Masalahnya bermula ketika saya menemukan buku itu di toko buku lantai dua, di rak berlabel Pengembangan Diri & Hubungan, tepat di sebelah buku tentang manajemen keuangan rumah tangga.
“101 Cara Menjadi Suami yang Lebih Romantis.”
Saya membaca judul itu dua kali. Lalu saya menghitung. Delapan bulan saya dan Nur Amalia sudah menikah. Dan dalam delapan bulan itu, sejauh yang bisa saya evaluasi secara objektif, saya belum pernah melakukan satu pun dari seratus satu cara tersebut — karena saya belum tahu daftarnya.
Ini adalah gap informasi yang bisa diperbaiki.
Saya membeli bukunya. Juga satu pulpen merah untuk menandai bagian penting. Ini bukan pengeluaran. Ini investasi dengan ROI yang, jika dikelola dengan baik, seharusnya terukur.
* * *
Malam itu saya membaca sampai bab empat.
Bab satu: Kejutan Kecil yang Bermakna. Pengarang menyarankan suami meninggalkan catatan kecil di tempat-tempat tak terduga — cermin kamar mandi, kotak makan siang, saku jaket. Pesannya tidak perlu panjang. Cukup sesuatu yang menunjukkan suami memikirkan istrinya.
Saya membuka laptop dan membuat spreadsheet.
Kolom pertama: lokasi. Kolom kedua: isi pesan. Kolom ketiga: tanggal pelaksanaan — supaya tidak ada pengulangan dalam satu minggu yang sama, karena pengulangan menurunkan nilai kejutan sebesar estimasi tiga puluh persen berdasarkan logika dasar.
Senin: cermin kamar mandi. “Kamu cantik hari ini.” Singkat. Efisien. Berdasarkan fakta yang dapat diobservasi.
Selasa: kotak makan siang. “Semoga harimu menyenangkan.” Saya mempertimbangkan tanda seru di akhir, lalu memutuskan tidak perlu berlebihan.
Rabu: saku jaket Nur Amalia yang sering ia pakai — yang biru gelap, bukan yang abu-abu karena yang abu-abu jahitannya sudah mulai longgar di bagian kiri dan saya sudah mengingatkannya untuk dibawa ke tukang jahit.
Saya cetak jadwal itu dan simpan di dalam laci meja kerja.
* * *
Senin pagi saya bangun dua puluh menit lebih awal.
Saya menulis pesan di selembar post-it — toko tidak menjual warna merah muda, jadi kuning harus cukup mewakili — dan menempelkannya di cermin kamar mandi. Ketinggian saya kalkulasi berdasarkan tinggi badan Nur Amalia yang saya perkirakan seratus lima puluh delapan sentimeter, dikurangi rata-rata sudut pandang saat berdiri di depan cermin. Hasilnya: dua pertiga tinggi cermin dari bawah, sedikit ke kiri dari tengah agar tidak menghalangi pantulan wajah.
Saya menunggu di dapur sambil menyeduh kopi.
Empat menit kemudian, Nur Amalia keluar dari kamar mandi. Post-it kuning itu di tangannya. Wajahnya membawa ekspresi yang tidak langsung bisa saya kategorikan.
“Ini kamu yang tempel?”
“Ya.”
“Di cermin?”
“Di ketinggian yang saya kalkulasi berdasarkan tinggi badanmu. Supaya tidak perlu membungkuk saat membacanya.”
Nur Amalia menatap saya. Lalu menatap post-it-nya. “Kamu cantik hari ini.” Ia membacanya keras, pelan. “Hari ini. Berarti kemarin tidak?”
Saya tidak mengantisipasi pertanyaan ini. “Kemarin kamu juga cantik. Kalimatnya spesifik untuk hari ini karena saya menulisnya hari ini.”
“Jadi kenapa tidak ditulis kamu selalu cantik?”
“Karena belum cukup data longitudinal untuk mendukung klaim absolut. Baru delapan bulan.”
Nur Amalia mengedipkan mata. Satu kedipan panjang, jenis kedipan yang saya pelajari artinya: saya tidak tahu harus merespons apa. Tapi ia menyimpan post-it itu di saku piyamanya sebelum pergi ke dapur. Saya catat itu sebagai: respons positif, perlu observasi lanjutan.
