Suara piring pecah itu terdengar lagi malam ini.
Aku memejam pelan di atas tempat tidur sambil menarik selimut sampai ke dada. Jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam, tapi rumah ini belum juga tenang.
Atau mungkin… rumah ini memang tidak pernah benar-benar tenang.
“Kalau masakan kamu nggak becus, nggak usah sok capek!”
Suara Papa menggema sampai terdengar ke kamarku.
Aku diam.
Sebenarnya hal ini sudah biasa.
Dari kecil aku selalu mendengar nada tinggi itu. Kadang tentang uang. Kadang tentang rumah yang berantakan. Kadang tentang hal kecil yang bahkan tidak pantas diperdebatkan.
Dan Mama… selalu memilih diam.
Aku menatap langit-langit kamar dengan napas pelan.
Lucunya, orang-orang selalu bilang kalau keluargaku terlihat harmonis.
Papa bekerja dan gajinya lumayan.
Mama di rumah dan mengurus rumah.
Anak-anak sekolah dengan baik dan berprestasi.
Kelihatan lengkap kan?
Padahal kenyataannya, kami cuma pandai terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Aku bangkit perlahan ketika suara langkah kaki terdengar mendekati kamarku.
Itu bukan Papa.
Itu Mama....
Aku langsung membuka pintu sebelum beliau sempat membuka pintu kamarku.
Mama berdiri di sana sambil tersenyum kecil. Senyum yang terlalu dipaksakan untuk seseorang tapi Mama tersenyum dengan mata sembab.
“Belum tidur?” tanyanya dengan suara lembut.
Aku menggeleng.
Mama mengusap rambutku seperti biasanya. Hangat, dan pelan.
Dan entah kenapa… itu justru membuat dadaku terasa sesak.
Karena aku tahu, perempuan di depanku ini sedang lelah sekali.
“Mama nggak apa-apa?” tanyaku dengan hati-hati.
Mama tersenyum lagi. Selalu saja begitu.
“Iya.” jawab Mama
Dan jawaban itu bohong.
Aku tahu itu bohong sejak bertahun-tahun lalu.
Aku menggigit bibir bawahku pelan.
“Ma…”
“Hm?”
“Kenapa Mama masih bertahan?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibirku.
Mama terdiam.
Untuk beberapa detik, rumah ini terasa sunyi sekali. Bahkan suara televisi dari ruang tamu pun terdengar jauh.
Mama menatapku lama.
Lalu tersenyum kecil sambil mengusap pipiku.
“Karena Mama punya kalian.”
Jawaban yang indah keluar dari Mulut Mama.
Tapi anehnya… nada suaranya tidak terdengar seperti orang yang bahagia.
Setelah Mama kembali ke kamarnya, aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi pintu kamarku yang sudah tertutup.
Aku tidak mengerti tentang cinta.
Kalau mencintai seseorang apakah itu berarti harus sesakit itu? Kalau sesakit itu kenapa orang tetap ingin menikah?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku
Di luar kamar, suara pertengkaran itu terdengar lagi.
"Kamu itu selalu memanjakan anak-anak!"
Bahkan nada suara Papa yang meninggi terdengar sangat jelas.
Aku jadi teringat kejadian saat aku masih kecil.
Aku masih ingat hari itu dengan jelas.
Waktu itu umurku mungkin sekitar delapan tahun.
Waktu itu adalah hari pembagian rapor.
Aku pulang sekolah sambil berlari kecil membawa map biru muda yang dari tadi kupeluk erat. Nilai ulanganku bagus semua. Bahkan untuk pertama kalinya aku ranking satu di kelas.
Aku senang sekali.
Di sepanjang jalan pulang, aku membayangkan Papa bakal bangga.
Mungkin beliau akan tersenyum.
Atau mengusap kepalaku.
Atau bilang:
“Anak Papa hebat sekali.”
Sesederhana itu, tapi itu sangat berarti untukku.
Begitu sampai rumah, aku langsung mencari Papa.
Beliau sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran dan seperti biasa ada secangkir kopi di atas meja.
“Papa!”
Papa menurunkan korannya sedikit.
“Hm?”
Aku menyerahkan raporku dengan mata berbinar.
“Lihat! Nayla ranking satu!” ucapku dengan babgga
Papa mengambil rapor itu sebentar.
Aku menunggu. Jantungku deg-degan. Aku berharap Papa senyum dan bangga.
Papa membuka halaman nilai dengan wajah datar.
Lalu berkata: “nilai matematika kamu kenapa cuma sembilan puluh dua?”
Senyumku perlahan hilang.
“Hah?”
“Kalau lebih teliti harusnya bisa seratus.” kata Papa lalu memandangku tajam.
Aku terasa kecil sekali karena Papa tiba-tiba berkata seperti itu.
Aku menatap Papa bingung.
“Tapi… Nayla ranking satu, Pa.” ucapku
“Iya, tapi jangan cepat puas.” kata Papa. Kalimat itu terucap begitu saja tanpa berfikir bahwa aku sudah berusaha keras.
Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada kata bangga.
Papa mengembalikan raporku lalu melanjutkan membaca koran tanpa perduli lagi dengan nilaiku.
