Menurutku, mengenalmu adalah salah satu kesempatan terindah. Meski hal itu sudah berlalu 10 tahun yang lalu. Berteman tanpa berkenalan terlebih dulu karena rumah kita bersebrangan, itu hal yang wajar.
05/2010
Pada saat itu, aku hanyalah gadis kecil biasa yang ingin memiliki seorang teman. Lalu kamu datang kehidupku, membawa beberapa kenalan.
"Tolong jaga Chia ya, dia setahun lebih muda dari kamu." kata Ibuku dengan lembut pada Anak lelaki yang ceremot itu.
Wajahnya penuh dengan peluh keringat seperti anak-anak pada umumnya. Dengan kaos bergambar robot favoritnya, yang juga kebesaran. Poni di dahinya yang terurai panjang bahkan hampir menutupi kedua matanya. Serta deretan gigi susu yang rapi itu terlihat saat sosoknya menarik senyuman.
"Siap!" begitu menjawab, dia menarik lenganku dan kamipun berlari. Lebih tepatnya, dia yang mengajakku pergi. Aku ikut berlari saat itu, menoleh kebelakang untuk menatap Ibu yang memberikan lambaian tangan pada anak perempuannya.
Itu pertemuan pertama kita.
Tanpa aku sadari, bahwa kita akan mengenang hal itu untuk terjadi lagi, Atau mungkin tidak?
07/2016
"Apa maksud surat ini, Chi?" sekali lagi, pertanyaan itu keluar dari mulut seseorang yang lebih tinggi. "Jadi, kamu suka sama aku, Chi?" lagi, telingaku terasa berdenging. Beberapa pertanyaan demi pertanyaan yang keluar rasanya semakin teredam diluar kepala.
Aku berusaha untuk menatap wajah itu, melihat ekspresi yang meminta penjelasan. Mata itu seakan berbicara padaku, bahkan tanpa suarapun aku bisa mendengarnya.
"Aku..." lidahku kelu, setelah merasakan atmosfer yang terjadi pada kita saat ini. Terdengar tarikan nafas yang berat dari lawan bicara. Kami berdua hening untuk beberapa detik.
"HUUU.. Chia nakal! Suka sama teman sendiri!" entah muncul dari mana, suara itu kemudian memenuhi keheningan diantara kita. "Parah! Huu...!" yang lain ikut menimpali. Mungkin empat orang atau lebih yang datang.
Aku malu, merasa diinjak-injak. Hatiku teriris, jantungku semakin berdebar kencang, aku bahkan malu untuk menunjukkan wajahku dihadapan mereka semua. Mataku berkaca-kaca, air mataku jatuh begitu saja. Ini benar-benar memalukan. Ini mimpi buruk yang aku mimpikan selama ini.
Ketika aku menatapnya, yang kulihat hanya wajah datar itu, tanpa emosi sama sekali. Bahkan sampai saat ini, aku tidak mengerti arti dari tatapannya itu.
Apakah perasaanku padamu adalah sebuah kesalahan? Tidak bisakah kau menjawabnya, walau hanya penolakkan yang akan kudapat?
Kita waktu itu by. roseline