Heathrow Airport
London
Seorang pria muda melangkah keluar dari pintu EXIT bandara mengenakan setelan jas mewah berwarna merah mawar. Langkahnya terasa lambat namun memancarkan wibawa yang tak tergoyahkan. Tatapannya lurus tajam ke depan, sementara jam tangan mewah bermerek Patek Philippe melingkar sempurna di pergelangan tangannya, kilau logamnya memantulkan cahaya lampu bandara, menandakan kemewahan yang melekat pada dirinya. Setiap gerakannya terhitung, setiap detail penampilannya sempurna tanpa cela.
Sepatu kulit hitam model Oxford yang dipakainya mengkilap sempurna, menghantam lantai bandara dengan ketukan yang tegas dan presisi. Suara itu terdengar jelas, seolah menjadi pengumuman kedatangan seseorang yang tak bisa diabaikan.
Orang-orang di sekitarnya tanpa sadar menoleh, terpikat oleh aura yang dipancarkannya.
Dia adalah Charles D'Alesandro. CEO dari Sterlingcore Global Couture Ltd. Sebuah perusahaan raksasa terbesar di kota London yang bergerak di industri fashion kelas premium.
Langkahnya terhenti. Ia menyelipkan tangan ke dalam saku celana dan mengeluarkan telepon genggamnya untuk menghubungi sang supir pribadi.
"Tuan James, anda dimana?" suaranya berat dan dalam, terdengar sangat elegan.
"Saya sudah berada di area tempat parkir bandara, Tuan." (James)
"Saya sudah sampai. Bisakah anda Segera menjemput saya di pintu keluar." (Tuan Charles)
"Baik Tuan. Segera datang." (James)
Tidak lama berselang, sebuah mobil mewah bermerek Rolls-Royce berwarna putih berhenti tepat di hadapannya. Pintu terbuka, dan turunlah seorang pria paruh baya, ia adalah James. Supir pribadi setianya. Dengan sigap, ia membukakan pintu untuk tuannya.
"Selamat datang kembali di London, Tuan. Bagaimana penerbangan Anda? Apakah cukup menyenangkan?" tanya James sopan.
"Cukup menyenangkan"jawab Charles singkat.
"Lalu, bagaimana dengan urusan Anda di San Francisco?" tanya James lagi sambil memastikan barang bawaan tersimpan aman.
"Aku bertemu banyak orang penting di sana. Aku menawarkan dan mempromosikan lini fashion-ku kepada mereka." (Charles)
"Lalu... apakah Anda sempat berlibur di sana, Tuan?" (James)
"Tidak. Aku tidak suka berlibur. Itu hanya membuang-buang waktu." (Charles)
Mobil pun mulai melaju, meninggalkan area bandara dan memasuki jalan tol menuju pusat kota.
Saat memasuki kawasan kota London, pemandangan luar jendela mulai berubah. Terlihat deretan gedung-gedung tinggi yang megah di sebuah kawasan Industrial Estate, area elit khusus perusahaan dan pabrik. Namun, ada satu bangunan yang paling mencuri perhatian, ia adalah Royal Cocoa, sebuah pabrik cokelat Premium Class.
Diproduksi menggunakan bahan baku dengan kualitas tertinggi, menciptakan rasa yang luar biasa lezat dan mewah, menjadikannya salah satu produsen cokelat terbaik di dunia. Harganya pun bervariasi sesuai kelasnya:
- Chocolate Standard Class : £7.50 (Rp 150.000)
- Chocolate Premium Class : £15.70 (Rp 330.000)
- Chocolate Luxury Class : £24.80 (Rp 520.000)
Tepat di sebelahnya, berdiri megah sebuah pabrik kue bernama Stainley Bakery (Premium Class). Tidak kalah populer dan lezat, rasanya begitu sempurna hingga dijuluki sebagai salah satu pabrik kue terenak di dunia.
Dua menu favorit andalan mereka menjadi sumber kekayaan perusahaan ini:
- Noir Chocolate (Varian Cokelat)
-Noir Berry (Varian Buah)
Harga yang ditawarkan pun setara dengan kualitas rasanya:
- Mini Cake Chocolate Series : £7.50 (Rp 150.000)
- Currently Cake Chocolate Series: £16.50 (Rp 340.000)
- Big Cake Chocolate Series : £26.62 (Rp 559.000)
" Lima menit kita akan sampai di perusahaan anda, Tuan," ujar James memecah keheningan.
