Suasana rumah yang biasanya hangat kini terasa sepi dan penuh ketegangan. Ziva sedang menyapu lantai dengan gerakan yang pelan, sementara Rafiq duduk di kursi kayu, tangannya memegang Al-Qur'an yang sudah terbuka.
"Besok aku akan pergi ke acara penganugerahan gereja," ucap Ziva perlahan tanpa menoleh. "Mereka memberikan penghargaan untuk kerja sosial yang kami lakukan bersama komunitas."
Rafiq menghela nafas dalam-dalam. "Kau tahu kan, aku tidak nyaman kalau kau sering keluar untuk acara seperti itu. Ayah juga sudah banyak bilang tentang hal itu."
Ziva berhenti menyapu dan menoleh ke arahnya. Matanya merah karena menahan tangis. "Aku hanya mau membantu orang lain, Rafiq. Itu bukan masalah keyakinan kan? Baik agama kita maupun agama ku mengajarkan untuk baik kepada sesama."
Mereka sudah bersama dua tahun. Bertemu saat sedang mengurus acara bakti sosial di desa, dimana Rafiq dari kelompok masyarakat muslim dan Ziva dari komunitas kristen bekerja sama untuk membangun sumur bagi warga yang kesulitan air. Awalnya, perbedaan keyakinan bukanlah masalahโmereka saling menghormati dan belajar satu sama lain.
Namun seiring waktu, tekanan dari keluarga dan lingkungan mulai terasa. Keluarga Rafiq merasa bahwa hubungan mereka tidak akan pernah bisa serius karena berbeda agama, sementara keluarga Ziva juga khawatir bagaimana mereka akan menjalani kehidupan bersama nantinya.
"Aku mencintaimu, Ziva," ucap Rafiq dengan suara gemetar. "Tapi bagaimana kita akan menghadapi semua ini? Bagaimana kita akan mengajarkan anak-anak kelak tentang keyakinan? Bagaimana kita akan menjalani hari-hari dengan ritual yang berbeda?"
Ziva duduk di depan dia, menangis sambil menggenggam tangannya. "Aku juga mencintaimu, Rafiq. Aku sudah berusaha memahami agama mu, kamu juga sudah berusaha memahami agama ku. Tapi kenapa dunia ini tidak bisa menerima bahwa cinta bisa lebih besar dari perbedaan itu?"
Mereka berbicara hingga larut malam, mencari jalan keluar yang mungkin ada. Tapi akhirnya mereka menyadari bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghadapi semua tantangan yang akan datangโnot because they didn't love each other enough, tapi karena mereka juga mencintai keluarga dan komunitas masing-masing, serta menghargai keyakinan yang sudah menjadi bagian dari diri mereka sejak lahir.
Hari berikutnya, mereka bertemu di tempat pertama kali mereka bertemuโdi dekat sumur yang mereka bangun bersama.
"Aku akan selalu mendoakanmu, Rafiq," ucap Ziva sambil menyerahkan sebuah kalung kayu yang dia ukir sendiri. Di sana ada ukiran bulan dan bintangโsimbol yang dia tahu Rafiq hargai.
Rafiq memberikan sebuah buku catatan kepada Ziva. Di dalamnya penuh dengan catatan tentang kerja sosial yang bisa dia lakukan, beserta beberapa doa dalam bahasa Arab yang dia tulis dengan tangan sendiri. "Ini untukmu. Semoga selalu diberikan keberkahan dalam setiap langkahmu."
Mereka saling memeluk erat untuk yang terakhir kalinya. Tidak ada kata-kata lagi yang perlu diucapkan. Hanya doa dari hati yang berbeda, tapi sama-sama penuh cintaโdoa agar satu sama lain selalu bahagia, walau harus hidup dalam jalan yang berbeda.
Ketika mereka berpisah, matahari mulai terbenam di balik gunung. Cahaya terakhir menyinari sumur yang mereka bangun bersamaโsebuah bukti bahwa meskipun mereka harus berpisah karena perbedaan keyakinan, cinta mereka telah meninggalkan sesuatu yang baik dan abadi bagi banyak orang.
ย
Ini memang salah satu perpisahan yang paling sulit kan, karena bukan karena cinta hilang atau ada kesalahan, tapi karena ada hal-hal yang juga sangat penting dalam hidup kita...