Jalan hidup itu ga cuma sampai sana, jadian juga nggak bikin hidup jadi gampang kalau pacaran cuma duduk di bangku mahoni mungkin semua beres tapi didunia ga cuma stuck disitu.
Setelah lulus gua dapat kerja di bandung, sedangkan sisi lain Aresh ngelanjutin kuliah di jakarta.
Jaraknya cuma 3 jam di kereta tapi rasanya kaya dipisah samudra.
Minggu pertama masih berjalan lancar telepon tiap malam, cerita hal kecil kecilan kaya kopi yang tumpah atau dosen killer yang tiba tiba ngadain kuis.
Sampainya.. Minggu ketiga mulai renggang Aresh sibuk ngurusin skripsi dan kelas malam sedangkan sisi lain Gua sibuk lembur buat ngurus proyek sampai pulang jam 11.30
Gua sesampainya dirumah langsung beres beres mandi , ngebersihin rumah, dan makan lalu buka hp buat nelepon dan ngobrol sama Aresh.
"Lo cuek banget akhir akhir ini" kata Gavien suaranya lelah karna kecapean
"Bukan cuek Vien gua cuma takut" kata resh.
"Takut apaan? Emang gua bikin Lo takut?" Kata Gavien
"Takut Lo capek Vien, dan gua takut jadi beban lu. Gua kan emang orang yang susah di sayang" kata resh
Gua terdiam ngedengar kata kata itu lagi muncul lagi. Kata kata yang dimana bikin gua tahu tentang dan pas duduk di halte waktu itu.
Gua ketawa pelan terus gua bilang ke resh "gua udah bilang kan? Gua nggak takut sakit" kata gua
Suasana akhirnya hening sementara.
Terus Aresh akhirnya ngomong pelan hampir ga kedengeran " datang Minggu depan ga? Ada pembacaan puisi kampus , gua bakal bacain satu puisi buat Lo" kata Aresh
Gua tentu ga mikir kata kata itu dua kali gua Langsung bilang "gua datang walaupun harus naik kereta malam malam"
Dan akhirnya mereka bercerita hingga tertidur.
Dan dimana hari itu tiba. Aresh naik ke panggung dengan kemeja putih lusuh dia bacain puisi tanpa judulnya, tetapi setiap barisnya tentang orang yang nekat megang mawar berduri.
Puisi yang dibaca Aresh penuh makna
"*Aku ini mawar katanya, indah kalau dilihat dari jauh, berduri kalau disentuh terlalu dekat*"
"*Kau tetap datang membawa payung hujanku tak berhenti, membawa minuman kesukaanku waktu malamku jadi dingin*"
"*Aku takut, takut duriku merobek tanganmu,takut nanti kau pergi karna lelah terluka*"
"*Tapi kau bilang "gua ga takut sakit" seolah luka itu bukan akhir , tetapi bukti kalo kita pernah berani*"
"*Kalau suatu hari aku salah pegang, maafkan aku, aku masih belajar memegang walau masih terasa menyakiti*"
"*Sampai saat itu biarlah aku jadi indahnya saja biarlah kau yang memegang durinya*"
"*Karena cinta yang takut menyentuh, bukanlah cinta. Ia cuma bayangan yang takut hilang saat di sentuh cahaya*"
******Puisi selesai******
Selesai baca Aresh turun dari panggung jalan lurus kearah gavien yang duduk di barisan belakang didepan semua orang dia ngulurin tangan
" Gua nggak janji nggak nyakitin Lo lagi,tetapi gua janji gua bakal belajar megang Lo tanpa bikin Lo terluka" kata resh natap gua.
Gua berdiri dan genggam tangan resh kencang namun lembut.
" Gua juga janji gabakal ngelepasin Lo duluan" kata gua natap orang didepan gua
Disana orang orang tepuk tangan tapi buat mereka berdua yang ada cuma suara napas yang akhirnya lega.
Diluar gedung hujan turun lagi.
Mereka jalan dibawah satu payung menuju stasiun kereta.
Mawar berduri dan seorang yang nekat masih saling sakit sakitan tapi nggak pernah beneran buat pergi
Karena cinta yang indah emang nggak pernah mulus tapi kalau yang megang itu orang yang tepat,durinya jadi wajar.