Selesai.
Sesederhana itu.
Padahal sejak pagi aku membayangkan banyak hal yang membahagiakan ketika aku berhasil meraih rangking satu.
Aku berdiri diam selama beberapa detik sampai Mama keluar dari dapur.
“Wahh, anak Mama ranking satu?” kata Mama dan mama langsung memelukku erat.
Dan entah kenapa… justru itu yang membuat mataku panas.
Karena aku sadar: reaksi yang kuharapkan dari Papa tidak pernah datang.
Mama mengusap rambutku sambil tersenyum bangga.
“Nayla hebat banget.” ucapnya
Aku mengangguk kecil sambil menahan air mata.
Papa yang mendengar itu malah berkata tanpa melihat ke arah kami, “Jangan dimanja. Nanti kalau sudah besar jadi gampang puas.”
Mama langsung diam.
Seperti biasa jika Papa sudah betbicara tidak ada seorangpun yang berani berbicara.
Aku menunduk menatap raporku sendiri.
Angka-angka yang tadi terasa membanggakan mendadak terlihat biasa saja.
Malam harinya, aku duduk di kamar sambil memandangi stiker bintang dari guruku.
Mama masuk membawa susu hangat.
“Masih sedih?” tanya Mama
Aku cepat-cepat menggeleng.
“Nggak.”
Sebenarnya aku bohong, aku ga mau Mama sedih.
Mama duduk di sampingku.
“Papa kamu memang keras…tapi hatinya baik kok.” kata Mama
Aku menunduk dan berkata dengan suara pelan, “Papa nggak bangga ya sama Nayla?”
Mama terlihat terdiam sebentar.
Lalu tersenyum kecil sambil memelukku.
“Papa bangga. Cuma… Papa nggak pandai menunjukkannya.” jawab Mama
Aku bersandar di pelukan Mama tanpa bicara.
Tapi malam itu, aku belajar satu hal, kadang orang yang paling kita ingin bahagiakan… justru orang yang paling sulit membuat kita merasa cukup.
Setelah beberapa saat Mama melepas pelukanku dan memintaku untuk tidur.
Lalu Mama keluar dari kamarku
Malam itu hujan turun dengan suara pelan.
Aku masih duduk di lantai kamar sambil membuka lagi raporku berkali-kali. Entah kenapa aku jadi ikut memperhatikan angka matematika itu.
"92"
Tadi siang rasanya nilai itu cukup bagus.
Sekarang rasanya sangat memalukan.
Aku mengambil penghapus lalu mulai mengerjakan ulang soal-soal matematika di buku latihanku, seolah kalau aku belajar lebih banyak malam ini, Papa akan berubah bangga besok pagi.
Tapi konsentrasiku buyar saat suara Papa terdengar dari ruang makan.
“Kamu terlalu manjain anak.”
Aku langsung diam.
Suara itu tidak terlalu keras… tapi cukup jelas terdengar dari kamarku.
Mama menjawab pelan, “Nayla udah berusaha, Pa.”
“Berusaha aja nggak cukup kalau hasilnya masih setengah-setengah.” ucap Papa dengan nada tinggi
Tanganku mengepal di atas buku.
Setengah-setengah katanya?
Aku ranking satu.
Aku bahkan belajar sampai malam agar nilaiku bagus.
Setiap hari Aku latihan keras mengerjakan soal matematika meski aku membenci pelajaran itu.
Dan Papa bilang seperti itu?
“Nanti dia pikir nilai segitu udah hebat.” suara Papa kembali terdengar.
“Tapi dia masih kecil…”
“Justru karena masih kecil harus dibiasakan disiplin!”
Suara kursi bergeser dengan kasar.
Aku menahan napas.
“Kalau sekarang aja matematika nggak bisa sempurna, nanti besarnya jadi apa?” ucap Papa
Kalimat itu terasa seperti batu besar yang jatuh tepat di dadaku.
Aku menggigit bibir kuat-kuat.
Entah kenapa mataku mulai panas.
Mama kembali bicara dengan suara yang lebih pelan, “Jangan ngomong begitu… nanti Nayla dengar.”
Papa menghela napas kesal.
“Ya memang kenyataannya begitu. Anak itu terlalu sensitif.”
Aku cepat-cepat menutup mulutku sendiri ketika air mata mulai jatuh.
Sensitif..
Ya aku memang sensitif...
Padahal aku cuma ingin dipuji sekali saja.
Cuma sekali.
Aku turun dari kursi kecilku lalu berjalan mendekati pintu kamar dengan pelan.
Dari celah pintu, aku bisa melihat Mama berdiri sambil menunduk, sedangkan Papa masih dengan wajah dinginnya.
Dan untuk pertama kalinya… hari itu aku merasa takut pulang membawa nilai yang tidak sempurna.
Aku mundur perlahan sebelum mereka sadar aku mendengar semuanya.
Lalu kembali duduk di lantai kamar.
Buku matematikaku masih terbuka.
Angka-angka itu mendadak terlihat menyeramkan di mataku.
Malam itu aku belajar sampai ketiduran di lantai.
Bukan karena ingin jadi pintar.
Tapi karena aku takut Papa kecewa lagi.