Setiap Ahad pagi, Masjid Al-Ikhlas ramai lebih awal dari biasanya. Bukan karena ada bazar, tapi karena Ustadz Faiz bakal ngisi kajian fikih muamalah.
Aku datang jam 7.30. Sengaja. Biar dapat shaf depan dan nggak ketahuan kalau mataku sering nyuri pandang ke barisan akhwat.
Dia selalu duduk di shaf kedua, pojok kanan. Jilbab marun, masker hitam, dan buku catatan kecil warna biru tua. Nggak pernah telat. Nggak pernah absen. Kalau Ustadz Faiz nanya, suaranya pelan tapi tepat. Kayak orang yang emang beneran nyimak, bukan sekadar hadir biar dibilang ngaji.
Namanya aku baru tahu tiga bulan lalu. Waktu panitia minta sukarelawan buat ngurus konsumsi kajian. Namanya Aisyah.
Aisyah. Pantas.
"Mas, bantu angkat air mineralnya dong."
Suara itu nyambar lamunanku. Aisyah berdiri di depanku, tangannya udah penuh kardus snack.
Aku langsung berdiri. "Iya, sini. Berat itu."
Dia cuma mengangguk kecil. "Jazakallah."
Selesai kajian, kami berdua, aku, Aisyah, dan dua akhwat lain, beresin sisa makanan. Nggak ada ngobrol ngalor-ngidul. Cuma bahas mana yang mau dibuang, mana yang bisa disedekahin ke tukang sapu masjid.
Anehnya, obrolan sesingkat itu bikin dadaku anget.
---
Tiga minggu setelah itu, hujan turun deras pas kajian mau selesai. Aku lihat Aisyah berdiri di teras masjid, ngeliatin parkiran motornya yang kehujanan. Nggak bawa jas hujan.
Aku ragu. Ngasih jas hujan ke akhwat yang bukan mahram itu gimana ya? Tapi kalau didiemin, dia kehujanan.
Akhirnya aku titip ke Pak Dimas, marbot masjid. "Pak, tolong kasih ini ke ukhti yang pakai jilbab marun. Bilang aja titipan dari panitia."
Pak Dimas ketawa kecil. "Iya Mas Rayhan. Dari panitia ya."
Minggu depannya, pas beresin konsumsi lagi, Aisyah nyodorin jas hujanku yang udah kering dan dilipat rapi.
"Syukran, Mas. Jas hujannya kebetulan pas banget. Anak saya sakit, jadi kemarin saya buru-buru pulang nggak sempet beli," katanya pelan. Anak?
Aku kaget. "Anak?"
Dia senyum kecil di balik masker. "Iya. Umur 4 tahun. Saya janda, Mas."
Dunia rasanya berhenti sebentar.
Aku nggak tahu harus jawab apa. Selama ini aku kira dia gadis biasa yang rajin ngaji. Ternyata ada cerita yang lebih besar di balik ketenangannya.
---
Dua bulan berlalu. Aku nggak pernah ngobrol panjang lagi sama Aisyah. Tapi setiap kajian, aku selalu pastikan snack buat anaknya nggak ketinggalan. Aku titip ke panitia bagian anak. Katanya, anaknya suka roti coklat.
Sampai suatu hari, Ustadz Faiz bilang di akhir kajian. "Ada yang mau ta'aruf lewat jalur resmi panitia. Yang serius silakan temui saya."
Aku pulang dengan hati berisik.
Malamnya aku sholat istikharah. Panjang. Sampai lututku pegal. Aku minta Allah kasih jalan. Kalau Aisyah emang baik buat aku dan anaknya, dekatkan. Kalau bukan, jauhkan dengan cara yang baik.
Tiga hari kemudian aku ketemu Ustadz Faiz.
"Ustadz, saya mau ta'aruf. Dengan Aisyah."
Ustadz Faiz ngangguk. "Bagus. Dia juga nitip nama kamu minggu lalu."
Ternyata Aisyah juga istikharah. Katanya, dia lihat aku nggak pernah ngobrol aneh-aneh. Cuma bantu diam-diam. Itu yang bikin dia ngerasa aman.
---
Akad nikahnya sederhana. Di serambi masjid yang sama, habis kajian Ahad.
Pas ijab kabul, aku lihat Aisyah nangis pelan. Anaknya, si kecil yang namanya Khadijah, genggam tanganku erat.
Selesai salam, Ustadz Faiz bisik ke aku. "Rayhan, jaga bidadarimu baik-baik. Dia nggak gampang percaya lagi sama laki-laki."
Aku mengangguk.
Aisyah bukan bidadari karena dia sempurna. Dia bidadari karena di tengah luka dan tanggung jawabnya sebagai janda, dia tetap milih duduk di kajian Ahad. Tetap milih jaga hati dan jaga iman.
Dan aku? Aku cuma laki-laki beruntung yang Allah izinkan buat pulang bersamanya.
Tamat