Gue ketemu Haris lagi di kafe yang sama tempat kita dulu pura-pura kerja lembur pas magang.
Dia duduk di pojok, rambutnya lebih pendek, tapi senyum tengilnya masih sama. Kaya nggak ada tiga tahun yang lewat di antara kita.
“Lo masih minum americano pahit?” katanya pas gue duduk di depan dia, tanpa aba-aba.
Gue diem.
Bukan karena nggak ada jawaban. Tapi karena kalau gue jawab, takutnya suara gue pecah duluan.
Tiga tahun lalu kita putus bukan karena benci.
Kita putus karena nggak pernah belajar bilang, “Gue takut kehilangan lo.”
Sekarang dia di depan gue lagi, bawa folder coklat yang sama kayak waktu magang dulu.
Di luarnya ada tulisan kecil pakai spidol hitam:H.R.V
Gue nggak berani nanya itu artinya apa.
Tapi gue takut jawabannya adalah hal yang gue nggak siap denger.
Dia dorong folder itu pelan-pelan ke arah gue.
“Ini punya lo. Ketinggalan di meja gue waktu hari terakhir magang.”
Gue nggak langsung ambil.
Jari gue berhenti dua senti di atas kertasnya, kayak kalau gue sentuh, semua yang gue kubur tiga tahun ini bakal kebuka lagi.
“Kenapa baru sekarang dikasih?” suara gue akhirnya keluar, pelan. Hampir kalah sama suara mesin kopi.
Haris nyengir, tapi nggak sampe ke matanya.
“Karena tiga tahun lalu gue nggak cukup berani buat nyari lo. Sekarang gue mikir, telat dikit nggak apa-apa. Asal nggak selamanya.”
Gue buka folder itu.
Di dalamnya bukan dokumen kerjaan.
Cuma satu lembar kertas.
Coretan tangan Haris, tanggalnya persis hari terakhir kita bareng:
Giana,
Kalau suatu hari lo baca ini, berarti gue udah nyerah buat pura-pura baik-baik aja.
*Flashback – 3 Tahun Lalu*
Ruangan magang itu panas, AC-nya rusak sejak minggu lalu.
Gue duduk paling pojok, pura-pura fokus ngedit presentasi biar nggak ketahuan kalau gue nggak bisa berhenti ngelirik ke sebelah.
Haris.
Anak IT yang katanya masuk cuma buat ngisi waktu kosong sebelum S2.
Tapi dia satu-satunya orang yang selalu nyimpen sticky note di laptop gue tiap gue ketiduran pas lembur.
“Jangan kebanyakan kopi. Nanti tangannya gemetar pas presentasi.“
Tulisan tangannya miring, buru-buru, kayak dia nulis itu sambil ngumpet dari Pak Dimas.
Gue nggak pernah bales sticky note itu.
Gue cuma nyimpen semuanya di laci meja, urut dan rapi.
Kayak bukti kecil kalau ada orang yang notice gue ada.
Malam terakhir magang, dia nunggu gue di pantry.
“Besok kita nggak ketemu lagi, kan?” katanya, setengah bercanda.
Gue cuma angguk.
Padahal dalam hati gue teriak, “jangan bikin gampang gini dong.“
Dia ketawa kecil. “Gue bakal kangen debat lo yang nggak pernah mau ngalah.”
Lalu dia nyodorin folder coklat itu.
“Buat arsip. Biar lo nggak lupa kita pernah kerja lembur sampe jam 11 malam.”
Gue ambil.
Dan gue nggak pernah buka isinya.
---
Balik ke sekarang, tangan gue masih gemetar megang kertas yang sama.
Tiga tahun telat.
Tapi mungkin, belum telat buat dengerin apa yang nggak pernah gue baca waktu itu.
Tangan gue berhenti di baris pertama.
Giana,
Kalau suatu hari lo baca ini, berarti gue udah nyerah buat pura-pura baik-baik aja.
Gue nggak ngerti kenapa dada gue sesak cuma baca satu kalimat.
Padahal Haris yang di depan gue sekarang keliatan biasa aja.
Nyeruput americano kayak nggak ada yang berubah.
Gue lanjut.
Gue tau lo benci adegan dramatis. Jadi gue nggak bakal bilang gue cinta lo.
Tapi gue juga nggak bisa pura-pura nggak inget cara lo ketawa pas gue ngejek presentasi lo yang kebanyakan bullet point.
Gue ketawa kecil. Pelan.
Dia inget.
Hari terakhir magang itu gue sengaja nunggu lo di pantry.
Bukan buat ngomong hal besar. Cuma pengen denger lo bilang “sampai jumpa” sekali aja.
Tapi lo cuma angguk.
Gue tutup mata sebentar.
Iya. Gue cuma angguk.
Karena kalau gue buka suara, gue takut nggak bisa berhenti.
Sekarang gue nggak minta lo balik.
Gue cuma pengen lo tau… gue nggak pernah bener-bener move on.
Dan kalau lo ngerasa hal yang sama, gue di sini.
Kalau nggak, gapapa. Ini surat terakhir gue.
Gue angkat kepala. Haris masih di situ.
Nggak maksa. Nggak nanya.
Cuma nunggu.
“Kenapa sekarang?” suara gue pecah.
Dia senyum kecil.
“Karena gue capek jadi orang yang paling jago letting go sendirian.”
END