Angin malam di kawasan industri pesisir itu tidak pernah terasa segar; ia selalu membawa aroma karat, garam, dan sesuatu yang busuk seperti bangkai yang tertimbun semen. Di sana berdiri tujuh raksasa beton yang membisu sejak krisis ekonomi 1997 menghantam negeri ini. Kompleks pabrik tekstil "Adiwangsa" bukan sekadar tempat kosong; ia adalah sebuah kegagalan yang dipagari kawat berduri. Tujuh bangunan megah yang dulunya bising oleh mesin tenun, kini hanya menjadi sarang bagi keheningan yang menyesakkan. Banyak orang menyebutnya sebagai "Kota Mati Kecil", namun bagi Hardi, tempat ini hanyalah kantor tanpa atasan yang cerewet.
Hardi sudah tiga tahun menjaga tempat ini. Rambutnya sudah mulai memutih di pinggir, dan kulitnya sekeras kayu jati karena bertahun-tahun terpapar cuaca ekstrim. Setiap kali ia berkumpul di warung kopi luar gerbang sebelum masuk shift malam, orang-orang selalu memandangnya dengan tatapan antara ngeri dan kagum. Mereka bercerita tentang penampakan wanita tanpa wajah di lantai tiga bangunan utama, atau suara mesin yang tiba-tiba menderu di tengah malam padahal kabel listrik sudah dicabut sejak puluhan tahun lalu. Hardi hanya akan menyesap kopi hitamnya, tersenyum tipis, dan berkata dengan nada datar yang menjengkelkan, "Saya pernah tidur di sela nisan kuburan tua saat mudik, tidak ada apa-apa. Setan itu hanya ada bagi mereka yang punya rasa takut. Di pabrik ini, musuh terbesar saya cuma nyamuk dan kantuk."
Malam itu, bulan tampak pucat, tertutup kabut tipis yang merayap dari arah rawa. Hardi memulai patrolinya pukul sepuluh malam. Ia membawa senter besar, sebuah radio kecil yang hanya mengeluarkan suara statis, dan keberanian yang ia anggap sebagai perisai baja. Ia memasuki Bangunan Satu, tempat gudang bahan baku. Langkah kakinya menggema di ruangan seluas lapangan bola itu. Debu tebal menutupi lantai, namun anehnya, Hardi merasa lantai itu terlalu licin malam ini. Senter menyisir sudut-sudut gelap, hanya menemukan sarang laba-laba dan tumpukan palet kayu yang sudah lapuk. Hardi bersiul kecil, sebuah lagu lama yang nadanya meliuk-liuk di antara pilar beton. Tidak ada gangguan. Tidak ada suara rintihan. Kosong.
Ia beralih ke Bangunan Empat, yang berada tepat di tengah kompleks. Ini adalah jantung dari pabrik Adiwangsa, tempat mesin-mesin raksasa masih berbaris seperti barisan tentara mati. Di sinilah konon sering terjadi fenomena aneh. Hardi duduk di sebuah kursi besi karatan di sudut ruangan, mematikan senternya untuk menghemat baterai. Ia ingin membuktikan sekali lagi bahwa kegelapan hanyalah ketiadaan cahaya, bukan sarang iblis. Ia memejamkan mata dan tertidur. Dalam tidurnya, ia merasa suhu udara turun drastis hingga napasnya mengeluarkan uap. Namun, ketika ia terbangun satu jam kemudian, segalanya tetap sama. Tidak ada sosok yang berdiri di depannya. Tidak ada tangan dingin yang mencekik lehernya. Ia mendengus remeh. "Tiga tahun, dan kalian masih tetap pengecut," gumamnya pada kegelapan.
Namun, saat ia beranjak menuju Bangunan Tujuh—bangunan paling ujung yang berbatasan langsung dengan rawa—sesuatu mulai terasa berbeda. Senter Hardi menangkap jejak kaki di atas debu. Jejak itu kecil, seperti kaki anak-anak, namun anehnya jejak itu hanya memiliki empat jari. Jejak itu menuju ke arah ruang panel listrik di belakang gedung. Hardi mengikuti jejak itu tanpa rasa takut, hanya rasa penasaran yang dingin. Saat ia sampai di ruang panel, ia melihat pintu besinya terbuka sedikit. Padahal, ia sendiri yang menguncinya tadi sore. Ia mendorong pintu itu. Bunyi gesekan besi yang memekakkan telinga memecah kesunyian. Di dalam, tidak ada siapa-siapa. Hanya ada sebuah cermin tua yang retak di dinding.
