Aku juga ingin dipahami bukan hanya didengar saat dunia sedang membutuhkan suaraku.
Aku ingin seseorang mengerti bahasa mataku yang diam-diam menyimpan badai, mengerti senyumku yang sering kali hanyalah cara paling sopan untuk menyembunyikan luka.
Sebab tidak semua tangis jatuh sebagai air mata, kadang ia bersembunyi di balik tawa yang terlalu dipaksa, di balik kata “aku baik-baik saja” yang diucapkan berulang kali.
Aku lelah menjadi tempat pulang bagi banyak orang, sementara aku sendiri tak pernah benar-benar punya rumah untuk menitipkan sesak.
Aku juga manusia punya hati yang bisa runtuh, punya pikiran yang kadang terlalu bising, punya malam-malam panjang yang kuhabiskan sendirian bersama nestapa.
Dan diamku bukan berarti aku kuat, mungkin aku hanya terlalu takut jika tak ada siapa pun yang benar-benar ingin mengerti.
Kadang aku berharap ada seseorang yang duduk di sampingku tanpa banyak tanya, lalu berkata, “Tak apa kalau kamu lelah. Tak apa kalau kamu hancur sebentar.”
Karena sesungguhnya, yang paling menyakitkan bukanlah luka itu sendiri, melainkan saat tak ada satu pun orang yang menyadari betapa kerasnya aku bertahan sampai hari ini.
Hanya Puisi Singkat🥀