Aku dulu pernah berpikir hidup itu akan jelas arahnya kalau kita sudah cukup besar.
Ternyata tidak.
Sekarang umurku hampir 18, tapi yang aku rasakan bukan “semakin tahu”, melainkan “semakin bingung tapi harus tetap jalan”.
Namaku Raka. Dan hidupku seperti hari yang diputar ulang dengan latar yang berbeda.
---
Pagi selalu dimulai dengan hal yang sama: suara alarm, wajah lelah di cermin, dan pikiran pertama yang bukan “hari ini mau apa”, tapi “hari ini harus kuat sampai kapan”.
Aku berangkat sekolah dengan motor pinjaman. Jalanan ramai, tapi rasanya aku tetap sendirian di tengah semuanya.
Orang-orang terlihat punya tujuan.
Aku hanya… bergerak.
---
Di kelas, aku duduk di bangku yang sama setiap hari.
Teman-temanku tertawa, membahas hal yang tidak selalu aku mengerti.
Kadang aku ikut tersenyum, bukan karena lucu, tapi karena itu cara paling aman untuk tidak ditanya “kenapa diam?”
Guru menjelaskan pelajaran, tapi pikiranku sering pergi ke tempat lain.
Ke rumah.
Ke hal-hal yang tidak pernah aku ceritakan.
Ke rasa capek yang tidak kelihatan di rapor.
---
Aku tidak pernah jadi juara.
Tidak pernah jadi kebanggaan besar.
Tidak pernah jadi “contoh”.
Aku hanya orang yang cukup untuk naik kelas, cukup untuk tidak gagal, cukup untuk tidak terlalu diperhatikan.
Dan ternyata… “cukup” itu juga melelahkan.
---
Suatu hari, aku pulang lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena ada kegiatan.
Tapi karena aku duduk lama di warung kecil dekat sekolah.
Bukan makan, hanya duduk.
Melihat orang lewat.
Melihat hidup orang lain berjalan cepat, sementara aku merasa seperti berhenti di tempat yang sama, tapi dunia tetap memaksa bergerak.
Seorang bapak di sebelahku menatap kosong ke jalan.
Kami tidak saling kenal.
Tapi entah kenapa dia berkata pelan,
“Capek ya, Nak… tapi ya tetap jalan.”
Aku tidak menjawab.
Tapi kalimat itu tinggal lama di kepalaku.
---
Di rumah, suasana tetap sama.
Ayah pulang, diam.
Ibu sibuk.
Tidak ada yang salah secara besar.
Tapi juga tidak ada yang terasa hangat.
Kami seperti satu rumah yang isinya orang-orang yang sama-sama lelah, tapi tidak tahu harus mulai dari mana untuk memperbaikinya.
Aku sering masuk kamar lebih cepat, bukan karena marah.
Tapi karena di sana, aku tidak harus berpura-pura kuat.
---
Malam itu aku duduk di lantai kamar.
HP di tangan, layar terang di ruangan gelap.
Aku scroll media sosial seperti biasa.
Orang-orang tertawa.
Orang-orang berhasil.
Orang-orang terlihat baik-baik saja.
Dan aku… merasa seperti sedang tertinggal di versi hidup yang tidak aku minta.
Aku sempat berhenti di satu postingan teman lama.
Foto kelulusan, senyum lebar, caption tentang masa depan.
Aku tersenyum kecil.
Bukan iri.
Tapi aneh.
Seperti melihat orang lain hidup di jalan yang sama, tapi aku tidak tahu kenapa aku tidak ada di jalur itu.
---
Aku membuka catatan di HP.
Menulis satu kalimat:
“Kenapa semua orang seperti tahu harus ke mana, sedangkan aku masih cari arah?”
Aku membaca ulang kalimat itu lama.
Lalu menghapusnya.
Bukan karena tidak benar.
Tapi karena tidak ada jawaban di dalamnya.
---
Beberapa hari kemudian, guru memanggilku setelah kelas.
Aku pikir aku salah apa lagi.
Ternyata tidak.
Dia hanya bilang,
“Kamu nggak harus selalu hebat. Tapi jangan hilang dari dirimu sendiri.”
Aku tidak langsung paham.
Tapi kalimat itu seperti menempel di kepala sampai malam.
---
Malamnya, aku berdiri di depan cermin.
Wajahku sama seperti biasa.
Tidak berubah.
Tapi aku merasa ada yang berbeda.
Bukan dunia.
Bukan orang lain.
Tapi cara aku melihat diriku sendiri.
Aku bertanya pelan,
“Kalau aku bukan yang terbaik… aku masih siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tapi untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tidak terasa seperti menyerangku.
Tapi seperti… memeluk pelan.
---
Hari-hari setelah itu tetap tidak berubah banyak.
Aku masih bangun pagi.
Masih sekolah.
Masih capek.
Masih bingung.
Tapi ada satu hal kecil yang berubah:
Aku berhenti menganggap diriku harus selalu “tahu semuanya”.
Dan entah kenapa… itu membuat langkahku sedikit lebih ringan.
---
Aku tidak tahu hidup akan jadi lebih mudah atau tidak.
Mungkin tetap berat.
Mungkin tetap biasa saja.
Tapi sekarang aku mengerti satu hal sederhana:
Tidak semua orang yang terlihat diam itu tidak berjuang.
Dan tidak semua yang tertinggal itu gagal.
Kadang… mereka hanya sedang bertahan dengan cara yang tidak terlihat siapa pun.
Termasuk aku.