Bab tujuh membahas memasak untuk istri.
Saya membaca bab ini dua kali, kemudian membaca ulang catatan kaki di halaman sembilan puluh tiga yang menyatakan bahwa memasak untuk istri tidak harus sempurna — yang penting adalah usaha dan perhatian di baliknya. Saya menggaris bawahi kalimat itu dengan pulpen merah, lalu menulis di margin: definisi sempurna perlu dikalibrasi ulang.
Ini, saya sadari kemudian, adalah kesalahan pertama.
Kesalahan kedua adalah membuka empat tab resep sekaligus dan memilih yang tingkat kesulitannya paling tinggi dengan asumsi bahwa hasil yang lebih baik membutuhkan proses yang lebih kompleks. Logika ini bekerja dengan baik di hampir semua aspek pekerjaan saya. Dapur, rupanya, menggunakan sistem operasi yang berbeda.
Kesalahan ketiga adalah tidak memberitahu Nur Amalia.
Perencanaan saya matang. Jadwal eksekusi: Sabtu siang, ketika Nur Amalia pergi ke pasar dengan Vina — kegiatan rutin dua minggu sekali yang biasanya memakan waktu dua sampai tiga jam. Cukup untuk menyiapkan satu hidangan utama dan satu hidangan pendamping. Saya sudah membuat daftar bahan pada Jumat malam, sudah memesan sebagian lewat aplikasi dan sisanya saya beli sendiri di pagi hari. Semua variabel tampak terkendali.
Nur Amalia berangkat pukul sepuluh. Saya mulai pukul sepuluh lewat lima belas, setelah memastikan semua bahan sudah tertata di meja dapur sesuai urutan pemakaian.
Pukul sebelas, asapnya mulai.
* * *
Masalahnya bukan pada bawang. Bawang berjalan sesuai rencana — dikupas, diiris, ditumis sampai harum. Masalahnya adalah pada saat bersamaan saya juga merebus kaldu, memotong sayuran, dan mencoba membaca instruksi di layar ponsel yang tertempel di kulkas dengan jarak yang, saya akui, terlalu jauh untuk dibaca tanpa kacamata yang saya tinggal di kamar.
Saya tidak mengambil kacamata karena tangan saya sedang berminyak.
Saya tidak mematikan api bawang karena saya pikir masih ada waktu.
Saya tidak punya waktu.
Hasilnya adalah bawang yang warnanya bergeser dari kuning keemasan ke cokelat tua ke sesuatu yang tidak ada namanya di buku resep mana pun, dan dapur yang dalam dua puluh menit sudah mengeluarkan sejenis deklarasi diri berupa asap tipis yang bergerak menuju sensor alarm di langit-langit.
Alarm berbunyi tepat pukul sebelas dua belas.
Saya mematikan kompor, membuka jendela, dan berdiri di tengah dapur dengan spatula di tangan, mengevaluasi situasi. Di wajan: bawang yang tidak bisa diselamatkan. Di panci: kaldu yang untungnya baik-baik saja. Di meja: sayuran yang setengahnya sudah terpotong dan setengahnya belum. Di langit-langit: alarm yang masih berbunyi karena saya lupa cara mematikannya.
Saya mencari manual alarm di laci. Tidak ada. Saya mencarinya di ponsel. Hasilnya adalah delapan belas langkah yang membutuhkan akses ke panel listrik.
Saya pergi ke panel listrik.
Alarm berhenti.
Keheningan yang menyusul terasa seperti keheningan setelah keputusan rapat yang buruk — semua orang tahu apa yang baru terjadi, tidak ada yang mau jadi yang pertama bicara.
* * *
Saya memulai dari awal dengan bawang baru.
Kali ini saya mengambil kacamata. Kali ini saya membaca instruksi dari jarak yang tepat. Kali ini saya tidak mencoba melakukan tiga hal sekaligus, melainkan menyelesaikan satu hal sebelum memulai yang berikutnya, meskipun ini berarti jadwal saya mundur empat puluh menit dari rencana awal.
Nur Amalia kembali pukul satu siang.
Makanannya selesai pukul satu lewat delapan menit.
Ini, dari sudut pandang manajemen waktu, adalah kegagalan. Dari sudut pandang lain yang belum sepenuhnya bisa saya kategorikan, ini adalah delapan menit yang paling menegangkan dalam delapan bulan pernikahan kami — termasuk pembacaan wasiat.
Nur Amalia masuk dengan kantong belanjaan di kedua tangan dan berhenti di ambang dapur. Ia melihat ke meja yang sudah saya rapikan. Ke kompor yang masih sedikit berminyak meskipun sudah saya lap. Ke dua piring yang sudah saya tata dengan cara yang pengarang buku menyebutnya sebagai presentasi sederhana namun penuh perhatian.
Lalu ia melihat ke saya.
“Kamu masak.”
“Ya.”
“Sendiri.”
“Ya.”
“Di dapur kita.”
Saya tidak yakin apakah ini pertanyaan atau inventarisasi fakta. “Ya.”
Nur Amalia meletakkan kantong belanjaannya perlahan, dengan cara seseorang yang sedang memastikan tangan mereka bebas untuk keperluan berikutnya yang belum jelas. Ia mendekati meja, melihat ke piring pertama, lalu ke piring kedua. Hidungnya bergerak sedikit.
