Bau tanah basah selalu punya cara yang aneh untuk menarik paksa memori dari sudut terdalam otakku. Setiap kali aroma petrikor itu menyeruak setelah hujan deras, aku tidak melihat genangan air atau langit mendung. Aku melihatmu, berdiri di sana dengan kaos lusuh yang basah kuyup, memegang botol plastik berisi berudu.
"Ayo, Jaka! Kalau kelamaan, mereka bisa mati!" teriakmu sore itu, dua puluh tahun yang lalu.
Kita adalah dua bocah yang yakin bahwa dunia hanya selebar lapangan bola di samping balai desa. Bagimu, persahabatan adalah tentang siapa yang paling berani memanjat pohon jambu Pak Haji Mansur, dan bagiku, persahabatan adalah tentang bagaimana kamu selalu memberikan bagian bawah es lilin yang paling manis untukku.
Waktu berlalu dengan cara yang tidak adil. Kita tumbuh, namun ke arah yang berbeda. Kamu dengan mimpimu mengejar cakrawala di ibu kota, dan aku yang tetap di sini, menjaga akar agar tidak tercerabut. Surat-surat berganti pesan singkat, pesan singkat berganti dengan tanda centang biru yang seringkali diabaikan karena kesibukan masing-masing.
Sore ini, hujan turun lagi di desa kita. Sangat deras, hingga suara air yang menghantam atap seng terdengar seperti tepuk tangan riuh. Saat hujan mereda, aroma tanah itu kembali hadir. Aku berdiri di depan teras, menghirupnya dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa tawa kita yang tertinggal di antara uap air.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan pagar yang mulai berkarat. Seseorang turun, tanpa payung, membiarkan sisa gerimis membasahi kemeja mahalnya. Ia menatapku, lalu menunjuk ke arah genangan air di bawah pohon akasia.
"Masih ada berudu di sana, Jaka?" tanyamu dengan suara yang lebih berat, tapi dengan binar mata yang tetap sama.
Aku tersenyum. Ternyata, meski dunia telah mengubah banyak hal, aroma tanah setelah hujan ini tetap membawa pulang hal yang paling berharga: tawa kita yang belum usai.