Di antara semesta yang tenggelam oleh senja, aku berjalan membawa renjana yang tumbuh diam-diam di balik reruntuhan lara.
Namamu menjelma fatamorgana, terlihat dekat di pelupuk mata, namun lenyap saat hati mencoba menggenggamnya.
Rembulan menggantung pucat di cakrawala malam, menemani nestapa yang kutulis menjadi aksara-aksara sunyi.
Aku pernah percaya bahwa cinta mampu mengalahkan takdir, tetapi waktu mengajarkan bahwa beberapa pertemuan hanya diciptakan untuk menjadi kenangan.
Dan kini, di bawah langit yang kehilangan warna, aku belajar merelakanmu seperti laut merelakan senja tenggelam.
Indah, namun tak pernah bisa tinggal. Jika suatu hari kau kembali, biarkan aku tetap menjadi puisi yang pernah kau baca namun tak sempat kau pahami sepenuhnya.
Hanya Puisi Singkat🥀