Di sebuah kota kecil, ada dua sahabat yang sudah berteman sejak SMA. Namanya Naya dan Citra. Mereka selalu bersama ke mana pun pergi. Banyak orang bilang persahabatan mereka seperti saudara kandung.
Naya orangnya lembut dan polos. Sedangkan Citra pintar bicara, modis, dan selalu terlihat percaya diri. Walau berbeda sifat, mereka saling melengkapi.
Suatu hari Naya mulai dekat dengan seorang cowok bernama Bisma. Cowok itu ganteng, humoris, dan perhatian banget. Awalnya Bisma dikenalkan Naya kepada Citra karena Naya ingin sahabatnya juga akrab dengan pacarnya.
Mereka sering nongkrong bertiga. Ketawa bareng, makan bareng, bahkan Citra sering jadi tempat Naya curhat soal Bisma.
“Aku seneng banget akhirnya ketemu cowok sebaik Bisma,” kata Naya sambil tersenyum malu.
Citra cuma tersenyum tipis. “Iya… kalian cocok banget.”
Tapi lama-lama ada sesuatu yang berubah.
Bisma mulai sering membalas chat Citra lebih cepat daripada Naya. Kadang mereka bercanda sendiri di grup. Bahkan beberapa kali Bisma diam-diam menghubungi Citra tengah malam.
Awalnya Citra merasa bersalah. Tapi perhatian Bisma membuatnya terlena.
Sampai suatu malam, Naya datang ke apartemen Citra sambil membawa makanan kesukaan sahabatnya itu.
Namun langkah Naya terhenti di depan pintu.
Di sana… Bisma sedang duduk santai memakai kaos rumah milik Citra.
Wajah Naya langsung pucat.
“Bis-ma… kamu di sini?”
Bisma kaget berdiri. Sedangkan Citra langsung panik.
“Nay… aku bisa jelasin—”
“Jelasin apa?” suara Naya bergetar.
“Kalian… di belakang aku?”
Air mata mulai jatuh tanpa bisa ditahan. Rasanya seperti dadanya diremas pelan-pelan.
Yang lebih sakit bukan cuma kehilangan pacar. Tapi kehilangan sahabat yang paling dipercaya.
Citra ikut menangis. “Maaf… aku gak tau kenapa semua jadi begini.”
Naya tertawa kecil, pahit.
“Katanya sahabat… ternyata teman makan teman.”
Sejak malam itu Naya pergi tanpa menoleh lagi.
Beberapa bulan kemudian, hubungan Bisma dan Citra ternyata tidak bertahan lama. Mereka sering bertengkar karena saling tidak percaya.
Sedangkan Naya perlahan bangkit. Ia mulai fokus bekerja, memperbaiki hidupnya, dan belajar bahwa tidak semua orang yang dekat itu tulus.
Suatu sore di sebuah kafe, Naya bertemu Citra lagi.
Citra terlihat lebih kurus dan murung.
“Aku kehilangan kamu,” ucap Citra lirih.
Naya tersenyum tipis. “Aku juga pernah kehilangan sahabat.”
Hening beberapa detik.
“Tapi sekarang aku belajar… luka paling dalam kadang datang dari orang yang paling kita percaya.”
Citra menunduk menahan air mata.
Dan sejak hari itu mereka sadar… persahabatan yang rusak karena pengkhianatan memang bisa dimaafkan, tapi belum tentu bisa kembali seperti dulu lagi.
Selsai