* * *
Selasa berjalan lebih lancar. Nur Amalia mengirim pesan saat makan siang: “Ada catatan di kotak makanku.”
Saya balas: “Terkonfirmasi tersampaikan.”
Balasannya: “…”
Saya interpretasikan sebagai apresiasi yang sedang diproses.
Rabu adalah komplikasi. Nur Amalia tidak membawa jaket biru gelapnya karena cuaca panas dan ia memutuskan tidak perlu jaket. Ini variabel cuaca yang tidak saya masukkan ke dalam model perencanaan. Saya revisi spreadsheet: jadwal jaket digeser ke Jumat dengan notasi conditional on weather forecast.
Adaptasi terhadap kondisi lapangan adalah tanda eksekusi yang profesional.
* * *
Bab dua: Waktu Berkualitas Bersama.
Pengarang menulis bahwa suami yang baik menyisihkan waktu khusus — bukan waktu sisa, tapi waktu yang benar-benar dialokasikan. Minimal satu malam per minggu, tanpa gawai.
Saya buka Google Calendar. Saya buat recurring event setiap Kamis malam pukul tujuh sampai sembilan. Label: Waktu Berkualitas — Nur Amalia. Pengingat: tiga puluh menit sebelum mulai.
Kamis malam, pukul enam lima puluh delapan, saya meletakkan ponsel di laci dan menemui Nur Amalia di ruang tengah.
“Mulai pukul tujuh,” kata saya, “kita punya waktu berkualitas. Dua jam. Tanpa gawai.”
Nur Amalia melihat ke saya dari atas kaus kaki yang sedang ia lipat. “Waktu apa?”
“Berkualitas. Dua orang, tanpa distraksi digital.”
“Kamu menjadwalkannya.”
“Ya. Supaya tidak bentrok dengan rapat malam atau hal lain yang mendadak.”
Nur Amalia meletakkan kaus kaki di atas tumpukan yang sudah rapi. Caranya meletakkan itu — terlalu hati-hati, terlalu pelan — membuat saya merasa ada sesuatu yang sedang ia tahan.
“Lalu kita ngapain,” katanya, “selama dua jam itu?”
Saya mengeluarkan selembar kertas dari saku. Nur Amalia menatap kertas itu. Matanya bergerak membaca judul di bagian atas: Agenda Waktu Berkualitas — Kamis.
“Dadang.”
“Poin pertama: mengobrol dua puluh sampai tiga puluh menit. Topik bebas. Tapi saya siapkan beberapa opsi di bawah jika diperlukan untuk efisiensi.”
Nur Amalia mengambil kertas itu dari tangan saya. Ia membacanya. Ekspresinya melewati beberapa tahap. Alis naik pada poin dua. Bibir bergerak sedikit pada poin tiga. Dan pada bagian daftar topik cadangan di bawah — a. pekerjaan minggu ini, b. rencana akhir pekan, c. apakah ada hal yang perlu dievaluasi dari minggu lalu — sesuatu di wajahnya retak.
Ia tertawa.
Bukan tawa kecil. Bukan tawa sopan. Tawa yang keluar sepenuhnya, yang membuat ia harus duduk di sofa karena rupanya tertawa dan berdiri sekaligus terlalu banyak untuk dilakukan bersamaan. Kertas agenda itu jatuh ke lantai dan ia membiarkannya.
Saya memungut kertas itu. Saya tidak sepenuhnya mengerti bagian mana yang memicunya.
“Kamu,” kata Nur Amalia di sela tawanya yang mulai mereda, “membuat daftar topik cadangan. Untuk ngobrol. Dengan istrimu sendiri. Di rumahmu sendiri.”
“Untuk mengantisipasi keheningan yang tidak produktif.”
“Dadang.” Ia menyebut nama saya dengan nada yang sudah lebih terkontrol, tapi matanya masih berkilat. “Keheningan antara suami istri tidak harus produktif.”
“Bab tiga belum saya baca. Mungkin dibahas di sana.”
Nur Amalia menatap saya. Lama. Lalu senyumnya berubah — lebih pelan, lebih ke dalam — jenis senyum yang berbeda dari tawa tadi. Senyum yang, saya perhatikan, tidak sering ia keluarkan untuk orang lain.
