Namaku Lina. Aku seorang janda yang tinggal bersama kedua anakku setelah suamiku meninggal karena penyakit ginjal empat tahun yang lalu. Sebelumnya aku bekerja sebagai guru SD, tapi setelah suamiku tiada, aku memutuskan untuk menjadi guru les privat agar bisa lebih fleksibel mengurus anak-anak.
Salah satu muridku adalah seorang anak bernama Rina – putri seorang pria bernama Hasan yang baru saja menjadi duda setelah istrinya pergi karena kecelakaan mobil setahun yang lalu. Hasan bekerja sebagai karyawan swasta dan seringkali kesusahan membantu anaknya belajar karena ia sendiri tidak terlalu menguasai pelajaran sekolah dasar.
"Aku tidak bisa membantu Rina belajar matematika dan bahasa Indonesia," katanya ketika pertama kali datang menemukanku. "Dia sudah mulai kesusahan di sekolah dan aku tidak ingin dia tertinggal."
Aku menerima Rina sebagai muridku. Setiap sore setelah sekolah, ia datang ke rumahku untuk les. Selama proses belajar, Hasan seringkali menunggu di ruang tamuku. Kita mulai berbincang tentang banyak hal – dari cara mengajar anak yang efektif hingga cerita tentang kehidupan kita. Ia bercerita tentang bagaimana istrinya dulu selalu yang mengurus pendidikan anaknya, tentang rasa khawatirnya tidak bisa menjadi orang tua yang baik sendirian, dan tentang bagaimana ia berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Aku juga bercerita tentang pengalamanku sebagai guru dan sebagai ibu yang harus mengurus pendidikan anak-anak sendirian setelah suamiku tiada.
Suatu hari, ia datang menemukanku dengan wajah yang pucat. Ia baru saja diberitahu bahwa ia akan dipecat dari pekerjaannya karena perusahaan sedang melakukan PHK besar-besaran. "Aku tidak tahu bagaimana akan membayar biaya sekolah Rina dan kebutuhan hidup kita," katanya dengan suara bergetar.
"Aku punya teman yang sedang mencari orang untuk mengurus usaha warnet kecilnya," kataku setelah berpikir sebentar. "Kamu bisa bekerja di sana sebagai pengelola dan teknisi – kamu kan dulu suka dengan komputer kan? Selain itu, kamu bisa membantu aku mengajar anak-anak lain yang les di rumahku ketika ada waktu luang. Aku akan membayarmu dengan baik."
Ia menerima tawaranku dengan rasa syukur yang dalam. Sejak itu, kita bekerja bersama – ia membantu mengurus les privatku ketika aku harus keluar dan bekerja di warnet pada malam hari. Aku juga mengajarkannya beberapa teknik mengajar yang bisa ia gunakan untuk membantu Rina belajar di rumah. Kita selalu menjaga hubungan kita sebatas teman dan rekan kerja – tidak pernah ada hal yang bisa membuat salah paham, selalu saling menghormati, dan selalu fokus pada bagaimana kita bisa saling membantu.
Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan pekerjaan baru sebagai teknisi komputer di sebuah perusahaan kecil. Ia tetap membantu aku di les privatku ketika ada kesempatan. "Terima kasih karena tidak pernah melihatku sebagai pria yang lemah atau sebagai calon pasangan baru," katanya suatu hari ketika memberitahuku tentang pekerjaannya yang baru. "Kamu hanya seorang teman yang benar-benar ingin membantu aku dan Rina."
Kini, les privatku semakin banyak muridnya. Kadang Hasan membantu mengajar anak-anak yang ingin belajar tentang komputer dan teknologi. Kita sering berbagi cerita tentang bagaimana kita belajar untuk kuat dan mandiri setelah kehilangan orang tersayang. Aku tetap menjadi guru yang suka menyalaikan cahaya pengetahuan dalam hati anak-anak – termasuk membantu orang tua menemukan cara untuk menjadi pendidik yang baik bagi anak-anak mereka.