Arunika tidak lagi berlari. Ia sadar, jika ia terus menjadi mangsa, ia akan mati di koridor ini. Saat sosok bertopeng kelinci itu mulai melangkah maju dengan kapak yang menyeret lantai, Arunika teringat sesuatu: Ruang Kendali Listrik ada di belakang pintu lab biologi tadi.
Ia kembali masuk ke dalam lab yang lantainya sudah hancur sebagian, melompati lubang maut, dan menyambar botol-botol alkohol murni serta pemantik api yang tertinggal di meja praktik.
"Kau ingin bermain? Mari kita buat ini menjadi panas," desis Arunika.
Si Topeng Kelinci mendobrak pintu lab. Dengan tenang, Arunika melemparkan botol alkohol ke arah lantai yang licin, lalu memicu apinya. Wush! Api berkobar, memisahkan mereka. Di balik kobaran api, si Topeng Kelinci tertawa parau—suara yang sangat dikenal Arunika.
"Suara itu... Pak mulyo?" Arunika terperangah. Penjaga sekolah yang selama ini terlihat ramah ternyata adalah monster itu.
"Clarissa dulu terlalu cepat menyerah, Arunika. Tapi kau... kau adalah karya seniku yang paling indah," ujar sosok itu sambil membuka topengnya, menampakkan wajah Pak Mulyo yang penuh luka bakar lama.
Pak Mulyo menerjang menembus api, mengabaikan lengannya yang mulai terbakar. Namun, Arunika sudah lebih cepat. Ia menarik tuas pemadam api otomatis (sprinkler), bukan untuk memadamkan api, tapi untuk menciptakan kekacauan. Di saat Pak Mulyo tergelincir karena lantai yang basah dan licin, Arunika mengambil botol formalin besar dan menghantamkannya tepat ke kepala pria itu.
PRANG!
Pak Mulyo jatuh tersungkur ke dalam lubang lantai yang amblas, tempat mesin gerinda bawah tanah masih menderu. Teriakannya hilang ditelan suara besi yang beradu.
Arunika segera berlari ke arah gudang di belakang lab, tempat ia mendengar suara rintihan. Di sana, Tiara terikat dengan mulut disumpal, namun masih hidup. Arunika membebaskannya tepat saat sirine polisi terdengar meraung di kejauhan—ternyata Arunika sempat menekan tombol alarm kebakaran yang terhubung langsung ke kantor polisi sebelum masuk ke lab tadi.
Fajar mulai menyingsing saat Arunika dan Tiara melangkah keluar dari gerbang sekolah. Gedung SMA Pelita Bangsa kini hanya menyisakan asap hitam. Rahasia Loker 404 dan hilangnya Clarissa akhirnya terbongkar bersama hancurnya Pak Mulyo.
Arunika melihat ke arah tangannya yang masih bergetar. Ia selamat, namun ia tahu, ia bukan lagi gadis sekolah yang sama seperti kemarin. Permainan telah berakhir, dan dia adalah pemenangnya.
TAMAT.