“Kenapa bau sedikit gosong?”
“Insiden bawang. Sudah diselesaikan.”
“Insiden.”
“Variabel yang tidak masuk dalam perencanaan awal. Sudah diatasi dan tidak berdampak pada hasil akhir.”
Nur Amalia menatap saya cukup lama. Wajahnya membawa ekspresi yang sudah sedikit saya pelajari dalam delapan bulan ini — ekspresi ketika ia memproses sesuatu yang tidak ia antisipasi dan belum memutuskan cara meresponsnya.
Kemudian ia duduk. Mengambil sendok. Dan makan.
* * *
Saya duduk di seberangnya dan mengamati dengan cara yang saya harap tidak terlalu terlihat seperti pengamatan.
Bab tujuh tidak membahas apa yang harus dilakukan saat menunggu istri mencicipi masakan pertama yang pernah suami buat untuknya. Ini adalah gap konten yang signifikan, mengingat ini adalah momen dengan tingkat ketidakpastian yang cukup tinggi dan tidak ada protokol yang jelas untuk diikuti.
Nur Amalia makan tanpa berkata apa-apa. Ini bisa berarti banyak hal. Saya mencoba tidak menarik kesimpulan terlalu cepat dari data yang belum lengkap.
Lalu piringnya kosong.
Ia mengambil sedikit lagi dari panci di tengah meja — tindakan yang tidak saya antisipasi dan karenanya tidak saya masukkan ke dalam skenario awal — dan memakannya juga sampai habis.
Saya mencatat ini sebagai data penting.
“Rasanya seperti apa?” tanya saya akhirnya, karena menunggu tanpa bertanya mulai terasa seperti rapat tanpa agenda yang berkepanjangan.
Nur Amalia meletakkan sendoknya. Ia memikirkan pertanyaan itu dengan keseriusan yang, untuk pertanyaan tentang masakan, tampaknya berlebihan — tapi kemudian saya ingat bahwa ini Nur Amalia, dan Nur Amalia tidak menjawab pertanyaan dengan sembarangan.
“Seperti masakan orang yang pertama kali masak,” katanya, “tapi bukan dalam arti yang buruk.”
Saya menunggu kalimat berikutnya.
“Rasanya seperti seseorang yang baca resep dengan sangat serius tapi tetap tidak bisa sepenuhnya mengontrol hasilnya. Ada bagian yang terlalu asin sedikit. Ada bagian yang kurang matang sedikit.” Ia berhenti. “Tapi habis.”
“Dua kali,” kata saya, karena data harus dicatat dengan akurat.
Sudut bibir Nur Amalia bergerak. Bukan senyum penuh. Sesuatu yang lebih kecil dari itu, tapi juga entah kenapa terasa lebih berat. “Dua kali,” ia mengonfirmasi.
Saya membuat catatan mental untuk merevisi definisi berhasil dalam konteks memasak. Selama ini saya mengukurnya dari hasil — apakah rasanya sesuai standar. Tapi ada kemungkinan bahwa dalam konteks ini, habis dimakan dua kali oleh satu orang adalah metrik yang lebih relevan.
Ini adalah temuan yang tidak ada di bab tujuh.
Mungkin tidak ada di bab mana pun.
* * *
Nur Amalia membantu saya mencuci piring setelahnya, meskipun saya sudah menyatakan bahwa mencuci piring adalah bagian dari tanggung jawab saya hari ini dan tidak perlu dibagi.
“Kamu sudah masak,” katanya, mengambil piring dari tangan saya dengan cara yang tidak memberi ruang untuk negosiasi. “Cuci piring kita bagi.”
“Itu tidak efisien. Satu orang yang fokus lebih cepat daripada dua orang yang berbagi.”
“Bukan soal efisiensi.”
“Soal apa?”
Nur Amalia tidak menjawab. Ia menyabuni piring dengan gerakan yang sudah sangat hafal, gerakan tangan seseorang yang sudah melakukan ini ribuan kali sebelum ada orang lain di dapur bersamanya. Dan saya berdiri di sampingnya dengan handuk untuk mengeringkan, dan dapur yang tadi berasap itu menjadi diam dengan jenis ketenangan yang berbeda dari ketenangan setelah alarm berbunyi.
Ini juga tidak ada di bab tujuh.
Tapi saya pikir ini yang dimaksud pengarang ketika ia menulis, di halaman pertama bukunya, bahwa memasak untuk istri bukan tentang makanannya.
Waktu itu saya membaca kalimat itu dan menganggapnya terlalu abstrak untuk dioperasionalkan.
Sekarang saya mengerti maksudnya. Dan pemahaman itu datang bukan dari membaca ulang kalimatnya, melainkan dari berdiri di dapur yang bau sedikit gosong, mengeringkan piring yang dicuci oleh perempuan yang mengambilnya dari tangan saya tanpa memberi ruang untuk negosiasi.
Saya mencatat temuan ini.
Tidak di spreadsheet. Tidak di margin buku.
Di tempat yang tidak punya kolom dan tidak butuh diarsipkan.
* * *
— Selesai —