Hardi mengarahkan senter ke cermin itu. Ia melihat bayangannya sendiri: pria tua dengan seragam biru kusam. Namun, saat ia berkedip, ia menyadari sesuatu yang membuat jantungnya yang biasanya setenang batu, mulai berdegup kencang. Di dalam cermin, di belakang bayangannya, berdiri enam orang pria berseragam satpam yang sama dengannya. Mereka berdiri kaku, wajah mereka pucat dengan mata yang dijahit menggunakan benang hitam kasar. Hardi segera menoleh ke belakang. Kosong. Ruangan itu kosong. Ia kembali menatap cermin. Keenam pria itu masih ada di sana, dan kini mereka mulai melangkah maju mendekati bayangan Hardi di dalam kaca.
Hardi tersenyum, meski sudut bibirnya sedikit bergetar. "Ilusi optik," bisiknya pada diri sendiri. Ia mematikan senter dan keluar dari Bangunan Tujuh dengan langkah santai. Ia tidak akan membiarkan pikirannya menang. Ia kembali ke pos jaga di gerbang depan, menyeduh mi instan, dan mencoba membaca koran lama. Namun, saat ia hendak menyuapkan mi ke mulutnya, radio kecilnya yang tadi hanya mengeluarkan suara statis tiba-tiba bicara. Suaranya bukan suara penyiar radio, melainkan suara berat dan serak yang sangat dikenalnya. Itu suaranya sendiri.
"Hardi... kenapa kamu berbohong?" suara dari radio itu bertanya. Hardi membeku. Garpu plastik di tangannya patah. "Kamu bilang di kuburan tidak ada apa-apa. Kamu bilang di sini tidak ada apa-apa. Tapi kamu tahu, Hardi... kami tidak mengganggumu karena kami sedang menunggumu genap menjadi yang kedelapan."
Hardi membanting radio itu ke lantai hingga hancur. Ia berdiri, napasnya memburu. Ia melihat ke arah deretan tujuh bangunan pabrik di depannya. Tiba-tiba, lampu-lampu di dalam ketujuh bangunan itu menyala serentak. Bukan cahaya lampu listrik, melainkan cahaya biru pucat yang mengerikan. Dari jendela-jendela tinggi di setiap bangunan, ia melihat ratusan pasang mata menatap ke arah pos jaganya. Itu bukan hantu yang terbang atau monster yang menggeram. Itu adalah ribuan jiwa pekerja pabrik yang dulu tewas saat kerusuhan tahun 1997, terkunci di dalam beton, bekerja dalam keheningan yang abadi.
Mereka mulai keluar. Satu per satu, sosok-sosok kurus kering dengan pakaian compang-camping keluar dari pintu utama bangunan satu hingga tujuh. Mereka tidak berjalan ke arahnya, mereka hanya berdiri di depan gedung masing-masing, menghadap ke arah Hardi. Salah satu dari mereka, seorang pria tinggi tanpa lengan, melangkah maju. Ia adalah kepala satpam sebelum Hardi, yang dikabarkan menghilang secara misterius tiga tahun lalu tepat sebelum Hardi melamar kerja.
"Kau pikir kau berani karena tidak diganggu?" sosok itu bicara tanpa menggerakkan bibir. Suaranya bergema langsung di dalam tengkorak Hardi. "Kami tidak mengganggumu karena kau adalah penjaga gerbang kami. Tanpamu, kami akan tersesat di dunia luar. Tapi kontrakmu sudah habis, Hardi. Tiga tahun adalah waktu maksimal seorang manusia bisa menahan bau kematian di tempat ini tanpa kehilangan akal sehatnya."
