Hujan turun pelan malam itu. Kota kecil itu dipenuhi lampu jalan yang remang-remang, sementara Alena duduk sendirian di halte dengan sweater abu-abu kebesaran milik seseorang yang paling ingin ia lupakan… tapi tidak bisa.
Tangannya gemetar memegang ponsel.
Di layar, ada dua nama.
Raka ❤️
dan
Mama
Air matanya jatuh tanpa suara.
Beberapa menit sebelumnya, hidupnya berubah dalam satu malam.
“Kalau kamu tetap sama dia… Mama gak akan pernah restui.”
Kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Alena.
Raka bukan cowok jahat. Sama sekali bukan.
Dia cuma laki-laki sederhana. Kerja siang malam jadi montir, tangannya kasar penuh oli, bajunya sering bau bengkel, tapi hatinya… terlalu tulus untuk dunia yang keras ini.
Raka selalu ada.
Saat Alena sakit, Raka datang bawain bubur walau hujan deras.
Saat Alena gagal wawancara kerja, Raka yang duduk berjam-jam nemenin sambil bilang, “Kalau dunia nolak kamu, aku jangan ya.”
Hal sesederhana itu bikin Alena jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Tapi cinta kadang kalah sama keadaan.
Mama Alena ingin anaknya menikah dengan laki-laki mapan. Bukan montir dengan motor tua dan penghasilan pas-pasan.
“Cinta gak bikin kenyang, Lena,” kata mamanya waktu itu.
Dan lebih menyakitkan lagi…
Mama sedang sakit.
Dokter bilang kondisi jantungnya memburuk, dan Alena tahu satu-satunya alasan Mama terus bertahan adalah karena ingin melihat putrinya hidup “bahagia”.
Versi bahagia menurut Mama… bukan bersama Raka.
Malam itu, Alena menemui Raka di bengkel kecil langganannya.
Raka sedang memperbaiki motor sambil bersenandung kecil. Wajahnya langsung cerah begitu lihat Alena datang.
“Kamu kehujanan?” tanyanya panik.
Cowok itu buru-buru mengambil handuk kecil lalu mengeringkan rambut Alena dengan hati-hati.
Sesederhana itu.
Dan justru itu yang menghancurkan hati Alena.
Karena semakin baik Raka… semakin sulit meninggalkannya.
“Aku mau ngomong,” bisik Alena.
Raka berhenti tersenyum.
Entah kenapa, laki-laki itu langsung kelihatan takut.
“Kenapa?”
Alena menunduk. Air matanya mulai jatuh satu-satu.
“Kita selesai ya.”
Sunyi.
Suara hujan di luar bengkel terdengar jauh lebih keras dari biasanya.
Raka tertawa kecil.
Tertawa yang dipaksakan.
“Kamu bercanda kan?”
Alena menggeleng pelan.
Wajah Raka perlahan berubah. Matanya memerah.
“Karena Mama kamu?”
Alena diam.
Dan diamnya sudah jadi jawaban.
Raka mengusap wajah kasar itu pelan lalu mengangguk kecil berkali-kali, seolah sedang mencoba kuat.
“Oke…”
Cuma satu kata.
Tapi suaranya hancur.
“Aku ngerti.”
Padahal jelas-jelas dia tidak baik-baik saja.
“Aku bisa kerja lebih keras, Lena.”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Raka menatap Alena dengan mata penuh putus asa.
“Aku bisa nabung… bisa buka bengkel lebih gede… aku bisa berubah. Jangan tinggalin aku sekarang.”
Tangis Alena pecah.
Karena inilah dilemanya.
Dia mencintai Raka.
Sangat mencintai.
Tapi di sisi lain, ada Mama yang mempertaruhkan hidupnya dengan harapan terakhir.
“Aku capek ada di tengah-tengah,” isaknya.
Raka mendekat perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka pacaran dua tahun, cowok itu terlihat kalah.
“Kamu pilih Mama kamu?”
Alena menangis sambil mengangguk.
Dan detik itu juga… mata Raka benar-benar hancur.
Bukan marah.
Bukan benci.
Tapi kecewa karena ternyata cinta saja memang tidak selalu cukup.
Seminggu kemudian, Alena resmi dijodohkan dengan anak teman Mamanya. Seorang pengusaha muda bernama Evan.
Tampan. Kaya. Sopan.
Sempurna.
Tapi tidak pernah berhasil membuat jantung Alena berdebar seperti Raka.
Sampai suatu malam…
Alena melihat Raka di pinggir jalan.
Hujan deras.
Cowok itu sedang mendorong motornya yang mogok.
Bajunya basah kuyup.
Dan yang paling menyakitkan…
Raka masih memakai gelang rajut pemberian Alena.
Hati Alena runtuh seketika.
Ia hampir turun dari mobil.
Hampir memeluk Raka.
Hampir bilang kalau dia menyesal.
Tapi mobil terus berjalan.
Dan Raka semakin jauh di belakang.
Tiga bulan kemudian…
Mama Alena meninggal dunia.
Sebelum pergi, wanita itu sempat menggenggam tangan Alena sambil berbisik lemah.
“Maafin Mama…”
Alena menangis hebat malam itu.
Karena akhirnya ia sadar…
Semua sudah terlambat.
Mama pergi.
Dan Raka juga sudah pergi.
Alena mendatangi bengkel kecil itu untuk terakhir kali.
Tutup.
Kosong.
Debu memenuhi kaca.
Di pintu bengkel, ada tulisan kecil yang hampir pudar.
“Tutup sementara.”
Tetangga sekitar bilang Raka pindah kota.
Tidak ada yang tahu ke mana.
Alena terduduk lemas di depan bengkel itu sambil menangis sesenggukan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia kehilangan dua orang sekaligus.
Dan dilema itu akhirnya meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Kadang yang paling menyakitkan bukan tentang ditinggalkan.
Tapi tentang memilih…
lalu menyesali pilihan itu seumur hidup.
Selesai