Musuh Sebelah Meja
“Aku benci dia.”
Itulah ayat yang selalu keluar dari mulut Nayla setiap kali melihat Arkan.
Cowok itu menyebalkan. Sombong, dingin, dan selalu menang kalau debat di kelas. Lebih parah lagi, guru sering membandingkan Nayla dengannya.
“Nayla, coba belajar dari Arkan sedikit.”
Kalimat itu benar-benar membuat Nayla ingin meledak.
Suatu hari, wali kelas masuk sambil membawa setumpuk kertas.
“Minggu depan ada lomba karya tulis antar sekolah. Dan saya sudah memilih dua perwakilan.”
Nayla tersenyum percaya diri.
Pasti dirinya dipilih.
“Nayla… dan Arkan.”
Senyumnya langsung hilang.
“HAH?!”
Satu kelas tertawa.
“Pak, saya nggak mau satu tim sama dia!” protes Nayla.
Arkan yang duduk di dekat jendela hanya menatap datar.
“Tenang aja, Pak. Saya juga keberatan.”
“Kalau kalian terus ribut, saya ganti jadi petugas kebersihan sekolah selama sebulan.”
Mereka langsung diam.
Sejak hari itu, Nayla dan Arkan terpaksa sering bertemu di perpustakaan sepulang sekolah. Awalnya suasana benar-benar buruk.
“Kamu nulis apaan sih? Berantakan banget,” komentar Arkan.
“Daripada kamu yang ngomong kayak robot!”
“Setidaknya robot lebih teratur.”
Nayla mendelik kesal.
Namun lama-kelamaan, mereka mulai terbiasa.
Arkan ternyata tidak sedingin yang Nayla kira. Diam-diam cowok itu sering membelikan roti saat Nayla lupa makan. Bahkan dia selalu mengantar Nayla sampai halte kalau hari sudah malam.
Suatu malam hujan turun deras.
Perpustakaan sudah hampir kosong ketika listrik tiba-tiba mati.
“Eh?!”
Nayla refleks memegang lengan Arkan.
Cowok itu sedikit terdiam.
“Kamu takut gelap?”
“Siapa yang takut?! Aku cuma kaget!”
Petir menyambar keras.
Nayla langsung makin mendekat.
Arkan tertawa kecil untuk pertama kalinya.
“Kamu lucu juga ternyata.”
“Diam!”
Tak lama listrik menyala kembali. Nayla cepat-cepat melepaskan tangannya sambil menahan malu.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.
Mereka mulai saling mengirim pesan, bercanda saat jam pelajaran, bahkan duduk bersama di kantin.
Teman-teman mereka sampai curiga.
“Kalian pacaran ya?”
“NGGAK!” jawab mereka bersamaan.
Namun wajah keduanya sama-sama merah.
Hari lomba akhirnya tiba.
Setelah presentasi selesai, Nayla dan Arkan duduk di taman belakang aula sekolah sambil menunggu hasil.
“Aku nggak nyangka kita bisa akur,” kata Nayla pelan.
Arkan menatap langit sore.
“Aku juga.”
“Awalnya aku kira kamu nyebelin.”
“Aku memang nyebelin.”
Nayla tertawa kecil.
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Lalu Arkan membuka suara.
“Na…”
“Hm?”
“Aku kayaknya nggak mau jadi musuh kamu lagi.”
Jantung Nayla berdetak cepat.
“Terus… maunya jadi apa?”
Arkan menatapnya lama sebelum tersenyum tipis.
“Mungkin… jadi orang yang paling dekat sama kamu.”
Wajah Nayla langsung merah.
Dan untuk pertama kalinya, dia sadar…
Kadang orang yang paling kita benci, justru bisa jadi orang yang paling kita sayangi.