Saya tidak membeli buku.
Ini keputusan yang saya buat dengan sadar, setelah mempertimbangkan fakta bahwa buku Dadang sudah menempati rak dengan sistem pengarsipan yang, menurut saya, tidak perlu ditambah variabel baru. Selain itu, saya punya alasan yang lebih mendasar: saya tidak butuh seratus satu cara. Saya hanya butuh satu. Yang tepat. Pada waktu yang tepat.
Masalahnya adalah menentukan apa yang tepat untuk seseorang yang mengukur segala sesuatu dengan kolom dan kategori.
Saya memikirkan ini selama tiga hari. Bukan karena saya tidak punya ide, melainkan karena ide yang muncul pertama selalu bisa saya gugurkan sendiri dalam hitungan menit. Membelikan buku baru? Ia akan memasukkannya ke sistem pengarsipan dan lupa bahwa itu hadiah. Memasak untuknya? Setelah insiden dapur Sabtu lalu yang baunya baru benar-benar hilang pada Selasa, dapur adalah wilayah yang perlu waktu sebelum dijadikan arena romantisme lagi. Merencanakan kencan? Ia akan tahu itu direncanakan, dan ada kemungkinan ia akan muncul dengan agenda balasan.
Jadi saya berpikir lebih sederhana.
Saya perhatikan Dadang.
* * *
Ini sebenarnya bukan hal baru. Saya sudah memperhatikan Dadang sejak lama — sejak jauh sebelum saya sadar bahwa memperhatikan seseorang dengan seksama adalah langkah pertama jatuh cinta yang sering tidak kita akui kepada diri sendiri. Yang berbeda sekarang adalah saya memperhatikannya dengan tujuan yang lebih spesifik.
Senin pagi, saya perhatikan bahwa ia selalu minum kopi pertamanya sambil berdiri di depan jendela, menatap ke luar selama kurang lebih tiga menit sebelum membuka laptopnya. Tiga menit itu tidak ia isi dengan apa pun. Tidak membaca ponsel, tidak memeriksa email. Hanya berdiri dan menatap keluar. Saya tidak tahu ini sebelumnya karena biasanya saya masih di kamar mandi pada jam itu.
Saya perhatikan juga bahwa ia menyimpan pulpen di saku kanan jasnya, selalu, dan ketika pulpen itu tidak ada — karena terjatuh, atau tertinggal di meja rapat — tangannya sesekali bergerak ke saku itu dan menemukan kekosongan, dan ada sesuatu yang sangat kecil bergerak di wajahnya, sesuatu yang tidak akan terlihat kalau tidak sedang memperhatikan.
Saya perhatikan bahwa ia membaca laporan dengan cara mengetuk meja dengan dua jari secara berirama, pelan, tanpa menyadarinya. Dan bahwa ritme ketukannya melambat kalau ada bagian yang menarik perhatiannya.
Semua ini saya simpan. Bukan di kolom. Bukan di spreadsheet.
Di tempat yang tidak perlu diarsipkan.
* * *
Rabu sore, saya mulai.
Dadang meninggalkan pulpennya di meja makan saat sarapan — ia terburu-buru karena ada panggilan dari kantor lebih awal dari biasanya. Saya melihat pulpen itu masih di sana setelah ia pergi, dan saya mengambilnya, dan saya menyelipkannya ke saku kanan jasnya yang tergantung di belakang pintu kamar sebelum ia keluar.
Ia tidak berkomentar soal itu. Tapi sore harinya, ketika ia pulang dan melepas jas di tempat biasa, saya melihat tangannya bergerak ke saku kanan — refleks — dan menemukan pulpennya di sana. Gerakannya berhenti sebentar. Hanya sebentar. Lalu ia melanjutkan melepas jasnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Saya menghitung itu sebagai: berhasil. Tanpa spreadsheet.
* * *
Kamis malam adalah Waktu Berkualitas yang terjadwal.
Dadang muncul tepat pukul tujuh, meletakkan ponselnya di laci, dan duduk di sofa dengan postur seseorang yang sudah mempersiapkan diri untuk dua jam yang terstruktur. Saya sudah menunggu di sana dengan dua gelas teh — bukan kopi, karena kopi malam hari membuat tidurnya mundur dua puluh menit dan ia tidak pernah menyebutkan ini sebagai masalah tapi saya perhatikan sendiri.
Dadang melihat ke gelasnya. Lalu ke saya.
“Teh.”
“Kamu tidak bisa tidur kalau minum kopi lewat dari jam tujuh.”
Ia diam sebentar. “Kamu tahu itu.”
“Saya perhatikan.”
Ekspresinya bergerak dengan cara yang belum sepenuhnya bisa saya baca, tapi saya sudah cukup mengenal wajahnya untuk tahu bahwa ini bukan ekspresi netralnya. Ini ekspresi ketika ada sesuatu yang ia proses dan belum memutuskan cara meresponsnya.
Ia mengambil gelasnya. Minum. Tidak membuka agenda.