Dari kejauhan, mulai terlihat sebuah gedung pencakar langit setinggi 70 lantai yang seluruhnya dilapisi kaca cermin. Bangunan itu menjulang gagah di tengah kota London, memantulkan cahaya pagi yang menyilaukan mata. Logo Sterlingcore Global Couture Ltd. Terpampang sangat besar dan jelas di bagian paling puncak gedung. Area parkirnya pun luas seluas lapangan sepak bola, penuh dengan mobil-mobil mewah milik Executive yang tertata rapi.
" kita sudah sampai, Tuan." (James)
James memarkirkan mobil di area khusus yang hanya diperuntukkan bagi Charles. Setelah itu, ia segera turun dan membantu membawa barang-barang tuannya menuju lobi.
Saat kaki Charles melangkah masuk ke dalam gedung, ia langsung disambut oleh ribuan karyawan yang telah menanti kedatangannya. Lantai marmer yang berkilau dan dinding yang dihiasi lukisan-lukisan mahal karya seniman ternama semakin menambah kesan megah dan elit perusahaan ini.
"Welcome, Mr. Charles!" seru seluruh karyawan serempak dengan penuh semangat.
"Terima kasih atas sambutan kalian. Kembalilah bekerja," ucap Charles tegas namun berwibawa.
Pria itu segera berjalan menuju lift pribadinya, menuju ruangan kerja yang terletak di lantai 68. Sebuah ruangan kantor yang sangat indah dan mewah. Meja kerjanya terbuat dari kayu Agarwood jenis Kynam, salah satu jenis kayu termahal dan paling harum di dunia. Di sisi kiri dan kanan ruangan, tersusun sofa mewah berkerangka kayu jati asli yang dilapisi kain sutra Lotus, menjadikan ruangan ini simbol kemewahan tertinggi di kota London.
Dinding-dindingnya berhiaskan lukisan-lukisan ternama dan deretan kunci mobil sport miliknya. Di bagian plafon, terpasang lampu Tiffany Pond Lily. Salah satu lampu termahal di dunia.
Ia juga baru saja membeli sebuah guci antik dari seorang kolektor. Guci tersebut berasal dari masa Kekaisaran Qianlong, lalu ditempatkannya dengan anggun di sudut kanan ruangan kantornya. Sedangkan di sudut kiri, terlihat sebuah brankas berukuran sedang yang digunakan untuk menyimpan sebagian kecil dari hartanya yang melimpah.
Setelahnya, ia mulai mengecek laporan keuangan perusahaan Sterlingcore Global Couture Ltd. Angka-angka yang tertera melonjak sangat tinggi tahun ini. Penjualannya naik secara drastis dan berhasil meraup keuntungan hingga miliaran rupiah.
"Hahahaha... fantastis! Benar-benar fantastis!" ucap Charles diiringi tawa yang terdengar sangat puas.
Tawa itu perlahan mereda saat matanya menangkap sebuah berita di layar komputernya.
"Hmm?" gumamnya pelan.
Di layar, terpampang data mengenai Royal Cocoa dan Stainley Bakery. Kedua perusahaan raksasa di bidang makanan premium itu terlihat begitu menggiurkan, keuntungan mereka pun tak kalah besar dibanding bisnis fashionnya.
Jari telunjuknya yang bersih dan putih perlahan mengusap dagu, tampak sedang berpikir keras. Mata tajamnya menyipit sedikit, menatap nama-nama perusahaan itu seolah sedang menaksir sebuah harta karun.
"Bisnis coklat dan kue...?" bisiknya. "Pasar di london ini luar biasa. Rasanya sayang kalau peluang sebesar ini hanya di lewatkan begitu saja." (Charles)
Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka. Seorang wanita dengan setelan Blazer rapi masuk dengan langkah cepat dan sopan. Dia adalah Elena, Sekretaris pribadinya yang paling dipercaya.
"Maaf mengganggu, Tuan. Ada laporan penting mengenai rencana ekspansi bisnis yang Anda minta sebelumnya," ucap Elena seraya meletakkan sebuah file tebal di atas meja kayu Kynam itu.
Charles tidak mengalihkan pandangan dari layar. "Bicara, Elena."
