Aku tidak pernah merasa dunia ini sepenuhnya milikku.
Bukan karena aku tidak punya tempat tinggal, bukan juga karena aku tidak punya teman. Tapi karena sejak kecil, aku selalu merasa seperti ada “lapisan lain” di atas hidupku—seolah dunia ini bisa berubah tanpa izin dariku, tanpa aku benar-benar menyadarinya.
Hal itu pertama kali aku sadari saat aku berumur 12 tahun.
Waktu itu aku sedang duduk di kelas, mendengarkan guru menjelaskan pelajaran seperti biasa. Semua normal—sampai aku melihat sesuatu yang aneh di papan tulis.
Tulisan kapur di sana bergerak sedikit, seperti hidup.
Aku mengedipkan mata, mengira itu hanya kelelahan.
Tapi kemudian, satu kalimat berubah sendiri.
Dari “Hukum Newton” menjadi:
“Kalau kamu sadar, jangan terlalu sering melihat ke sekitar.”
Aku langsung berdiri.
Semua teman menoleh padaku.
Guru berhenti bicara.
“Ada apa, Raka?” tanya guru itu.
Aku menatap papan tulis lagi.
Tulisan itu kembali normal.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada yang aneh.
Semua orang menganggap aku hanya mengantuk.
Tapi sejak hari itu, aku mulai memperhatikan dunia dengan cara yang berbeda.
---
Setiap malam, aku mulai melihat hal-hal kecil yang tidak masuk akal.
Jam di kamarku kadang berdetak lebih lambat saat aku sedih.
Hujan turun hanya di atas rumahku ketika aku marah.
Dan cermin… cermin sering menunjukkan ekspresi yang tidak aku buat.
Suatu malam, aku memberanikan diri bertanya pada cermin itu.
“Kalau kamu bukan aku… kamu siapa?”
Cermin itu tidak langsung menjawab.
Tapi perlahan, bayanganku di dalamnya tersenyum lebih dulu.
Lalu berkata:
“Kamu akhirnya bertanya juga.”
Aku mundur.
Cermin itu tidak meniru gerakanku.
Ia bergerak sendiri.
“Aku adalah bagian dari dunia yang kamu tidak perhatikan,” katanya. “Bagian yang ada karena kamu ada.”
Aku merasa dingin menjalar ke tubuhku.
“Apa maksudmu?”
Cermin itu menatapku lebih dalam.
“Dunia ini tidak benar-benar tetap. Ia mengikuti orang yang paling sadar di dalamnya.”
Aku tertawa kecil, tidak percaya.
“Jadi maksudmu… dunia ini berubah karena aku?”
Cermin itu mengangguk.
“Bukan berubah. Disesuaikan.”
---
Sejak malam itu, semuanya berubah.
Aku mulai mencoba hal-hal kecil untuk membuktikan omongan itu salah.
Aku berpikir keras bahwa esok hari akan cerah.
Dan benar—matahari bersinar tanpa satu awan pun.
Aku berpikir tentang sekolah yang kosong.
Dan keesokan harinya, separuh kelas tidak masuk tanpa alasan.
Aku mulai takut dengan pikiranku sendiri.
Karena setiap hal yang aku bayangkan… perlahan menjadi nyata.
Namun yang paling aneh terjadi pada hari hujan deras.
Aku duduk di kamar, menatap jendela, dan berpikir:
“Kalau dunia ini mengikuti aku… bagaimana kalau aku berhenti menginginkan apa pun?”
Saat itu juga, semua suara berhenti.
Tidak ada hujan.
Tidak ada angin.
Tidak ada kendaraan.
Bahkan detak jam pun hilang.
Aku membuka pintu rumah.
Dan untuk pertama kalinya…
dunia benar-benar diam.
Langit terlihat seperti lukisan kosong.
Orang-orang di jalan berdiri tidak bergerak, seperti patung yang lupa cara hidup.
Aku panik.
“Aku tidak bermaksud ini…” kataku pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya keheningan yang terlalu dalam.
---
Di tengah jalan yang membeku itu, aku melihat seseorang berdiri.
Dia terlihat seperti aku.
Tapi lebih tua.
Lebih tenang.
Dan… tidak bingung seperti aku.
“Akhirnya kamu melihatku,” katanya.
“Aku siapa?” tanyaku.
Dia tersenyum kecil.
“Kamu di masa depan… yang sudah pernah melakukan ini semua.”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak mungkin. Aku tidak pernah—”
Dia memotong ucapanku.
“Kamu selalu melakukannya. Setiap kali kamu sadar bahwa dunia mengikuti pikiranmu, kamu mencoba menghindarinya. Tapi itu justru yang membuat siklus ini berulang.”
Aku terdiam.
“Apa maksudmu siklus?”
Dia menatap langit yang berhenti bergerak.
“Setiap kali kamu panik dan ingin mengembalikan dunia seperti semula, dunia akan reset. Tapi kamu selalu menjadi satu-satunya yang ingat.”
Aku merasakan dadaku sesak.
“Jadi aku ini apa? Kesalahan?”
Dia menggeleng.
“Kamu bukan kesalahan. Kamu hanya terlalu sadar untuk dunia yang seharusnya otomatis.”
---
Angin mulai kembali sedikit.
Tapi tidak stabil.
Seperti dunia sedang ragu apakah harus berjalan lagi.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanyaku.
Dia menatapku lama.
“Berhenti mencoba mengendalikan semuanya.”
Aku tertawa pahit.
“Itu tidak mungkin.”
Dia melangkah mendekat.
“Kalau begitu, pilihannya hanya satu.”
“Apa?”
“Terima bahwa dunia ini bukan milikmu… atau jadilah satu-satunya yang benar-benar memilikinya.”
Hening.
Langit mulai retak seperti kaca tipis.
Orang-orang di jalan mulai bergerak sedikit demi sedikit.
Waktu kembali berjalan.
Tapi aku masih berdiri di tempat yang sama.
Dan versi diriku dari masa depan… mulai menghilang perlahan, seperti dihapus dari udara.
Sebelum dia benar-benar hilang, dia berkata:
“Kalau kamu memilih mengendalikan dunia, ingat satu hal…”
“Apa?”
“Kamu juga akan dikendalikan oleh dunia yang kamu ciptakan sendiri.”
Lalu dia hilang.
---
Sekarang aku berdiri di dunia yang kembali normal.
Orang-orang berjalan, berbicara, tertawa seperti tidak pernah ada yang aneh.
Tapi aku tahu satu hal.
Dunia ini masih mendengarkanku.
Masih menyesuaikan dirinya.
Dan aku tidak tahu apakah itu hadiah…
atau kutukan.
Yang aku tahu hanya satu:
Aku dan duniaku… tidak pernah benar-benar terpisah.