Kami duduk dalam keheningan yang, dua minggu lalu, ia sebut sebagai tidak produktif. Malam ini ia tidak menyebutnya apa-apa. Ia hanya duduk, dan minum tehnya, dan sesekali melirik ke arah saya dengan cara yang membuat saya merasa sedang diobservasi oleh seseorang yang biasanya ia sendiri yang diobservasi.
“Kamu tidak bawa agenda?” tanyanya akhirnya.
“Tidak.”
“Tidak ada topik cadangan?”
“Tidak.”
Dadang mengangguk pelan, seperti orang yang baru menerima data baru dan sedang memasukkannya ke dalam model yang sudah ada. “Jadi kita ngobrol tentang apa?”
Saya memikirkan ini. Lalu saya berkata, “Ceritakan tiga menit di depan jendela.”
Dadang menatap saya.
“Setiap pagi,” kata saya, “kamu berdiri di depan jendela selama kira-kira tiga menit sebelum buka laptop. Saya penasaran kamu memikirkan apa.”
Keheningan yang menyusul punya tekstur yang berbeda dari keheningan sebelumnya. Lebih berat sedikit. Lebih dalam.
Dadang melihat ke gelasnya. “Kamu perhatikan itu.”
“Sudah lama.”
“Kenapa tidak pernah bertanya?”
“Baru ketemu momen yang tepat.”
Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum penuh. Sesuatu yang lebih kecil, lebih jarang keluar, yang saya pelajari artinya bukan dari buku mana pun melainkan dari delapan bulan duduk di ruangan yang sama dengan orang ini.
“Tidak memikirkan apa-apa yang spesifik,” kata Dadang akhirnya. “Atau mungkin terlalu banyak hal sekaligus sehingga tidak ada yang cukup jelas untuk dinamai. Tiga menit itu —” ia berhenti, seperti sedang mencari kata yang tepat, dan saya tunggu karena Dadang tidak pernah berhenti di tengah kalimat tanpa alasan. “— adalah satu-satunya waktu dalam sehari di mana saya tidak merasa harus menghasilkan sesuatu.”
Saya tidak menjawab. Saya hanya mendengarkan, dan minum teh saya, dan membiarkan kalimat itu berada di udara ruangan tanpa perlu diberikan respons yang terstruktur.
Dadang melihat ke saya. “Kamu tidak akan mencatatnya di spreadsheet?”
“Saya tidak punya spreadsheet.”
“Kamu bisa meminjam milik saya.”
Saya tertawa. Pelan, tapi sungguhan. “Tidak perlu. Saya simpan di sini.” Saya menunjuk ke dada saya, ke tempat yang tidak punya kolom dan tidak butuh diarsipkan.
Dadang menatap titik yang saya tunjuk. Lalu menatap saya. Dan kali ini ekspresinya tidak masuk ke kategori mana pun yang sudah saya pelajari — ini sesuatu yang baru, sesuatu yang belum punya nama dalam sistem klasifikasi yang sedang kami bangun berdua selama delapan bulan ini.
Tapi saya tidak butuh nama untuk mengerti artinya.
* * *
Jumat pagi, saya bangun lebih awal.
Bukan untuk menempel post-it. Bukan untuk mengetik jadwal di kalender. Saya bangun lebih awal karena saya ingin sudah ada di dapur ketika Dadang turun dengan kopi pertamanya, sudah di depan jendela itu, dan saya ingin berdiri di sampingnya selama tiga menit tanpa mengatakan apa-apa.
Dadang turun pukul enam lebih dua belas. Ia melihat saya sudah di dapur dan ekspresinya menunjukkan bahwa ini di luar variabel yang ia antisipasi.
“Kamu kenapa bangun pagi?”
“Tidak ada alasan khusus.”
Ia menuang kopinya. Ia berdiri di depan jendela. Saya berdiri di sampingnya, bukan tepat di sampingnya, tapi cukup dekat untuk merasakan bahwa ia ada di sana. Di luar, Jakarta belum sepenuhnya bangun — langitnya masih abu-abu kebiruan, dan suara kota belum mencapai volumenya yang penuh.
Tiga menit berlalu.
Dadang tidak membuka laptopnya segera. Ia berdiri satu menit lagi, yang berarti hari ini jatahnya empat menit, dan saya pikir itu perkembangan yang baik meskipun saya tidak punya data pembanding yang cukup untuk membuktikannya secara statistik.
Lalu ia berpaling ke saya. “Kamu mau kopi?”
“Boleh.”
Ia menuangkan kopi untuk saya juga. Kami minum berdiri di depan jendela, dan tidak ada agenda, dan tidak ada topik cadangan, dan tidak ada kolom yang perlu diisi.
Ini bukan seratus satu cara.
Ini hanya satu. Yang saya temukan sendiri, tanpa buku, dengan cara yang tidak bisa dijadwalkan dan tidak butuh pengingat tiga puluh menit sebelumnya.
Tapi rasanya — dan ini adalah data yang paling akurat yang pernah saya kumpulkan dalam delapan bulan terakhir — seperti sesuatu yang benar.
* * *
— Selesai —