Hujan turun tanpa henti di Desa Karangwuni selama tujuh hari terakhir. Jalanan becek, selokan meluap, dan kabut tipis terus menggantung di antara rumah-rumah tua. Namun warga tidak terlalu takut pada banjir. Mereka lebih takut pada sesuatu yang mulai muncul di desa itu, lingkaran.
Awalnya hanya hal kecil. Pak Ranu, tukang cukur dekat pasar, tiba-tiba terobsesi menggambar lingkaran di dinding tokonya. Berpuluh-puluh lingkaran memenuhi tembok sampai tak ada ruang tersisa. Ia mengatakan bentuk itu “sempurna”. Beberapa hari kemudian, Pak Ranu ditemukan meninggal di kursinya dengan tubuh melilit aneh seperti ular.
Nadia, siswi SMA yang tinggal di desa itu, mulai merasa ada yang salah ketika adiknya sendiri terus menggambar spiral di lantai rumah menggunakan kapur. Semakin lama, gambar itu semakin besar. Bahkan saat tidur, adiknya menggerakkan jari di kasur seolah sedang membuat lingkaran tak terlihat.
“Jangan dihapus,” bisik adiknya suatu malam. “Nanti dia marah.”
“Siapa?” tanya Nadia pelan.
Adiknya menoleh perlahan. Matanya merah dan cekung. “Yang tinggal di bawah desa.”
Sejak malam itu, suara aneh mulai terdengar dari sumur belakang rumah. Suara seperti orang berbisik bercampur gemuruh air. Ayah Nadia mencoba menutup sumur itu dengan papan kayu, tetapi keesokan paginya papan tersebut berubah bentuk menjadi spiral besar seperti dipelintir dari dalam.
Warga desa mulai kehilangan akal sehat. Seorang ibu memotong rambut putrinya karena rambut itu terus melingkar sendiri saat malam hari. Seorang nelayan ditemukan di pantai dengan tulang belakang yang berputar seperti cangkang siput. Bau amis memenuhi udara desa, bercampur aroma tanah basah dan bangkai.
Suatu malam listrik padam total. Dalam gelap, Nadia melihat sesuatu bergerak di luar jendela. Sosok manusia, tetapi tubuhnya terlipat membentuk lingkaran sempurna. Tulangnya patah ke segala arah sambil menghasilkan bunyi retakan pelan. Sosok itu merangkak mendekati rumah.
Nadia mundur ketakutan. Namun saat melihat lantai rumah, napasnya berhenti.
Di bawah kakinya muncul garis spiral hitam yang bergerak sendiri.
Garis itu berputar semakin cepat.
Lantai kayu mulai melengkung.
Dinding rumah bergetar.
Dari dalam sumur terdengar suara ratusan orang berbisik bersamaan.
“Masuklah ke lingkaran.”
Adiknya tertawa keras sambil berjalan menuju sumur. Tubuhnya perlahan memutar tidak wajar, tulangnya berbunyi patah satu per satu. Nadia mencoba menariknya, tetapi tangan adiknya terasa lembek seperti tubuh tanpa tulang.
Lalu sesuatu muncul dari dalam sumur.
Bukan manusia.
Bukan hewan.
Melainkan pusaran daging raksasa penuh mata yang berputar tanpa henti. Mata-mata itu menatap Nadia satu per satu sambil berbisik dengan suara basah.
“Semua akan kembali melingkar.”
Keesokan harinya, Desa Karangwuni kosong total.
Rumah-rumah berdiri sunyi tanpa penghuni.
Namun dari langit, bentuk desa itu terlihat aneh.
Seluruh jalan, sawah, dan rumah telah berubah membentuk spiral raksasa.
Beberapa minggu kemudian, tim pencari dari kota datang untuk menyelidiki hilangnya seluruh warga Desa Karangwuni. Mereka menemukan desa itu kosong dan membusuk, seolah sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Tidak ada mayat. Tidak ada tanda perlawanan. Hanya simbol spiral di setiap dinding, pohon, dan lantai rumah.
Salah satu petugas memeriksa sumur tua di belakang rumah Nadia. Saat menyorotkan senter ke dalam, ia melihat sesuatu bergerak jauh di dasar sumur.
Itu wajah Nadia.
Matanya terbuka lebar sambil tersenyum kaku.
Namun wajah itu perlahan berputar.
Kulitnya melintir.
Tulang lehernya memutar hingga kepalanya membentuk spiral sempurna.
Lampu senter petugas berkedip panik. Dari dalam sumur terdengar ribuan suara berbisik bersamaan.
“Giliran kalian.”
Tiba-tiba tanah desa bergetar hebat.
Jalanan mulai melengkung seperti pusaran air.
Langit dipenuhi awan berbentuk lingkaran raksasa yang terus berputar perlahan.
Dan di tengah desa, sumur itu mulai terbuka lebih lebar.
Seolah sesuatu di bawah sana akhirnya bangun.