*Chapter 1: Hujan Pertama*
Bel SMA Garuda Bangsa berbunyi tepat pukul 15.30. Suaranya tajam, memotong keramaian lapangan basket yang dari tadi riuh sama teriakan “Dunk! Dunk!”.
Aku buru-buru merapikan sapu lidi di tangan. Hari ini tugasku lebih banyak dari biasanya. Pak RT—kepala bagian kebersihan—bilang ada tamu penting dari dinas pendidikan yang bakal muter-muter sekolah sore ini.
“Raka! Jangan lama-lama di sana. Nanti kalau ketahuan nongkrong, potong gajimu!”
Suara Pak RT dari ujung koridor bikin aku langsung jalan cepat ke taman belakang.
Taman belakang. Satu-satunya tempat di SMA Garuda Bangsa yang catnya masih mengelupas dan rumputnya tumbuh liar. Tempat yang gak pernah dilewati anak-anak beasiswa, apalagi anak pemilik yayasan.
Aku duduk di bangku kayu yang cat hijaunya udah pudar. Hujan gerimis mulai turun, jatuh di ujung sepatu kets bututku. Aku suka hujan. Hujan bikin semua orang sama. Basah, kedinginan, gak ada yang kelihatan lebih mahal.
“Kamu siapa? Kenapa ada di sini?”
Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang pohon mangga. Aku menoleh.
Dia berdiri di sana, basah kuyup. Rambut panjangnya menempel di pipi, seragam putihnya jadi transparan. Tas Chanel-nya digenggam erat, kayak takut jatuh dan kotor kena tanah.
Nadya Pramesti. Putri tunggal pemilik SMA Garuda Bangsa. Orang yang fotonya selalu ada di mading “Siswa Berprestasi” setiap bulan. Juara olimpiade matematika, ketua OSIS, dan katanya, calon istri anak menteri.
“Aku… Raka. Kebersihan,” jawabku singkat. Gak perlu panjang-panjang. Dia juga gak bakal peduli.
Mata Nadya menyipit. “Kebersihan? Kamu anak beasiswa?”
Aku mengangguk. Percuma bohong. Di sekolah ini, statusmu nempel di seragam. Dasiku biru tua. Dasi dia emas.
Nadya mendekat dua langkah, lalu berhenti. Jarak kami kayak jarak kelas 1 dan kelas 12. Dekat, tapi gak pernah nyambung.
“Pindah. Bangku itu punyaku.”
Aku terdiam. Punyanya? Bangku reyot ini?
“Maaf, tapi gak ada nama di bangku ini.”
Nadya mendengus. “Kamu gak ngerti, ya? Ini tempat aku kalau kabur dari rapat OSIS. Kalau aku mau tenang.”
Aku menatap matanya. Ada sesuatu di sana. Lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah jadi Nadya Pramesti.
Hujan makin deras. Aku berdiri, mengalah.
“Silakan. Aku selesai juga.”
Saat aku lewat, bahunya menyenggol lenganku. Dingin. Dia berbisik pelan, cukup buat aku dengar:
“Besok jangan ke sini lagi. Kalau ketahuan papa, kamu bisa dikeluarkan.”
Aku gak jawab. Aku cuma jalan keluar dari taman, melewati gerbang besi yang berkarat. Dari luar, aku dengar dia menarik napas dalam-dalam. Kayak orang yang baru aja berhasil nahan tangis.
---
Besoknya, aku ke sana lagi.
Bodoh? Mungkin. Tapi aku penasaran. Orang sekaya Nadya Pramesti, apa yang bikin dia kabur ke tempat kumuh kayak gini?
Dia udah duduk di sana duluan. Kali ini gak hujan. Matahari sore bikin wajahnya jadi hangat. Dia lagi baca buku tebal tanpa sampul. Buku tua.
“Kenapa kamu balik lagi?” tanyanya tanpa menoleh. Suaranya datar, tapi gak sejutek kemarin.
“Aku yang datang duluan kemarin,” kataku, duduk di ujung bangku yang lain. Jaga jarak dua meter. Biar aman.
Nadya menutup bukunya. “Kamu gak takut dikeluarkan?”
“Aku udah terbiasa takut,” jawabku jujur. “Tapi kalau gak datang ke sini, aku gak tau harus istirahat di mana. Kelas penuh sama anak-anak yang ngomongin liburan ke Jepang. Aku gak nyambung.”
Nadya menatapku lama. Kayak lagi scan barang bekas di toko loak.
“Kamu beda,” katanya pelan.
“Aku miskin,” koreksiku.
Nadya menggeleng. “Bukan itu. Kamu… gak pura-pura.”
Dia menyodorkan bukunya. _Laskar Pelangi_.
“Udah baca?”
Aku menggeleng. Buku mahal.
“Pinjam. Tapi jangan ketahuan. Kalau hilang, aku yang ganti.”
Aku menerima buku itu dengan dua tangan. Jari kami sempat bersentuhan. Dingin.
Hari itu kami gak ngomong banyak. Cuma duduk, diapit sunyi dan suara jangkrik dari semak-semak. Tapi anehnya, sunyi itu gak canggung.
---
Seminggu berlalu. Polanya sama.
Bel berbunyi. Aku ke taman. Dia udah di sana.
Kami ngobrol hal kecil. Tentang PR matematika yang susah, tentang Pak RT yang galak, tentang kucing liar yang tinggal di gudang olahraga.
Nadya ternyata suka es krim rasa stroberi. Tapi dia gak pernah beli. Katanya, kalorinya bikin gemuk.
Aku suka bakwan 1000-an di depan sekolah. Gorengnya garing, pedesnya pas.
“Kamu gak boleh makan itu,” katanya suatu sore sambil ngerengut. “Jorok.”
“Tapi enak,” balasku sambil nyuap bakwan. “Mau coba?”
Nadya menggeleng keras. Tapi matanya ngelirik bakwan itu lama.
Aku ngasih satu. Dia nolak. Tapi lima menit kemudian, pas aku gak lihat, bakwan itu udah habis.
Kami ketawa kecil. Pertama kalinya.
Hari itu juga ada anak OSIS yang motret kami dari kejauhan. Flash kameranya nyala sebentar. Aku gak peduli. Nadya langsung berdiri, mukanya pucat.
“Besok jangan ke sini lagi,” katanya. Suaranya bergetar. “Kalau foto ini nyebar, habis kita berdua.”
Aku mengangguk. Tapi di dalam hati, aku udah tau.
Terlambat.
Karena mulai hari itu, aku sadar.
Taman belakang ini bukan cuma tempat kabur.
Ini tempat aku jatuh cinta.
Dan cinta di tempat kayak gini…
kayaknya gak bakal punya musim kedua
---
Bersambung