"Berdasarkan survei kami, sektor confectionery atau makanan manis kelas atas saat ini sedang mengalami pertumbuhan sangat pesat. Bahkan, permintaan dari Asia dan Timur Tengah terus meningkat drastis, Tuan." (Elena)
Mendengar itu, sudut bibir Charles terangkat membentuk senyum tipis yang penuh ambisi. Ia menoleh, menatap sekretarisnya dengan tatapan yang mengintimidasi namun karismatik.
"Kau benar, Elena. Sterlingcore memang raja di dunia fashion... tapi dunia ini luas. Uang bisa datang dari mana saja, termasuk dari rasa manis di lidah orang kaya." (Charles)
Charles menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya yang empuk, tangan nya disilangkan di dada.
"Siapkan semua data tentang semua pabrik besar di kawasan Industrial Estate. Aku ingin tahu segalanya tentang Royal Cocoa dan Stainley Bakery. Siapa pemiliknya, berapa aset mereka, dan apa kelemahan mereka." (Charles)
"Baik, Tuan. Segera saya siapkan." Elena mengangguk patuh.
"Dan Elena..."panggil Charles lagi sebelum sekretarisnya keluar.
"Ya, Tuan?"
"Hubungi tim investasi. Mulai hari ini kita tidak hanya membuat orang tampil cantik. Kita akan mulai menguasai lidah mereka juga." (Charles)
Suaranya terdengar tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya membawa keputusan besar. Ambisi pria ini tidak ada batasnya. Dari dunia fashion, kini ia mulai melirik kerajaan baru Dunia Cokelat dan Kue Premium.
Elena mengangguk tegas, mencatat setiap perintah tuannya tanpa ada satu kata pun yang terlewat. "Baik, Tuan. Saya akan siapkan semuanya dalam waktu satu jam."
Setelah sekretarisnya keluar, Charles kembali menatap layar komputer di hadapannya. Matanya berkilat penuh ambisi. Ia tidak pernah puas hanya dengan satu kesuksesan. Bagi pria seperti dia, dunia ini hanyalah papan catur, dan dia adalah rajanya. Jari-jemarinya yang lentik mulai menari-nari di atas meja kayu Kynam itu, mengetik perintah demi perintah. Ia mulai merancang strategi baru.
" Royal Cocoa...Stainley Bakery..." gumamnya pelan, membaca nama-nama itu seolah sedang menaksir permata terindah. "Kalian akan menjadi bagian dari kerajaanku."
Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Nomor pribadi. Hanya orang-orang tertentu yang memiliki nomor ini.
Charles mengangkat telepon itu dengan santai namun tetap berwibawa. "Halo?"
"Selamat siang, Charles. Aku dengar kau baru saja kembali dari Amerika?" suara berat dan berwibawa terdengar dari seberang. Itu adalah Lord Harrison, salah satu Konglomerat tertua di London dan pemilik awal dari Royal Cocoa.
"Benar, Lord. Penerbangan cukup melelahkan, tapi selalu menyenangkan bertemu orang-orang besar," jawab Charles dengan senyum tipis.
"Aku mendengar rumor... kau mulai tertarik pada bisnis makanan premium?" tanya Lord Harrison langsung pada intinya.
Charles terkekeh pelan, suaranya terdengar tenang namun mengandung kekuatan besar. "London adalah kota yang manis, Lord. Dan aku suka hal-hal yang manis... terutama jika hal itu bisa menghasilkan keuntungan yang luar biasa."
"Hmm... kau memang tidak pernah main-main. Jika kau serius, datanglah ke pestaku nanti malam. Kita bisa bicarakan hal ini lebih dalam. Banyak hal yang bisa kita tawar-menawar," (Lord Harrison.)
"Tentu. Aku akan hadir. Dan pastikan... cokelat terbaikmu tersedia di sana," balas Charles sebelum menutup telepon.
Ia meletakkan gagang telepon kembali, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela kaca besarnya. Dari ketinggian lantai 68, ia bisa melihat seluruh pemandangan kota London, termasuk gedung megah milik Royal Cocoa dan Stainley Bakery yang tadi terlihat dari dalam mobil.
"Permainan baru saja di mulai," bisiknya pada diri sendiri.
Ia melonggarkan sedikit dasi jas merah mawarnya, memancarkan aura dominan yang tak tertandingi.
