akhirnya menghancurkan semua harapan yang selama ini Nayra peluk diam-diam.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Lucunya, manusia memang begitu. Kadang bukan penolakan yang paling menyakitkan, tapi proses menunggu sebelum akhirnya ditolak.
“Aku ngerti kok,” jawab Nayra lirih,
meski hatinya tidak benar-benar mengerti.
Setelah telepon itu berakhir, Nayra mematikan layar ponselnya lalu berjalan ke jendela. Hujan masih turun, tapi kali ini terasa berbeda.
Sakitnya masih ada.
Namun setidaknya sekarang ia tidak lagi menunggu.
Karena ternyata, jawaban yang paling melelahkan bukan “tidak”.
Melainkan harapan yang digantung terlalu lama.
Selesai