Hujan turun pelan sore itu, seperti tahu bahwa seseorang sedang berusaha kuat di dalam diam. Di bangku kayu depan rumah, aku duduk sambil memutar jam tangan tua di pergelangan tangan. Jam itu sudah lama berhenti berdetak, tapi entah kenapa aku tak pernah benar-benar ingin memperbaikinya.
Katanya, waktu menyembuhkan segalanya.
Nyatanya, waktu hanya mengajarkan cara berpura-pura baik-baik saja.
Aku sering berharap bisa kembali ke hari itu—hari ketika tawa masih terasa ringan dan maaf belum terlambat diucapkan. Tapi waktu tidak pernah berjalan mundur. Ia hanya pergi, meninggalkan kenangan sebagai sisa yang harus kita peluk sendiri.
Setiap malam, aku belajar satu hal:
kehilangan bukan tentang melupakan,
tapi tentang menerima bahwa beberapa hal memang hanya datang untuk singgah.
Jam itu masih berhenti.
Dan aku akhirnya paham—
bukan waktunya yang rusak,
melainkan aku yang belum siap melangkah.