"Dari fashion... kini saatnya aku menguasai lidah dunia."
Matahari mulai bergeser, menandakan sore telah tiba. Di dalam ruangan mewah itu, Charles masih terpaku menatap layar komputer. Jari-jarinya yang lentik terus menelusuri data keuangan Royal Cocoa dan Stainley Bakery. Angka-angka yang tertera membuat sudut bibirnya terus mengembang.
"Luar biasa omset mereka bahkan melebihi beberapa divisi di perusahaanku sendiri," gumamnya takjub namun penuh rasa ingin memiliki.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk pelan.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk," sahut Charles tanpa mengalihkan pandangan.
Pintu terbuka, Elena masuk kembali dengan membawa sebuah setelan jas baru yang tergantung rapi di gantungan baju mewah, beserta sebuah kotak perhiasan kecil.
"Tuan, persiapan untuk pesta malam ini sudah siap. Saya bawakan setelan baru yang baru saja datang dari butik pribadi Anda," lapor Elena dengan sopan.
Charles akhirnya berbalik. Matanya menatap setelan itu. Sebuah jas berwarna hitam pekat dengan aksen benang emas yang sangat halus, terlihat sangat gagah dan misterius.
"Bagus. Siapkan juga cufflink berlian yang kubeli di Swiss kemarin," perintah Charles sambil berdiri dan melangkah mendekati cermin besar di dinding.
Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah tampan, tatapan tajam, dan postur tubuh yang sempurna.
"Lord Harrison... aku penasaran, seberapa keras kau akan bertahan untuk mempertahankan harta karunmu itu?"bisiknya pada pantulan dirinya di cermin.
Waktu menunjukkan pukul 19.30 Malam
The Grand London Hall
Suasana di tempat itu sangat meriah dan mewah. Ribuan tamu undangan hadir, mulai dari pejabat tinggi, artis Hollywood, hingga para Konglomerat bisnis dari seluruh dunia. Musik orkestra mengalun lembut, membaur dengan suara tawa dan obrolan para orang elit.
Di tengah kerumunan yang sibuk bersosialisasi, suasana seketika menjadi hening sejenak saat pintu utama terbuka lebar.
Semua mata tertuju pada satu titik.
Charles D’Alesandro hadir.
Ia melangkah masuk dengan gaya yang tak tertandingi. Jas hitam dengan aksen emas yang dikenakannya membuatnya tampak seperti seorang raja kegelapan yang mempesona. Rambutnya disisir rapi ke belakang, memperlihatkan dahi yang lebar dan tatapan mata yang tajam memancarkan karisma.
Di lengannya, tergenggam sebuah gelas kristal berisi wiski mahal, yang ia angkat sedikit sebagai sapaan saat orang-orang mulai menyapanya.
"Lihatlah... itu Charles D’Alesandro.”
“Sempurna sekali penampilannya...”
“Aura dia benar-benar berbeda dari yang lain."
Desahan kagum terdengar di mana-mana, namun Charles seolah tuli. Ia hanya berjalan lurus menuju ke arah balkon utama di mana Lord Harrison sedang berbincang dengan beberapa rekan bisnisnya.
Saat Charles semakin dekat, Lord Harrison pun menoleh. Wajah tua itu tersenyum lebar, namun matanya waspada.
"Charles! Anak muda yang paling ditunggu malam ini," sapa Lord Harrison hangat, lalu mereka berdua bersalaman dengan erat.
"Lord Harrison, Tempat ini indah. Tapi, sepertinya ada sesuatu yang kurang," ujar Charles dengan senyum tipis yang mengintimidasi.
"Oh? Apa itu?" tanya Lord Harrison.
"Rasanya... belum cukup manis," jawab Charles santai, lalu matanya melirik ke arah meja prasmanan di mana terdapat berbagai macam kue dan cokelat dari Royal Cocoa dan Stainley Bakery.
Lord Harrison tertawa keras. "Hahaha... kau memang langsung pada intinya. baiklah, mari kita bicara serius. ikut aku ke ruangan pribadi."
Keduanya pun berjalan meninggalkan kerumunan, menuju sebuah ruangan tertutup yang lebih tenang. Di sana, pertarungan sesungguhnya untuk menguasai kerajaan cokelat itu akan segera dimulai.
END