Langit sore di desa kecil itu berwarna jingga. Matahari perlahan tenggelam di balik sawah yang luas, meninggalkan cahaya hangat yang menyentuh wajah seorang gadis bernama Malini.
Setiap sore, Malini selalu duduk di teras rumah sambil menunggu ibunya pulang berjualan kue. Rumah mereka sederhana, berdinding kayu dengan atap yang mulai bocor di beberapa bagian. Namun, bagi Malini, rumah itu tetap tempat paling nyaman di dunia karena ada ibunya di sana.
“Ibu kok belum pulang ya?” tanya Malini pelan kepada dirinya sendiri.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore ketika suara motor tua terdengar dari depan rumah. Wajah Malini langsung berbinar.
“Ibuuu!”
Ia berlari kecil menghampiri perempuan yang baru turun dari motor dengan wajah lelah dan peluh memenuhi dahinya.
“Iya, Sayang. Kok belum belajar?” tanya ibunya sambil tersenyum lembut.
“Aku nungguin Ibu dulu.”
Ibunya terkekeh kecil lalu mengusap kepala Malini penuh sayang. Meski lelah, perempuan itu selalu berusaha tersenyum di depan anaknya.
Namanya Bu Mitha. Seorang ibu yang setiap hari bangun sebelum subuh untuk membuat kue titipan. Setelah itu, ia berkeliling desa menjual dagangannya demi membiayai sekolah Malini.
Sejak ayah Malini meninggal dua tahun lalu, Bu Mitha menjadi satu-satunya tempat bersandar.
Malini sering merasa sedih melihat ibunya bekerja tanpa henti. Kadang malam-malam ia mendengar batuk ibunya dari dapur. Kadang ia juga melihat tangan perempuan itu memerah karena terlalu lama terkena panas minyak.
Namun, Bu Mitha selalu berkata hal yang sama.
“Ibu gapapa, yang penting Malini bisa sekolah tinggi.”
Kalimat itu selalu membuat dada Malini sesak.
-----
Di sekolah, Malini dikenal sebagai murid pintar. Nilainya selalu bagus, tetapi tidak banyak yang tahu kalau ia sering belajar dengan lampu redup karena harus menghemat listrik.
Suatu hari, sekolah mengadakan lomba menulis cerpen tingkat kabupaten. Tema lomba itu adalah "Orang Paling Berharga dalam Hidupku".
Teman-temannya sibuk menulis tentang ayah, sahabat, atau keluarga mereka. Namun, Malini hanya memandang lembar kosong di depannya sambil teringat wajah ibunya.
Ia mulai menulis.
Tentang perempuan yang tak pernah mengeluh meski hidup begitu berat.
Tentang tangan kasar yang selalu mengusap kepalanya dengan penuh kasih.
Tentang senyum hangat yang selalu hadir meski dunia terasa kejam.
Dan tentang seorang ibu yang baginya lebih terang daripada matahari.
Malini memberi judul tulisannya:
“Ibu Matahariku.”
—–—–—
Hari pengumuman lomba akhirnya tiba.
Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah. Malini duduk diam sambil meremas jemarinya gugup.
“Juara pertama lomba cerpen tingkat kabupaten diraih oleh… Malini Pramudita Lestari Putri dari SMA Harapan Bangsa!”
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
Malini terdiam sesaat sebelum air matanya jatuh. Ia berjalan ke atas panggung dengan langkah gemetar.
“Sekarang, pemenang akan membacakan sedikit isi cerpennya,” ujar kepala sekolah.
Malini menarik napas panjang lalu mulai membaca.
“Ibuku bukan perempuan hebat yang dikenal banyak orang. Tangannya tidak selembut milik wanita kantoran. Wajahnya juga mulai dipenuhi garis lelah. Tapi bagiku, ibuku adalah matahari. Ia selalu bersinar, bahkan ketika dirinya sendiri hampir padam…”
Suasana aula mendadak hening.
Beberapa guru terlihat menyeka air mata.
Di pojok belakang aula, Bu Mitha berdiri sambil menutup mulutnya yang bergetar. Ia tidak menyangka anaknya menulis tentang dirinya.
Setelah acara selesai, Malini berlari memeluk ibunya erat.
“Terima kasih ya Bu… karena selalu kuat buat aku.”
Bu Mitha menangis sambil membalas pelukan putrinya.
“Harusnya Ibu yang berterima kasih… karena kamu jadi alasan Ibu bertahan sampai sekarang.”
Matahari sore kembali muncul di langit desa itu.
Hangat.
Tenang.
Persis seperti kasih seorang ibu yang tak pernah habis, bahkan ketika dunia terus berubah.
Dan bagi Malini, selama ibunya masih ada, hidupnya akan selalu memiliki cahaya.