Di sudut rumah yang katanya penuh keluarga,
Aku berdiri sendiri, memegang hati yang luka.
Datang membawa cinta, tulus dan sederhana,
Berharap diterima, berharap dihargai adanya.
Awalnya senyum manis terukur di bibir mereka,
Sapaan hangat menyambut langkahku ke sana.
Namun lama kelamaan, topeng pun terbuka,
Ternyata kebaikan itu hanya sandiwara belaka.
Adik suamiku, yang dulu ramah dan bicara,
Kini memandangku seolah aku musuh di mata.
Dari awal memang hatinya tak pernah setuju,
Melihat kakaknya milik orang lain, membuatnya benci dan iri.
Ia bilang lewat pesan, tajam menusuk kalbu,
"Kakakku kini berubah, tak sama seperti dulu.
Prinsipnya beda, pikirannya pun berlainan,
Karena sudah ada dia, hidupnya jadi lain."
Ah, adikku sayang, apakah itu salahku?
Bukankah wajar jika dewasa mengubah tujuanku?
Ia kini suami, ayah yang punya tanggung jawab,
Bukan lagi anak kecil yang semua kemauannya harus diemban.
Aku diam saja, ku telan semua kata pedas,
Tak banyak bicara, tak pernah ingin berkelas.
Aku pikir sabar akan memadamkan api,
Ternyata diamku dianggap kelemahan diri.
Aku dengar saja saat mereka menyindir dan menuduh,
Dibilang tak becus, dibilang tak tahu aturan hidup.
Padahal aku hanya ingin tenang, hidup sederhana,
Mengurus suami dan anak, menjaga rumah tangga saja.
Yang paling menyakitkan, yang merobek jiwaku,
Saat suamiku sendiri memihak pada mereka terus.
Ada perdebatan sedikit, aku yang selalu disalahkan,
Ia lebih percaya adiknya, daripada istrinya sendiri sekian lama.
"Dia adikku, dia keluargaku," begitu pikirnya,
Lupa bahwa aku pun darah daging yang ia sumpah setia.
Anakku pun tersisih, tak disayang sama sekali,
Mereka lebih memuja anak ipar, cucu yang lain, di atas segalanya.
Hati ini menangis dalam diam, bertanya pada waktu,
Apa salahku Tuhan, hingga nasibku begini rupa?
Di rumah orang tuaku, suamiku punya masalah dan benci,
Di rumah mertuaku, aku yang disiksa, dianggap tak berarti.
Aku ingin pulang, kembali ke pangkuan ibu bapak,
Tapi terhalang dinding tebal bernama ekonomi dan nafkah.
Aku tak punya penghasilan, aku bergantung padanya,
Jika aku pergi, bagaimana anakku makan dan bergaya?
Dan lebih perih lagi, kenyataan yang harus kuterima,
Bahwa suamiku itu seolah menunggu waktu berpisah saja.
Ia tak berjuang, ia tak mempertahankan ikatan ini,
Beda jauh denganku yang bertahan demi kasih ke anak ini.
Aku bertahan bukan karena aku senang disakiti,
Bukan karena aku bodoh atau tak punya mimpi.
Aku bertahan, menahan perih dan derita,
Semata-mata karena kasihan, melihat anak butuh ayah dan bunda.
Namun sampai kapan aku harus jadi patung yang diam?
Dibicarakan, dicela, disakiti tanpa punya harapan?
Sampai kapan aku dianggap debu di bawah kaki,
Oleh orang yang seharusnya jadi pelindung dan sahabat hati?
Tapi dengar ini wahai hati yang mulai retak,
Di balik semua luka, ada kekuatan yang takkan musnah.
Semua sakit ini, semua air mata yang jatuh ke bumi,
Akan kujadikan jalan, akan kujadikan mimpi.
Aku akan tulis semua rasa, kuubah jadi kata-kata,
Dari rasa sakit ini, kucipta rezeki dan bahagia.
Aku akan bangkit, mencari jalan lewat tulisan dan karya,
Hingga aku punya uang, hingga aku punya kuasa.
Saat nanti aku mandiri, saat nanti aku punya harga diri,
Baru mereka sadar apa yang telah mereka sia-siakan pergi.
Bahwa wanita pendiam ini, wanita yang sabar ini,
Bukan tak berdaya, hanya sedang menunggu waktu berdiri.
Jika nanti suamiku masih tetap sama dan membisu,
Masih lebih sayang saudara daripada istri dan anakku,
Maka aku akan pergi, membawa anak dan harga diri,
Karena lengkap orang tua tak ada gunanya jika hati perih dan sepi.
Aku bertahan bukan karena takut kehilangan dia,
Tapi karena aku ibu yang sayang pada anak dan dunia.
Namun ingatlah, kasih sayang tak cukup untuk hidup,
Perlu dihargai, perlu dijunjung, agar rumah tangga tak rusak dan usang.
Untuk sekarang, ku simpan luka ini rapat-rapat,
Kujadikan bahan bakar untuk melangkah ke depan lewat.
Suatu hari nanti, dari rasa sakit yang kau beri ini,
Aku akan bangkit, dan bahagia dengan caraku sendiri.