Malam itu jalanan sepi. Lampu-lampu jalan berdiri setia menerangi aspal yang lengang. Hanya suara jangkrik dan sesekali motor lewat yang menemani suasana.
Di pinggir jalan itu, berdiri dua orang: Alvaro dan Salsa.
Alvaro, si cowok paling ganteng di genknya, berdiri dengan gaya cool-nya—jaket hitam, rambut sedikit berantakan, dan wajah yang bikin setengah cewek di sekolah auto klepek-klepek.
Sementara Salsa… berdiri di depannya seperti patung hidup.
Gadis yang baru saja 17 tahun sebulan lalu itu cuma menunduk, tangannya saling menggenggam, pipinya merah seperti habis lari maraton.
Padahal dia cuma berdiri.
Sudah satu jam lebih mereka di situ.
“Iya… jadi gitu, Sa,” kata Alvaro untuk ke sekian kalinya. “Aku suka kamu. Bukan cuma suka biasa… tapi serius Kamu mau gak jadi pacar aku?"
Diam.
Salsa masih diam.
Alvaro menghela napas panjang.
Ia menoleh ke kanan, ke kiri, lalu kembali ke Salsa.
“Kamu denger aku gak sih?”
Salsa pelan-pelan mengangguk.
“Kalau denger… jawab dong!”
"Kamu gak usah malu, jawab aja, di sini gak ada orang ,cuma kita berdua paling yang denger rumput"
"Aku tau kamu orang nya pemalu makanya kamu aku bawa ke tempat sepi biar gak ada yg denger. Dan di tempat sepi ini pun kamu malu Astaga Tuhan .."
…
Tetap diam.
Dalam hati Salsa:
YA AMPUN MAU BANGET AKU TERIAK IYA!!!
Tapi… kok mulutku kayak di-lem ya Tuhan…
Alvaro mulai mengacak rambutnya sendiri.
"Jawab dong sa.. Pertanyaan ku ini paling gampang loh, lebih mudah dari soal matematika, fiksika dan dan bahkan lebih mudah dari soal PPKn.
“Ini kita lagi nembak atau lomba tahan bicara sih?” gumamnya.
Salsa cuma makin nunduk.
.
“Sa… kamu suka aku gak?” tanya Alvaro lagi, kali ini sedikit memelas.
Salsa mengangguk kecil.
Alvaro langsung mendekat.
“Ngomong! Jangan pake kode Morse kepala!”
Salsa makin panik.
Tangannya sampai gemetar, panas dingin.
Alvaro menatap langit.
“Sumpah ya… ini pertama kalinya gue kalah sama cewek… bukan karena ditolak… tapi karena gak dijawab-jawab!”
"Atau kamu takut sama aku??
Kamu gak usah takut sa , seandainya kamu gak suka aku, dan gak mau jadi pacar aku, aku gak akan marahh, gak akan ninggalin kamu di sini.. "
Tetap diam
Satu jam lima belas menit.
Alvaro akhirnya menyerah.
“Oke. Udah. Gue capek.”
“Ayo pulang.”
Salsa langsung nurut, seperti robot yang di-reset.
Di atas motor, suasana masih sama… hening.
Alvaro menghela napas lagi.
“Ini cewek kalau jadi pacar, ngobrolnya pake subtitle kali ya…”
Salsa yang duduk di belakang cuma menahan senyum kecil.
Motor berhenti di depan rumah Salsa.
Salsa turun pelan.
“Makasih ya…” bisiknya lirih.
Itu kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malam itu.
Alvaro langsung melirik tajam.
“NAH! BISA NGOMONG KAN?!”
Salsa kaget, langsung salah tingkah.
Ia berjalan cepat ke arah teras.
Tapi tiba-tiba—
Alvaro menariknya.
Dan… memeluknya.
Salsa kaku… satu detik… dua detik…
Lalu perlahan… dia membalas pelukan itu.
Alvaro langsung terkekeh kecil.
“Nah… gitu dong. Dari tadi kayak patung museum…”
Salsa buru-buru mendorong tubuh tinggi Alvaro.
“Ih… panas tau…” katanya malu-malu.
Alvaro ketawa.
“Panas karena aku ya?”
Salsa langsung menutup wajahnya.
“Alvaaarooo…”
Mereka akhirnya duduk di teras rumah.
Angin malam berhembus pelan.
Alvaro menatap Salsa, kali ini lebih lembut.
“Oke… kita ulang ya.”
“Kamu… suka aku gak?”
Salsa menggigit bibir, lalu akhirnya berani menatap Alvaro.
“Iya… aku suka…”
Alvaro menyeringai.
“Cuma suka?”
Salsa menarik napas dalam.
“…cinta juga.”
Alvaro langsung berdiri.
“Wah gawat… gue gak kuat nih!”
“Kenapa?” tanya Salsa panik.
Alvaro langsung memeluknya lagi, lebih erat.
“Karena gemes banget sama kamu!”
Salsa cuma bisa pasrah, pipinya makin merah.
Dan tanpa banyak kata…
Alvaro menunduk, lalu mencium lembut bibir Salsa.
Salsa sempat kaget… tapi tidak menolak.
Malam itu… di teras sederhana, di bawah lampu kuning yang redup…
Mereka resmi pacaran.
Alvaro tersenyum puas.
“Tau gini dari tadi gue peluk aja ya, gak usah pidato satu jam.”
Salsa langsung mencubit lengannya.
“Ah! Sakit!”
“Biar kapok… kebanyakan ngomong.”
Alvaro ketawa.
“Ya gimana… pacar gue bisunya mode on.”
Salsa tersenyum malu.
“Tapi… aku gak bisu kok…”
“Buktinya?”
Salsa mendekat sedikit, lalu berbisik pelan di telinga Alvaro:
“Aku cinta kamu…”
Alvaro langsung diam… lalu senyum lebar.
“Oke… fix. Gue gak nyesel nunggu satu jam.”
Salsa tertawa kecil.
Dan malam itu… bukan cuma cinta yang akhirnya terucap…
Tapi juga jadi awal cerita kocak mereka—
si cowok paling ganteng…
dan si cewek paling susah ngomong kalau lagi deg-degan.
Sekian