Hi aku Imah berumur 23 tahun. Aku punya keluarga yang cukup berantakan. Dulu sewaktu dikelas tiga SMA orang tuaku bertengkar. Masa laluku sangat suram dan bahkan rasanya hancur. Aku berusaha untuk tenang dikala pertengkaran orang tuaku dimasa itu.karena adikku yang paling kecil bernama zaira yang masih berusia 5 tahun sangatlah penakut. Oleh karena itu aku harus menjadi kakak yang tangguh dan pemberani seperti yang di film film. Karena aku yakin aku pasti bisa menghadapi kekacauan itu. Oh iya aku ini anak pertama dari 4 bersaudara.
Saat dimasa lalu begitu banyak kejadian yang membuatku depresi berat. Bahkan sebelum memasuki bangku SMA. Karena orang tuaku hobi nya bertengkar Mulu bahkan pukulan, cambukan, cubitan ataupun hukuman fisik lainnya itu sudah menjadi hal biasa yang aku hadapi kerena pertengkaran orang tuaku itu selalu melibatkan anak anaknya untuk pelampiasan.
Untungnya saja orang tuaku pisah. Aku senang namun ada sedihnya juga sihh sebab sebagai mana orang tau saat orang tua pisah tentu anaknya yang lebih terkena dampaknya. Adikku yang paling kecil si zaira mengikut ibuku ke kampung halamannya di Sumatra Utara sedangkan aku bersama 2 adikku tetap bersama ayah dan tinggal di Sumbar. Kami pindah dari rumah besar kami kerumah yang mirip dengan gubuk kecil dimana barang yang kami punya juga seadanya berbeda dengan ibu yang membawa barang barang berharga.
Namun itu tidak menakutkan bagiku rasanya seperti terbebas dari rumah besar yang tak damai itu dan digubuk ini rasanya lebih nyaman walaupun ukurannya yang kecil untuk ditinggali oleh empat orang tapi aku senang tidak ada pertengkaran lagi.
Oh iyaa kebahagiaan itu tidak bisa bertahan lama sebab kakak dari ayahku dijodohkan dengan janda yang telah mempunyai anak kembar perempuan. Kukira semua bakal baik baik saja tapi tidakk.
Awal nya kukira ayah bakal bahagia karena bakal ada yang merawatnya disaat aku pergi keluar daerah untuk berkuliah.
Namun saat aku berlibur dan pulang dirumah di tengah malamnya ayah sama ibu tiriku sering ngobrol seperti orang bertengkar bahkan menangis.
Tangisan yang awalnya ditahan tahan pun menguap pelampiasan amarah nya adalah kekami anak kandungnya.
Aku semakin membenci diriku seharusnya aku tidak menyetujui pula pernikahan ayah dengan ibu tiriku karena rasanya tak jauh berbeda dengan ibu kandung.
Jika tinggal dengan ibu kandung itu berupa kekerasan fisik maka tinggal bersama ibu tiri berupa kekerasan mental. Tekanan selalu diberikan mulai dari iuran uang kuliah ku yang harus aku ganti, nilai yang harus tinggi, dan mencari pekerjaan bahkan masih banyak lagi.
Aku bukan bermaksud membenci mereka, aku hanya takut bila aku mengecewakan kepercayaannya kepadaku.aku sangat takut mereka bakal kecewa. Aku berusaha tenang tapi tidak bisa. Aku membeli pisau kecil yang harganya murah berupa seribu rupiah ditoko yang jauh dari kampus dan tempat kosku.aku sering melukai diri ku secara diam diam dikamar mandi. Aku sering menangis dan aku sering bermimpi buruk hingga membuat Ku sulit tidur. Aku sering ke apotik untuk membeli obat tidur dengan menyisihkan uang yang ku punya. Aku juga sering lapar dan disaat perkuliahan aku cenderung memakan sedikit nasi tanpa lauk dan pauknya lebih cenderung dengan nasi dan garam terkadang sekali kali tempat kosku memberikan sebuah gorengan yang bakal ku campur dengan nasi, aku sering makan seecara diam diam. Aku takut meminta uang kepada ayahku karena segala bentuk keuangan harus diminta ke ibu tiriku.
Aku takut dan aku membenci diriku. Mengapa aku lemah. Aku sering meminum obat tidur bila aku mengalami depresi karena menurutku itu meringankan pikiranku. Dan sepertinya aku kecanduan obat tidur bahkan sering kali aku menambah obatnya hingga membuatku sedikit linglung. Aku takut ketahuan jadi aku berusaha agar orang lain tidak tau keadaan ku.
Dan belakangan ini aku juga semakin membenci diriku disaat orang tuaku membandingkan ku dengan anak dari temannya yang sukses. Hal itu membuat ku menjadi takut bila aku mengecewakan mereka. Dan sekarang aku ingin sekali bunuh diri dengan cara kecelakaan atau mencekik leher ku. Tapi selalu gagal dikarenakan ada yang melihat tindakanju saat Dikos. Aku sering berjalan kaki menyusuri kota wisata dan terbesik olehku bagaimana bila aku menabrakkan diriku ke kereta kuda yang melaju diperlintasan jalan apakah aku bakal mati atau hidup dengan keadaan cacat atau bagaimana bila aku melompat dari gedung asrama dari lantai empat seperti yang dilakukan oleh kakak angkat ku.
Tapi aku tak mau jika nama orang tua ku buruk gimana cara mati tanpa mempermalukan orang tua ku aku ingin mati tanpa meninggalkan beban atau pertanyaan aku ingin seperti kecelakaan pada umumnya bukan seperti orang yang bunuh diri. Aku sungguh membenci diriku.
Aku benar-benar anak yang gagal.