“Kamu beli buku.”
“Ya.”
“Buku tentang menjadi suami romantis.”
“Seratus satu caranya. Sudah saya tandai bagian yang relevan dengan pulpen merah.”
“Tentu sudah.”
Ia menggeleng pelan, tapi senyumnya tidak hilang.
“Kenapa?”
Pertanyaan pendek. Saya menyusun beberapa jawaban, lalu membuang semuanya karena tidak ada yang lebih tepat dari yang sebenarnya.
“Karena saya ingin menjadi suami yang baik untuk kamu. Dan saya tidak memiliki referensi yang cukup untuk melakukannya secara intuitif. Jadi saya mencari data.”
Nur Amalia tidak langsung menjawab.
“Delapan bulan,” kata saya. “Saya menghitung. Kemungkinan ada variabel yang belum saya optimalkan.”
“Dadang.” Ia bangkit dari sofa, memungut kertas agenda dari tangan saya, melipatnya rapi — cara melipatnya persis seperti ia melipat surat-surat penting yang ia simpan — dan meletakkannya di meja. “Kamu tahu post-it kuning itu ada di mana sekarang?”
Saya mengikuti arah pandangannya. “Di saku piyama?”
“Saya pindah ke dompet kemarin.” Ia tidak melihat ke saya saat mengatakannya. “Di belakang KTP.”
Di dada saya terjadi sesuatu yang tidak ada dalam bab mana pun dari buku itu.
“Kalimatnya tidak akurat secara statistik, katamu,” lanjut Nur Amalia, pelan. “Tapi ada orang yang bangun lebih pagi untuk menempelkannya di ketinggian yang tepat supaya saya tidak perlu membungkuk.” Ia akhirnya menatap saya. “Tidak banyak orang yang melakukan itu.”
Saya tidak berkata apa-apa. Saya sedang memproses.
“Agenda malam ini tidak perlu diikuti.”
“Tidak perlu.”
“Topik cadangannya juga tidak perlu.”
“Sama sekali tidak perlu.”
Kami duduk di sofa. Berdampingan. Nur Amalia mengambil kaus kaki yang tadi belum selesai dilipat dan melanjutkan pekerjaannya, dan saya membiarkan saja karena malam ini tampaknya tidak ada agenda yang perlu dipertahankan.
Keheningan itu berlangsung beberapa menit. Dan saya harus mengakui — dengan data empiris yang baru saja saya kumpulkan malam ini — bahwa Nur Amalia benar. Keheningan ini tidak canggung sama sekali.
“Bukunya ada di mana?” tanya Nur Amalia.
“Kamar. Rak sebelah kiri. Kenapa?”
“Boleh saya baca?”
“Tentu. Tapi beberapa halaman sudah saya lipat dan ada catatan di margin.”
“Saya tahu pasti sudah ada catatan di margin.” Ia berdiri, masuk ke kamar, dan kembali dengan buku itu di tangannya. Ia duduk lagi — lebih dekat dari tadi, kepalanya bersandar ringan di bahu saya — dan membuka buku itu di bab pertama.
Saya tidak bergerak.
Di laptop saya, spreadsheet itu masih terbuka. Masih rapi. Kolom-kolomnya masih berwarna, jadwalnya masih terurut sampai akhir bulan.
Besok saya mungkin akan menyimpan filenya dan tidak membukanya lagi.
Beberapa hal, saya mulai pahami malam ini, tidak menjadi lebih baik karena dijadwalkan. Mereka menjadi lebih baik karena diperhatikan. Dan perhatian, tidak seperti spreadsheet, tidak punya kolom untuk diisi.
Nur Amalia membalik halaman. Saya mendengar suaranya pelan, hampir untuk dirinya sendiri: “Kamu cantik hari ini. Delapan bulan dan belum cukup data longitudinal.”
Lalu ia tertawa lagi, kecil, dan saya biarkan saja karena suara itu adalah suara yang ingin terus saya dengar — tanpa perlu dijadwalkan, tanpa perlu diagendakan, tanpa perlu satu pun dari seratus satu cara yang masih tersisa di buku itu.
* * *
— Selesai —