Di media sosial, hidupku terlihat cukup rapi.
Aku punya foto senyum di feed, story tentang nongkrong, dan beberapa postingan yang terlihat “baik-baik saja”. Orang-orang sering bilang, “Hidup kamu enak ya, santai banget.”
Aku selalu menjawab, “Iya, biasa aja.”
Padahal tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di balik layar.
Nama aku Raka, 17 tahun. Dan kalau jujur, hidupku lebih sering tentang bertahan daripada benar-benar hidup.
---
Setiap pagi aku bangun bukan karena semangat, tapi karena alarm yang tidak bisa aku matikan tanpa merasa bersalah. Rumahku tidak buruk, tapi juga tidak hangat. Sunyi sudah jadi suara paling akrab di dalamnya.
Ayah jarang bicara. Ibu selalu sibuk memikirkan uang yang tidak pernah cukup.
Di meja makan, yang paling sering terdengar bukan obrolan, tapi suara sendok yang beradu dengan piring.
Kadang aku berpikir, mungkin di rumah ini, kami semua hanya “tinggal”, bukan “bersama”.
---
Di sekolah, aku bukan siapa-siapa.
Aku bukan yang pintar, bukan yang paling populer, bukan juga yang dibenci. Aku hanya… ada. Seperti bangku kosong yang kebetulan masih dipakai.
Teman-temanku tertawa tentang hal-hal yang aku tidak selalu paham. Mereka punya dunia sendiri, dan aku cuma penonton yang duduk di pinggir.
Pernah sekali aku mencoba ikut ngobrol.
“Lo nonton itu nggak?”
Aku jawab, “Belum.”
Dan percakapan langsung pindah ke orang lain.
Sejak itu aku belajar satu hal penting: kadang lebih aman jadi diam.
---
Yang paling aneh dari hidupku bukan kesedihan yang besar.
Tapi hal-hal kecil yang terus numpuk.
Seperti ketika aku sudah belajar keras, tapi nilai tetap biasa saja.
Seperti ketika aku sudah mencoba baik, tapi tetap dianggap tidak penting.
Seperti ketika aku ingin cerita, tapi tidak ada yang benar-benar mendengar sampai selesai.
Tidak ada yang menghancurkanku sekaligus.
Tapi semuanya pelan-pelan mengikis.
---
Suatu malam, aku duduk sendirian di kamar.
HP di tangan, layar penuh notifikasi dari dunia yang seolah terus bergerak tanpa aku.
Teman-teman upload foto jalan-jalan.
Orang lain posting pencapaian.
Seseorang pamer hadiah ulang tahun.
Dan aku?
Aku hanya scroll.
Scroll tanpa tujuan.
Scroll sampai terasa kosong.
Aku menatap layar gelap HP setelahnya, dan untuk pertama kali aku bertanya pada diriku sendiri:
“Kalau aku hilang dari semua ini… ada yang sadar nggak ya?”
Pertanyaan itu tidak langsung sakit.
Tapi setelah beberapa detik, rasanya seperti sesuatu duduk di dadaku terlalu lama.
---
Besoknya di sekolah, aku melihat seseorang menangis di toilet.
Bukan menangis keras.
Tapi diam.
Seperti orang yang sudah terlalu capek untuk bersuara.
Aku berdiri di luar pintu, ragu mau masuk atau tidak.
Lalu aku dengar dia bilang pelan:
“Aku capek pura-pura baik-baik aja.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa… aku merasa itu bukan cuma dia.
---
Pulang sekolah, aku berjalan kaki lebih lama dari biasanya.
Bukan karena tidak ada angkutan, tapi karena aku butuh waktu untuk tidak langsung pulang ke rumah yang sunyi.
Di tengah jalan, aku melihat seorang bapak jualan di pinggir jalan.
Hujan mulai turun pelan.
Orang-orang lewat tanpa berhenti.
Tapi bapak itu tetap duduk, menunggu.
Aku berhenti sebentar.
Bukan karena ingin membeli, tapi karena aku melihat matanya.
Bukan lelah biasa.
Tapi lelah yang sudah lama tidak punya harapan besar lagi.
Aku akhirnya membeli satu barang kecil yang bahkan tidak terlalu aku butuhkan.
Dia tersenyum singkat.
“Terima kasih ya, Nak.”
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa… aku benar-benar terlihat.
---
Malamnya, aku kembali ke kamar.
HP-ku berbunyi.
Notifikasi grup chat.
Tertawa, meme, rencana jalan.
Aku membaca semuanya tanpa ikut bicara.
Lalu aku mengetik sesuatu.
Menghapusnya.
Mengetik lagi.
Menghapus lagi.
Akhirnya aku hanya menulis satu kalimat:
“Kadang capek ya jadi orang biasa.”
Aku ragu sebelum menekan kirim.
Tapi aku kirim juga.
Tidak ada yang langsung membalas.
Aku sudah menduga itu.
Aku meletakkan HP.
Menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak pura-pura kuat.
---
Tiga menit kemudian, satu pesan masuk.
Dari seseorang yang jarang bicara di grup.
“Gue juga.”
Cuma itu.
Tidak panjang.
Tidak bijak.
Tapi cukup.
Aku menatap layar lama sekali.
Dan anehnya… dada yang tadi terasa berat, sedikit lebih ringan.
---
Aku tidak tahu hidup akan jadi lebih baik atau tidak setelah ini.
Aku juga tidak tahu apakah semua ini akan berubah.
Tapi malam itu aku belajar satu hal kecil:
Kadang hidup tidak harus dipahami dulu untuk bisa dijalani.
Dan kadang… yang paling pahit bukan karena kita sendirian.
Tapi karena kita pikir kita satu-satunya yang merasakannya.