Hardi mencoba berlari menuju gerbang luar, namun gerbang besi raksasa itu tiba-tiba mencair, berubah menjadi tembok daging yang berdenyut. Ia terjebak. Ia berbalik dan melihat tujuh bangunan itu kini mulai bergerak, seolah-olah bangunan-bangunan itu adalah raksasa yang sedang terbangun dari tidur panjang. Tembok-tembok betonnya retak, mengeluarkan cairan hitam kental yang berbau seperti darah busuk. Hardi jatuh terduduk. Ia mencoba meraba tanah, mencari sesuatu untuk pegangan, namun tangannya justru masuk ke dalam tanah yang berubah menjadi lunak seperti lumpur hisap.
Di bawah tanah yang ia pijak, ia bisa merasakan ribuan tangan mulai menarik kakinya. Hardi melihat ke bawah dan menyadari bahwa pabrik ini tidak dibangun di atas tanah biasa. Ia dibangun di atas kuburan massal yang tak pernah tercatat. Selama tiga tahun ia tidur di atas ribuan mulut yang kelaparan, dan kesombongannya telah menjadi bumbu yang paling lezat bagi mereka. "Aku tidak takut!" teriak Hardi, suaranya pecah menjadi tangisan. "Aku pernah tidur di kuburan dan tidak ada apa-apa!"
Suara tawa meledak dari segala arah—dari dalam bangunan, dari bawah tanah, dari langit yang kini berubah warna menjadi merah tua. "Itu karena saat di kuburan, kau adalah tamu," suara itu kembali terdengar. "Tapi di sini, kau adalah bagian dari inventaris."
Tiba-tiba, suasana menjadi sunyi senyap. Cahaya biru menghilang. Sosok-sosok itu lenyap. Hardi mendapati dirinya kembali duduk di kursi pos jaga. Senter masih menyala di meja. Mi instannya masih hangat. Ia mengusap wajahnya yang bersimbah keringat dingin. "Hanya mimpi buruk," desisnya lega. Ia melihat jam dinding, pukul tiga pagi. Hampir subuh. Ia merasa menang. Ia telah melewati malam paling mengerikan dalam hidupnya dan tetap waras.
Hardi berdiri, hendak mematikan lampu pos jaga untuk bersiap pulang. Namun, saat ia melihat ke arah cermin kecil yang biasa ia gunakan untuk merapikan seragam, ia tidak melihat wajahnya sendiri. Di dalam cermin itu, ia melihat ruangan pos jaga yang kosong. Ia melihat kursi yang ia duduki tadi, ia melihat mi instannya, tapi ia tidak melihat sosoknya sendiri di sana. Ia meraba wajahnya, namun tangannya tidak merasakan apa-apa kecuali udara hampa.
Ia menunduk melihat tubuhnya. Seragam birunya masih ada, namun ia bisa melihat lantai semen menembus perutnya. Ia telah menjadi transparan. Ia melihat ke arah luar, ke arah tujuh bangunan pabrik yang kembali membisu. Di depan Bangunan Delapan—bangunan yang baru saja muncul entah dari mana di samping Bangunan Tujuh—ia melihat seorang pria muda sedang berjalan membawa senter. Pria itu memakai seragam satpam yang baru, tampak gagah dan sombong.
Pria itu berjalan melewati pos jaga tempat Hardi berdiri. Hardi mencoba berteriak, mencoba memukul kaca, namun tidak ada suara yang keluar. Pria muda itu hanya berhenti sejenak, mengusap lehernya seolah merasa ada angin dingin yang lewat, lalu bergumam, "Katanya tempat ini angker, tapi aku sudah sebulan di sini kaga ada apa-apa. Dasar orang-orang penakut."
Hardi jatuh berlutut, menyadari kenyataan yang lebih mengerikan dari sekadar dihantui. Ia tidak diganggu selama tiga tahun bukan karena ia pemberani, tapi karena ia sedang diproses. Kini, ia adalah bagian dari keheningan itu. Ia adalah satpam kedelapan yang akan berdiri kaku di dalam cermin, menunggu penjaga baru berikutnya untuk kehilangan rasa takutnya, sampai tidak ada lagi yang tersisa selain debu dan kontrak abadi yang tak akan pernah selesai. Di kompleks Adiwangsa yang luas dan kosong, Hardi akhirnya mengerti: hal yang paling menakutkan dari sebuah tempat yang "tidak ada apa-apanya" adalah saat tempat itu memutuskan untuk menjadikanmu bagian dari ketiadaan tersebut.